Menu

Mode Gelap
Integrasi Literasi dalam Pembelajaran dan Digital Kultur: Workshop Literasi-Numerasi SMPN 1 Selemadeg Timur Tunduk Pada Pararem, LPD Kedonganan Terapkan Laporan Keuangan Adat Bebantenan, Cara Manusia Bali Menjaga Alam Semesta SMAN 1 Ubud dan SMAN 2 Semarapura Juarai Lomba Bulan Bahasa Bali di UPMI Bali Bulan Bahasa Bali VI Jalan Terus, Tapi di Hari Coblosan “Prai” Sejenak

Bali Tradisi · 11 Agu 2013 22:07 WITA ·

Soma Ribek, Hari Pangan ala Bali?


					Soma Ribek, Hari Pangan ala Bali? Perbesar

Jika dunia memperingati hari pangan se-dunia saban 16 Oktober, manusia Bali juga memiliki peringatan hari pangan saban hari raya Soma Ribek. Hari raya Soma Ribek jatuh saban Soma (Senin) Pon wuku Sinta, dua hari setelah hari raya Saraswati. Kali ini, Soma Ribek dirayakan pada Senin, 12 Agustus 2013 hari ini.

Mengapa Soma Ribek diidentikkan sebagai hari pangan ala Bali? Menurut lontar Sundarigama –teks tradisional yang dijadikan salah satu rujukan hari-hari raya suci Hindu—Soma Ribek adalah hari pemujaan Sri Amerta (manifestasi Hyang Widhi Wasa yang memberikan kemakmuran berupa bahan makanan, seperti beras dan lainnya. Awam biasa menyebut Soma Ribek sebagai hari piodalan (peringatan kelahiran) beras sebagai sumber pangan utama.

Soma Ribek berkaitan erat dengan hari Saraswati dan merupakan rangkaiannya. Soma Ribek berasal dari kata soma dan ribek. Soma adalah hari Senin menurut tradisi Bali. Ribek bermakna penuh. Soma Ribek bermakna Senin yang penuh. Kata penuh dimaknai berkelimpahan atau sempurna. Secara filosofis, Soma Ribek dimaknai sebagai Senin yang penuh dan sempurna dengan kemakmuran dan kesejahteraan. Dasarnya, tiada lain ilmu pengetahuan.

Dalam tradisi Bali, beras merupakan simbol kesejahteraan dan kemakmuran. Itu sebabnya, saat Soma Ribek, manusia Bali akan menghaturkan sesaji di tempat-tempat yang memiliki kaitan erat dengan beras, seperti lumbung atau jineng (tempat penyimpanan padi) serta pulu (tempat penyimpanan beras). Sesaji yang dihaturkan lazimnya berupa banten khusus yang berisi nyanyah geti-geti, gringsing, raka-raka (buah-buahan), pisang emas, dan bunga-bunga harum.

Dalam masyarakat Bali, seperti lazimnya masyarakat di Nusantara, padi atau beras memang memiliki makna khusus. Buktinya, banyak daerah di Nusantara memiliki cerita rakyat tentang asal mula padi atau beras. Masyarakat Nusantara melihat padi atau beras sebagai simbol kemakmuran.

Pada hari Soma Ribek, orang Bali disadarkan tentang betapa pentingnya pangan dalam kehidupan ini. Tanpa pangan manusia tidak bisa hidup dan menjalani kehidupannya. Karenanya, manusia pantas berterima kasih dan mengucap syukur ke hadapan Sang Pencipta atas karunia pangan yang melimpah. (b.)

  • Laporan: Ketut Jagra
  • Foto: Ketut Jagra
  • Penyunting: I Made Sujaya
Artikel ini telah dibaca 307 kali

badge-check

Redaksi

Baca Lainnya

Ini Kegiatan Penutup Brata Siwaratri yang Sering Dilupakan

23 Januari 2020 - 12:42 WITA

Nyepi Segara, Ucap Syukur Atas Karunia Dewa Baruna

26 Oktober 2018 - 15:06 WITA

Ngusaba Nini, Krama Desa Pakraman Kusamba “Mapeed” Empat Hari

25 Oktober 2018 - 15:03 WITA

“Pamendeman” Ratu Bagus Tutup Puncak “Karya Mamungkah” Pura Puseh-Bale Agung Kusamba

4 April 2018 - 10:18 WITA

“Purnama Kadasa”, Petani Tista Buleleng “Nyepi Abian”

31 Maret 2018 - 14:39 WITA

Cerminan Rasa Cemas Bernama Ogoh-ogoh

14 Maret 2018 - 19:12 WITA

Trending di Bali Tradisi