Menu

Mode Gelap
Nyoman Weda Kusuma: Dari Tukang Sapu Pasar ke Guru Besar Usai Ngeroras, Desa Adat Kusamba Nuntun ke Goa Lawah dan Besakih Upacarai 223 Puspa, Ngeroras di Kusamba Dihadiri Ribuan Krama Benarkah Modal LPD dari Pemerintah? Upacarai 185 Sawa, 48 Patulangan Diarak Menuju Setra

Bali Tradisi · 10 Jan 2018 01:40 WITA ·

“Manyama Braya”: Kebahagiaan dalam Kebersamaan


					“Manyama Braya”: Kebahagiaan dalam Kebersamaan Perbesar

Setelah Sembilan tahun menjadi duty manager di Bulgari Hotel dan Ritz Carlton, I Made Sutanaya (34) memilih berhenti dan memutuskan mendirikan usaha sendiri. Alasan utama warga Banjar Adat Tengah, Desa Pecatu memang ingin berwirausaha mandiri. Namun, keputusan Sutanaya juga didorong oleh pertimbangan sosial yang kuat. “Di sini dapat bermasyarakat. Sebagai orang Bali, kita diikat oleh tempekan, oleh banjar,” kata Sutanaya.
Dulu, tutur Sutanaya, di Bulgari, dia masuk pagi pulang malam. Pagi meeting, siang meeting, jam 6 meeting lagi. “Sekarang dengan memiliki usaha sendiri, saya bisa berbinis, bermasyarakat juga dapat,” tutur Sutanaya.


Sutanaya bukan satu-satunya orang Bali yang karena pertimbangan ingin bisa bermasyarakat di dalam komunitas adatnya lantas memutuskan berhenti bekerja atau pindah kerja. Seorang warga Klungkung, Ketut Kartika (45) juga memutuskan pindah kerja dari Jimbaran ke Gianyar karena ingin lebih dekat dengan kampung halamannya sehingga tetap bisa manyama braya.
“Selama bekerja di Jimbaran, saya nyaris tak punya waktu untuk manyama braya. Padahal, sebagai orang Bali, kita tidak bisa lepas dari tradisi ini,” kata Kartika.
Mungkin banyak orang memandang keputusan Sutanaya dan Kartika sebagai hal yang aneh. Namun, keduanya mengaku jalan itu yang membuatnya bahagia.
“Kebahagiaan itu bukan hanya karena kita mampu mengumpulkan materi dari kerja keras kita, tapi juga sejauh mana kita sudah mengumpulkan karma baik di masyarakat dengan manyama braya,” tutur Kartika.
Jamak sekali, memang, orang Bali yang merasa berbahagia ketika berada dan diterima dalam komunitasnya. Tak jarang orang Bali lebih memilih bekerja di tempat yang memberi keleluasaan untuk mengatur waktu libur meskipun gajinya kecil, tinimbang bekerja pada perusahaan yang begitu ketat dalam memberikan waktu libur kendati pun pendapatannya menggiurkan. “Apang nyidang manyama braya, agar bisa bermasyarakat.” Begitu alasan yang kerap dikemukakan.

Keguyuban dalam komunitas, bagi orang Bali, seperti sebuah penawar kebahagiaan. Di tengah-tengah komunitas itulah orang Bali menikmati canda tawa, saling berinteraksi. Di tengah-tengah komunitas itu pula orang Bali merasa mendapat tempat, kehadirannya dirasakan bermanfaat. (b.) 

Teks dan Foto: Sujaya
Foto: Putu Kace Kedonganan
http://feeds.feedburner.com/balisaja/pHqI
Artikel ini telah dibaca 11 kali

badge-check

Redaksi

Baca Lainnya

Ini Kegiatan Penutup Brata Siwaratri yang Sering Dilupakan

23 Januari 2020 - 12:42 WITA

Nyepi Segara, Ucap Syukur Atas Karunia Dewa Baruna

26 Oktober 2018 - 15:06 WITA

Ngusaba Nini, Krama Desa Pakraman Kusamba “Mapeed” Empat Hari

25 Oktober 2018 - 15:03 WITA

“Pamendeman” Ratu Bagus Tutup Puncak “Karya Mamungkah” Pura Puseh-Bale Agung Kusamba

4 April 2018 - 10:18 WITA

“Purnama Kadasa”, Petani Tista Buleleng “Nyepi Abian”

31 Maret 2018 - 14:39 WITA

Menjemput Anugerah Suci Saraswati dengan Sepi

16 Maret 2018 - 19:03 WITA

Trending di Bali Tradisi