Menu

Mode Gelap
Pelajaran Bahasa Bali, Menggali Kuburan Kata-kata Nyoman Weda Kusuma: Dari Tukang Sapu Pasar ke Guru Besar Usai Ngeroras, Desa Adat Kusamba Nuntun ke Goa Lawah dan Besakih Upacarai 223 Puspa, Ngeroras di Kusamba Dihadiri Ribuan Krama Benarkah Modal LPD dari Pemerintah?

Bali Tradisi · 19 Nov 2013 07:01 WITA ·

Inilah Desa-desa di Bali yang Memiliki Hewan Suci


					Inilah Desa-desa di Bali yang Memiliki Hewan Suci Perbesar

Teks dan Foto: I Made Sujaya 
Sejumlah desa di Bali memiliki tradisi unik memuliakan hewan. Penduduknya menganggap binatang tertentu sebagai hewan suci, dan karenanya berpantang untuk menyakiti apalagi membunuhnya. Tradisi itu ada yang dikukuhkan dalam awig-awig (peraturan adat) ada juga yang hanya berupa kepercayaan turun-temurun.
Kerbau Suci di Tenganan

Kerbau suci Tenganan Pagringsingan
Jika Anda berjalan-jalan di wilayah Desa Adat Tenganan Pegringsingan, Karangasem, Anda tak cuma menjumpai rumah-rumah penduduknya yang tertata rapi sekaligus unik, juga kerbau yang bebas berkeliaran. Hewan mamalia ini begitu leluasa ngelincak di pekarangan desa.

“Kerbau memang digolongkan sebagai hewan suci di sini,” tutur tetua Desa Adat Tenganan Pegringsingan, I Nyoman Nuja.

Menurut keyakinan warga di desa ini, sudah ada yang ngangonang(menggembalakan) hewan-hewan suci ini. Karenanya warga tak boleh memeliharanya lagi, tak perlu mencarikannya makanan.  Warga pun tak berani mengusik ketenangan kerbau-kerbau itu. Kecuali bila masuk ke pekarangan rumah atau merusak pekarangan desa, warga jarang sekali menghalaunya.

Untuk menjamin tidak terusiknya kerbau-kerbau itu, desa adat juga memiliki awig-awig yang tiada memperkenankan warganya menggembalakan hewan-hewan piaraannya di pekarangan desa. Malah, dulu pernah juga ada aturan tidak boleh memelihara kambing. Semua larangan itu, tampaknya agar kerbau-kerbau suci itu tak sampai kehabisan makanan.
Lembu “Duwe” di Taro

Lembu putih Taro
Warga Desa Taro, Tegalalang, Gianyar juga amat menyucikan lembu putih. Hewan mamalia ini pantang mereka usik, tiada berani disakiti, apalagi dibunuh. Menurut keyakinan warga setempat, lembu putih merupakan duwe (kepunyaan) Ida Batara di Pura Agung Gunung Raung, sebuah pura kahyangan jagat yang terletak di Desa Adat Taro Kaja.

Lembu-lembu putih pun mendapat perlakuan istimewa di kalangan warga Taro. Selain tidak boleh diganggu, dijual, atau pun dikonsumsi, lembu-lembu tersebut juga mendapat sebutan unik. “Ida Bagus” untuk lembu jantan dan “Ida Ayu” untuk lembu betina.

Dulu, lembu putih dibiarkan berkeliaran di wilayah desa. Warga tiada berani mengusirnya kendati pun hewan ini masuk ke tegalan atau rumahnya. Pernah terjadi, ada warga yang berani mengusir atau berkata-kata kasar kepada lembu putih yang masuk ke tegalannya, kontan saja warga tersebut dikejar sang lembu. Tak cuma itu, warga itu pun jatuh sakit.

Kini, setelah berkembangnya Taro sebagai desa wisata gajah, lembu-lembu itu dikandangkan di tempat khusus. Jatah rumput yang dulu bebas dinikmati lembu putih, kini mesti dibagi dengan gajah. Namun, warga Taro masih mennyucikan lembu putih. Mereka juga tetap tak berani memelihara lembu putih ini. Bila sapi piaraannya melahirkan anak lembu putih, setelah usai menyusui lembu tersebut dihaturkan ke tempat pengandangan yang kini dikelola secara khusus itu. Lazimnya, penyerahan lembu putih ke kandang itu disertai menghaturkan banten pejati.
Bangau Anugerah di Petulugunung

Kokokan (bangau putih) Petulugunung 
Di Petulugunung, Gianyar, warga setempat dikenal amat menyayangi keberadaan burung-burung kokokan (bangau putih). Mereka tidak mengusik sama sekali kehidupan satwa yang kebanyakan berbulu putih lebat itu. Bahkan, warga setempat memiliki aturan tiada tertulis : tak boleh membunuh atau menyakiti kokokan. Bila ada yang melanggar dikenai denda Rp 10.000.

Bukanlah denda itu yang ditakuti. Namun, bagi warga Petulugunung, kokokan di desa mereka dianggap sebagai burung suci, sebagai anugerah.

Burung kokokan itu diyakini sebagai ancangan duwe Ida Bhatara sebagai anugerah karena ketulusikhlasan warga ngayah selama ngusaba desa dan ngusaba ninitahun 1965 silam. Belakangan memang Petulugunung menikmati rezeki pariwisata berkat kehadiran kokokan tersebut.

Sementara itu, desa-desa yang memiliki objek wisata hutan kera seperti Sangeh, Wenara Wana Ubud serta Alas Kedaton umumnya juga sangat mensucikan kera-kera yang menghuni hutan di desa setempat. Malah, saban hari Tumpek Kandang, kera-kera itu pun dibuat upacara khusus. Warga setempat menyebutnya sebagai otonan bojog (upacara hari lahir kera). (b.)
http://feeds.feedburner.com/balisaja/pHqI
Artikel ini telah dibaca 46 kali

badge-check

Redaksi

Baca Lainnya

Ini Kegiatan Penutup Brata Siwaratri yang Sering Dilupakan

23 Januari 2020 - 12:42 WITA

Ini Tiga Citra Utama Jalan Gajah Mada Denpasar dalam Karya Sastra

5 Januari 2020 - 02:18 WITA

Nyepi Segara, Ucap Syukur Atas Karunia Dewa Baruna

26 Oktober 2018 - 15:06 WITA

Ngusaba Nini, Krama Desa Pakraman Kusamba “Mapeed” Empat Hari

25 Oktober 2018 - 15:03 WITA

“Pamendeman” Ratu Bagus Tutup Puncak “Karya Mamungkah” Pura Puseh-Bale Agung Kusamba

4 April 2018 - 10:18 WITA

“Purnama Kadasa”, Petani Tista Buleleng “Nyepi Abian”

31 Maret 2018 - 14:39 WITA

Trending di Bali Tradisi