Menu

Mode Gelap
Patung Angsa Terbesar di Indonesia Jadi Ikon Bendungan Tamblang Pascapandemi, LPD Kedonganan Mantapkan Transformasi Tata kelola dan Kaderisasi “Pacingkreman”, Kearifan Lokal Bali yang Mendasari Pendirian LPD Rayakan HUT ke-38, SMA Paris Klungkung “Rises From Pandemic” Perjanjian Adat Sekala-Niskala Bisa Minimalisasi Kegagalan Kredit di LPD

BALI OPINI · 21 Des 2008 09:53 WITA ·

Ibu, Perawat dan Penjaga Kehidupan


					Ibu, Perawat dan Penjaga Kehidupan Perbesar

* Catatan Hari Ibu

Kasih ibu kepada beta/
tak terhingga sepanjang masa/
hanya memberi tak harap kembali/
bagai sang Surya menyinari dunia//

BERBAHAGIALAH mereka yang menjadi ibu. Lantaran kepada ibulah kehidupan ini berutang demikian besar. Karena ibu, kehidupan bisa terus mengalir. Ibu adalah perawat dan penjaga kehidupan.

****

“APAKAH yang mampu menghidupi dan membesarkan lebih mulia daripada bumi ini?” Begitu selarik tanya dari Yaksa yang gaib kepada Yudistira tatkala berada di tepian sebuah telaga. Putra Kunti itu tengah meratapi jazad saudara-saudaranya, Bima, Arjuna, Nakula dan Sahadewa yang meninggal setelah meminum air telaga. Yudistira memohon agar saudara-saudaranya bisa dihidupkan kembali lalu Yaksa mensyaratkan Yudistira mesti bisa menjawab pertanyaan-pertanyaannya.
“Ibu. Beliaulah yang melahirkan dan membesarkan anak-anaknya lebih mulia dan lebih menghidupi daripada bumi ini.” Begitu jawaban Yudistira yang ternyata dibenarkan Yaksa.
Percakapan antara Yudistira dan Yaksa ini kerap kali disodorkan ketika membincang kemuliaan ibu. Bahwa kemulian seorang ibu tiada bandingannya. Bahkan jika orang menyebut teramat mulianya bumi ini untuk merawat kehidupan, kemuliaan seorang ibu melampaui hal itu.
Seorang ibu memang sangat dekat dengan sifat tulus memelihara, ikhlas merawat, tegar menjaga serta tanpa pamrih melindungi. Seorang ibu akan merasa berdosa kepada anaknya jika tak mampu melaksanakan kewajiban mulianya itu.
Karena itu, bisa dipahami kemudian mengapa seorang Kunti dikejar-kejar perasaan berdosa sepanjang hidupnya karena telah membuang putra pertamanya, Karna. Kunti pun akhirnya menjalani “hukumannya” sepanjang hayat. Batinnya tersiksa, hatinya teriris-iris. Puncaknya, dia akhirnya harus kehilangan putra yang sejak lama dirindukannya itu. Tragisnya, Karna meninggal oleh anak panah adiknya sendiri, Arjuna. Mereka lahir dari rahim yang sama, rahim Kunti.
Bagi seorang anak, memiliki ibu adalah sebuah karunia sejati dalam hidup. Ibulah yang menjadikannya ada. Ibulah yang kemudian merawatnya dengan tulus hingga bisa menatap matahari dengan wajah tegak.
Maka, sepanjang hidupnya, seorang Karna yang agung senantiasa diusik kerinduan untuk bertemu ibu kandungnya. Kerinduan yang mewujud dalam mimpi-mimpi yang panjang. Perasaannya belum tenang jika belum mengetahui siapa ibu kandungnya.
Ada rasa dendam, memang, pada sang ibu yang telah menyia-nyiakannya ketika lahir. Namun, ketika mengetahui dan bertemu dengan Kunti, sang ibu kandung, toh akhirnya Karna tak bisa marah. Wajah ibu teramat menyejukkan, terlampau teduh. Betapa pun hati panas membara, di depan ibu, semuanya menjadi luluh.
Karenanya, berbahagialah mereka yang telah menjadi ibu. Seorang ibu tidak saja melahirkan anak-anak dari suaminya, tetapi lebih dari itu, seorang ibu telah menjadi sosok yang merawat dan menjaga kehidupan. Seorang ibu telah memaknai secara nyata bagaimana semestinya mencintai kehidupan ini dengan tulus dan bagaimana berkorban tanpa pamrih bagi kehidupan.
Sampai di sini bisa dipahami mengapa kemudian seorang perempuan lebih dihargai ketika melakoni tugas mulia sebagai seorang Ibu. Karena, menjadi ibu adalah puncak pencapaian dari perjalanan panjang seorang perempuan. Seperti halnya puncak pencapaian seorang laki-laki saat menjadi ayah. Lantaran, pada titik itulah kontribusi nyata bagi kehidupan. Selamat Hari Ibu!

http://feeds.feedburner.com/balisaja/pHqI
Artikel ini telah dibaca 17 kali

badge-check

Redaksi

Baca Lainnya

Ini Kegiatan Penutup Brata Siwaratri yang Sering Dilupakan

23 Januari 2020 - 12:42 WITA

Nyepi Segara, Ucap Syukur Atas Karunia Dewa Baruna

26 Oktober 2018 - 15:06 WITA

Ngusaba Nini, Krama Desa Pakraman Kusamba “Mapeed” Empat Hari

25 Oktober 2018 - 15:03 WITA

“Pamendeman” Ratu Bagus Tutup Puncak “Karya Mamungkah” Pura Puseh-Bale Agung Kusamba

4 April 2018 - 10:18 WITA

“Purnama Kadasa”, Petani Tista Buleleng “Nyepi Abian”

31 Maret 2018 - 14:39 WITA

Menjemput Anugerah Suci Saraswati dengan Sepi

16 Maret 2018 - 19:03 WITA

Trending di Bali Tradisi