Menu

Mode Gelap
Tumpek Landep: Mengasah Senjata Paling Tajam dalam Hidup Siapkan “BMW” untuk Siswa, SMA Paris Gelar Ujian Kepariwisataan Mategepan, Wimbakara Bulan Bahasa Bali ring SMA Paris Klungkung Isyarat Regenerasi dari Lomba Musikalisasi Puisi Bali Ketika Suara Remaja Membuat Juri Lagu Pop Bali Menangis di Ksirarnawa

Wali Bali · 12 Jan 2013 12:48 WITA ·

Hari “Soma Ribek” dan Kutukan Dewi Sri


					Hari “Soma Ribek” dan Kutukan Dewi Sri Perbesar

Kegalauan soal rendahnya ketahanan pangan Indonesia, termasuk Bali, terus menyeruak. Tingginya impor pangan tidak saja menunjukkan ketergantungan pada produk pangan asing, tetapi menelanjangi kebobrokan pengelolaan Negara yang justru kerap disebut paling subur di dunia ini. 

Dari perspektif tradisi Bali, inilah buah kutukan Dewi Sri karena ketidakpedulian pada anugerah melimpah Ibu Bumi. Peringatan mengenai kutukan Dewi Sri secara tersirat terselip dalam mitologi hari suci Soma Ribek yang diperingati manusia Bali saban Soma Pon wuku Sinta, Senin, 14 Januari 2013 besok. 

Awam kerap memaknai Soma Ribek hari penegdegan Batara Sri. Penulis buku-buku agama Hindu, Drs. IB Putu Sudarsana, MBA., M.M., dalam bukunya, Acara Agama menyatakan pada hari Soma Ribek Dewi Sri menganugerahkan amertha tri upa boga yaitu berupa amertha pangan kinum (boga), amertha berupa sandang (upa boga) dan amertha berupa pangan (pari boga) kepada semua makhluk di dunia, khususnya manusia agar bisa berkembang, mampu membangkitkan cipta, rasa, karsa dan karyanya di dunia sehingga adanya budaya.


Sudarsana kemudian menguraikan makna hari suci Soma Ribek. Hari Soma dengan dewanya Sang Hyang Wisnu, perwujudannya sebagai udaka (air) menjadi amertha pawitra. Hari Pon dengan dewanya Sang Hyang Mahadewa, sebagai perwujudan apah (merutha) menjadi amertha kundalini. Sementara wuku Sinta dengan dewanya Sang Hyang Yama sebagai perwujudan dari agni (api) menjadi amertha kundalini. Ketiga amertha itulah dibutuhkan oleh kehidupan semua makhluk di dunia, khususnya manusia. Disebutnya hari Soma Ribek sebagai hari penegdegan Batara Sri atau piodalan beras karena pelaksanaan upacaranya menggunakan beras. Beras merupakan simbol amertha


Dra. Ni Made Sri Arwati dalam buku Upacara Upakara Agama Hindu Berdasarkan Pawukon menjelaskan dalam hari Soma Ribek, umat Hindu akan melaksanakan upacara di lumbung (tempat penyimpanan padi) serta pulu (tempat penyimpanan beras). Sarana upakara-nya, nyanyah geti-geti, gringsing, raka-raka, pisang emas dan bunga-bunga yang harum. Yang menarik, pada hari suci Soma Ribek ada tradisi berpantang untuk menumbuk padi dan menjual beras. Bahkan, di beberapa tempat, selain menumbuk padi dan menjual beras, juga dipantangkan mengetam padi, menyosoh (nyelip) gabah, memetik buah-buahan atau sayuran, menjual hasil pertanian utamanya bahan pangan. Malah, ada juga yang berpantang memberi atau meminta bahan pangan kepada orang lain. 

Pantangan untuk menumbuk padi dan menjual beras ini tersurat dalam lontar Sundarigama. Yang melanggar pantangan itu dinyatakan akan dikutuk Ida Batara Sri. Ikang wwang tan wenang anambuk pari, ngadol beras, katemah denira Batara Sri. Yang mesti dilakukan oleh umat manusia saat hari suci Soma Ribek adalah memuja Sang Hyang Tripramana (Dewa penguasa tiga situasi dunia) yakni kenyataan, tanda-tanda dan falsafah agama (tatwa).


Jika ditelaah secara mendalam, hari suci Soma Ribek sebetulnya sebagai hari pangan gaya Bali. Pada hari itulah orang Bali disadarkan tentang betapa pentingnya pangan dalam kehidupan ini. Tanpa pangan manusia tidak bisa hidup dan menjalani kehidupannya. Karenanya, manusia pantas berterima kasih dan mengucap syukur ke hadapan Sang Pencipta atas karunia pangan yang melimpah. Adanya pantangan tidak menumbuk padi serta menjual beras saat Soma Ribek lebih sebagai bentuk sederhana dari penghormatan atas karunia pangan dari Sang Maha Ada. Pantangan semacam ini sama maknanya dengan pantangan menebang pohon saat hari Tumpek Pengatag. 

Menurut tradisi Bali, mensyukuri karunia Ibu Perthiwi tiada lain dengan menjaga dan merawatnya melalui menanam segala jenis tanaman sumber kehidupan. Dengan menanam, tidak saja memberi sumber kehidupan pada manusia, tetapi juga menyegarkan tanah karena membuat huma terus terpelihara. Tapi, Bali kini tidak saja enggan menanam, tetapi malah lebih sering menebang. Hutan-hutan di belahan Utara Bali dibabat. Tidak hanya banjir yang kemudian kerap terjadi, keamanan pangan Bali juga semakin terancam. Karena sawah-sawah Bali juga makin terdesak berbarengan dengan makin langkanya anak muda Bali yang mau bertani. Kutukan Dewi Sri pun menjelma nyata, kini. (b.)
__________________________________ 

Penulis: Ketut Jagra
Foto: I Made Sujaya 
Penyunting: I Made Sujaya
http://feeds.feedburner.com/balisaja/pHqI
Artikel ini telah dibaca 139 kali

badge-check

Redaksi

Baca Lainnya

“Ngerebeg” di Tegalalang: Menyucikan Desa dan Memohon Agar Pandemi Berakhir

20 Mei 2021 - 14:49 WITA

Pujawali di Pura Silayukti, Begini Dudonan Upacaranya

19 Mei 2021 - 01:27 WITA

“Mulih” dan Berbagi di Hari Galungan

19 Februari 2020 - 00:11 WITA

Ngatag Jukung, Tradisi Tumpek Wariga di Pantai Kusamba

25 Januari 2020 - 11:11 WITA

Ucap Syukur dengan Bubur di Hari Tumpek Bubuh

25 Januari 2020 - 09:27 WITA

Odalan Merajan: Reuni Keluarga ala Orang Bali

7 Januari 2020 - 00:17 WITA

Trending di Wali Bali