Menu

Mode Gelap
Jadikan Semangat Perang Kusamba Inspirasi Menjaga Warisan Budaya Nyepi Segara Habis PKB, Terbitlah FSBJ: Merajut Kesinambungan Seni Tradisional dan Modern Fleksibel dan Adaptif, Arja Takkan Pernah Mati PKB 2025 Siap Menyala, Membawa Bali Bersinar “Masayut Tipat”, Sucikan Diri Songsong Era Baru

Bali Spiritual · 12 Mei 2014 21:59 WITA ·

Tradisi Unik di Pura Samuantiga: Ngambeng Pantang Diabaikan


					Tradisi Unik di Pura Samuantiga: Ngambeng Pantang Diabaikan Perbesar

Teks: I Ketut Jagra, Foto: www.balipost.com

Tiap kali menjelang karya pujawali (upacara peringatan hari jadi) di Pura Samuan Tiga, Desa Bedulu, Gianyar, anak-anak usia sekolah dasar (SD) di desa setempat memiliki kesibukan tersendiri. Mereka mendatangi rumah-rumah warga yang menjadi pengempon Pura Samuan Tiga, meminta bahan-bahan keperluan upakara untuk digunakan saat pujawali. Masyarakat Desa Bedulu menyebut ini sebagai tradisi ngambeng. Inilah media pembelajaran sejak dini kepada anak-anak Bedulu untuk ngayah(bekerja penuh keikhlasan tanpa bayaran) di pura. 

Ngambeng merupakan bagian dari penyambutan karya pujawali di Pura Samuan Tiga yang puncaknya jatuh pada Selasa (15/5) hari ini bertepatan dengan Purnama Jyestha atau dalam pemahaman masyarakat Bedulu, pada Purnamaning Kadasa. “Ngambeng dilaksanakan 15 hari sebelum karya dan berakhir delapan hari menjelang karya,” tutur Manggala Paruman Pura Samuantiga, I Wayan Patera. 

Umumnya, anak-anak yang ngambeng tidak pernah sampai dikoordinir. Dengan kesadaran sendiri, mereka akan berkumpul dengan teman-temannya melaksankan ngambeng. Begitu girang, tiada kurang senang. 

Warga yang rumahnya didatangi pun sudah maklum dan tidak pernah sampai tidak memberi. Ada keyakinan, kalau kedatangan anak-anak ini ditolak, bisa tidak menemukan kebahagiaan. Justru, bila disambut dengan baik dan diberikan sesuai apa yang dimiliki akan memberi berkah. 

Karena anak-anak ngambeng itu memiliki kelompok-kelompok sendiri, tidak jarang satu rumah warga didatangi lima kelompok anak ngambeng. Warga sendiri tiada pernah menolak. 

Seluruh bahan-bahan upakara yang diperoleh selama ngambeng, lanjut Patera, dipersembahkan ke Pura Samuantiga. Selanjutnya, sebagai imbalan, anak-anak itu pun mendapatkan seporsi nasi yang biasa disebut nasi paica. Panitia kerap menyediakan 800-1.000 tanding paica. Ini berarti pada hari itu ada 800-1000 orang anak yang ngambeng

Memasuki hari ke delapan menjelang pujawali, ngambeng pun dihentikan. Proses ngayah sekarang dilanjutkan oleh krama istri (warga perempuan) datang secara langsung ke pura ngaturang pamiletatau mempersembahkan bahan-bahan keperluan upakara. 

Ngambeng bertujuan untuk menjemput sarana upacara ke setiap rumah-rumah krama (warga). Selain itu, ngambeng juga memiliki tujuan memberitahukan kepada krama bahwa pujawali akan segera dilaksanakan di Pura Samuantiga. 

Secara filosifis, ngambeng bermakna proses belajar untuk mempertajam bakti dari anak-anak muda. Di sinilah terjadi regenerasi pemahaman bagaimana seyogyanya mereka sebagai kramauntuk ngayah.

“Kata ngambeng berasal dari akar kata ambengyang artinya mencari. Begitu juga ambengberarti mempertajam. Dalam konteks pujawaliini ngambeng bermakna mempertajam kesucian anak-anak,” kata Patera.

Kalau sudah duduk di kelas VI, anak-anak biasanya tidak lagi ngambeng. Mereka akan ngayah di perantenan (dapur), mempersiapkan konsumsi untuk pengayah.  (b.)
http://feeds.feedburner.com/balisaja/pHqI
Artikel ini telah dibaca 526 kali

badge-check

Redaksi

Baca Lainnya

Nyepi Segara, Ucap Syukur Atas Karunia Dewa Baruna

26 Oktober 2018 - 15:06 WITA

Ngusaba Nini, Krama Desa Pakraman Kusamba “Mapeed” Empat Hari

25 Oktober 2018 - 15:03 WITA

“Pamendeman” Ratu Bagus Tutup Puncak “Karya Mamungkah” Pura Puseh-Bale Agung Kusamba

4 April 2018 - 10:18 WITA

“Purnama Kadasa”, Petani Tista Buleleng “Nyepi Abian”

31 Maret 2018 - 14:39 WITA

Cerminan Rasa Cemas Bernama Ogoh-ogoh

14 Maret 2018 - 19:12 WITA

Rejang Renteng, Tarian Khas Nusa Penida yang Kini “Ngetrend” di Bali

6 Maret 2018 - 23:14 WITA

Trending di Bali Tradisi