Menu

Mode Gelap
Pelajaran Bahasa Bali, Menggali Kuburan Kata-kata Nyoman Weda Kusuma: Dari Tukang Sapu Pasar ke Guru Besar Usai Ngeroras, Desa Adat Kusamba Nuntun ke Goa Lawah dan Besakih Upacarai 223 Puspa, Ngeroras di Kusamba Dihadiri Ribuan Krama Benarkah Modal LPD dari Pemerintah?

Bali Tradisi · 14 Jan 2018 01:35 WITA ·

Siwaratri, Bukan Sekadar Begadang Semalam Suntuk


					Siwaratri, Bukan Sekadar Begadang Semalam Suntuk Perbesar

Perayaan hari Siwaratri selalu identik dengan kegiatan begadang semalam suntuk. Untuk mengusir kantuk, umat Hindu biasanya mengisi perayaan Siwaratri ini dengan berkeliling bersembahyang ke berbagai pura penting semalaman. Namun, tak banyak yang memahami, perayaan Siwaratri bukan sekadar begadang semalam suntuk. Siwaratri sejatinya momentum pendakian spiritual yang lebih dari sekadar laku diri tidak tidur semalaman.
“Begadang semalam suntuk itu sebagai simbol saja untuk mengingatkan kita agar senantiasa terjaga, sadar dan ingat kepada jati diri,” kata dosen Agama Hindu IKIP PGRI Bali, IB Gde Bawa Adnyana.

Memang, diakui Bawa Adnayana, tidak mudah memahami makna hakiki perayaan Siwaratri. Namun, makna itu bisa ditelusuri dari teks-teks susastra yang mendasari tradisi perayaan Siwaratri. Dalam Siwaratrikalpa, salah satu teks penting yang dijadikan rujukan tradisi perayaan Siwaratri, disebutkan kata kunci tutur dan jagra.
Tutur, dalam kosa kata Jawa Kuno bermakna ‘ingat’. Makna ini diselaraskan dengan makna kata jagrayakni ‘sadar’. Logikanya, hanya orang yang sadar yang bisa ingat. Terlebih lagi ingat akan hakikat jati diri (yan matutur ikang atma ri jatinya).
“Ingat atau sadar itu makna penting perayaan Siwaratri,” kata Bawa Adnyana.
Manusia memang kerap menghadapi masalah dalam satu hal ini. Manusia diidentikkan sebagai makhluk sempurna, memang, tapi juga tidak sempurna. Salah satu ketidaksempurnaannya, yakni sering dan mudah lupa. Jangankan sesuatu yang sudah terjadi puluhan tahun silam, terhadap peristiwa yang dilalui beberapa saat lalu pun manusia kerap kali begitu susah untuk mengingatnya. Tidak hanya sering dan mudah lupa terhadap apa yang dilakukannya, manusia juga teramat sering lupa dengan kesejatian dirinya.
Manusia dipersepsikan berada dalam belenggu raga (obyek indra, nafsu), dinyatakan sebagai orang yang tidur (aturu atau tan atutur). Orang yang tidur adalah orang yang tidak sadar, lupa; tidak sadar atau lupa pada hakikat jati dirinya. Dia penuh dengan kegelapan hati, kehilangan kesadaran rohani. Orang yang tanpa kesadaran rohani disebut sawa. Sawa berarti ‘jazad’ yaitu simbol orang yang tidak memahami kenyataan sejati, orang yang mati. Hidup tanpa kendali kesadaran rohani dapat disamakan dengan orang dalam keadaan kesadaran sawa.
Untuk mengubah kesadaran sawa itulah, dilakukanlah pemujaan ke hadapan Siwa dengan tetap terjaga (tutur) dalam kesadaran pada hakikat jati diri. Karena Siwa adalah dewa pemaaf. Kata siwa dalam bahasa Sanskerta berarti ‘baik hati, pemaaf, membahagiakan dan memberi banyak harapan’.
Karena itu, perayaan Siwaratri hendaknya tidak semata diwarnai dengan laku diri begadang semalaman. Apalagi jika sekadar menjadikan perayaan Siwaratri sebagai alasan pembenar untuk bisa keluar malam berkeliling di jalanan. (b.)

Teks: Ketut Jagra
http://feeds.feedburner.com/balisaja/pHqI
Artikel ini telah dibaca 63 kali

badge-check

Redaksi

Baca Lainnya

Ini Kegiatan Penutup Brata Siwaratri yang Sering Dilupakan

23 Januari 2020 - 12:42 WITA

Nyepi Segara, Ucap Syukur Atas Karunia Dewa Baruna

26 Oktober 2018 - 15:06 WITA

Ngusaba Nini, Krama Desa Pakraman Kusamba “Mapeed” Empat Hari

25 Oktober 2018 - 15:03 WITA

“Pamendeman” Ratu Bagus Tutup Puncak “Karya Mamungkah” Pura Puseh-Bale Agung Kusamba

4 April 2018 - 10:18 WITA

“Purnama Kadasa”, Petani Tista Buleleng “Nyepi Abian”

31 Maret 2018 - 14:39 WITA

Menjemput Anugerah Suci Saraswati dengan Sepi

16 Maret 2018 - 19:03 WITA

Trending di Bali Tradisi