Menu

Mode Gelap
Menggali Tradisi, Merawat Harmoni: Diseminasi TA Prodi Pendidikan Sendratasik UPMI Tumpek Landep: Mengasah Senjata Paling Tajam dalam Hidup Siapkan “BMW” untuk Siswa, SMA Paris Gelar Ujian Kepariwisataan Mategepan, Wimbakara Bulan Bahasa Bali ring SMA Paris Klungkung Isyarat Regenerasi dari Lomba Musikalisasi Puisi Bali

Bali Jani · 18 Jun 2017 13:11 WITA ·

Bali Kaya Tinggalan Arkeologi Maritim


					Bali Kaya Tinggalan Arkeologi Maritim Perbesar

Bali sejatinya kaya dengan tinggalan arkeologi maritim. Namun, pelestarian berbagai situs bersejarah itu belum sesuai harapan. Salah satu situs penting yang memiliki nilai arkeologis di Bali, yakni Situs Tejakula di pesisir pantai utara Bali. Pesisir pantai utara Bali dulu merupakan jalur pelayaran bagi kapal-kapal dari berbagai wilayah lain di Nusantara bahkan dari luar negeri.
Keberadaan Situs Tejakula sebagai sumber arkeologi maritim diungkap tiga peneliti dari Balai Arkeologi Bali, Gendro Keling, Wayan Sumerata dan Ati Rati Hidayah saat berbicara dalam Diskusi Ilmiah Arkeologi di Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB), Pejeng, Gianyar Bali, Rabu (14/6).

Para pembicara seminar berpose bersama Kadis Kebudayaan Bali, Dewa Beratha. (balisaja.com/suwita utami)
“Situs Tejakula memiliki potensi sumberdaya arkeologi, khususnya bidang maritim yang sangat menarik. Terutama temuan gerabah masa prasejarah yang kondisi saat ini terendam di bawah permukaan air karena abrasi pantai yang parah,” kata Gendro Keling.
Gendro menyebut beberapa titik lokasi penelitian antara lain adalah Situs Pantai Bangsal di Dusun Geretek, dan Sepanjang Pantai Bondalem. Di lokasi ini ditemukan indikasi sebagai dermaga bagi kapal yang ingin bersandar.
Selain Situs Tejakula, potensi sumberdaya arkeologi kemaritiman yang menarik juga ada di Desa Tulamben, Karangasem. Gde Yadnya Tenaya, dari BPCB Bali menyampaikan tentang Pengelolaan Situs Kapal USAT Liberty sebagai objek wisata berbasis kearifan lokal di Desa Tulamben. Menurutnya kapal USAT Liberty yang karam tak hanya menjadi peninggalan arkeologi, kini menjadi salah satu objek Pariwisata Primadona di Karangasem.
Menurut Yadnya Tenaya, ruang kawasan situs Kapal USAT Liberty berkarakteristik wilayahpantai terdiri dari elemen daratan dan perairan. Situs Kapal USAT Liberty juga termasuk ruang dengan keluasan yang sangat memadai untuk dikembangkan sebagai daerah tujuan wisata. Dalam konteks kepariwisataan, daratan dimanfaatkan sebagai ruang fasilitas dan akomodasi antara lain hotel, villa, dan restoran, parkir, operasional diving, pengelolaan kepariwisataan, dan tentunya sebagai ruang pemukiman masyarakat lokal. Ruang perairan dimanfaatkan sebagai ruang atraksi dan transportasi kepariwisataan. Atraksi utama berlokasi pada titik bangkai kapal USAT Liberty, sedangan atraksi alternatif antara lain Coral Garden, The River, Drop Off, dan Emerald.
Indonesia kaya dengan tinggalan arkeologi maritim tetapi upaya pelestariannya belum memenuhi cita-cita dan  harapan,” kata Yadnya Tenaya.
Tinggalan arkeologi maritim, diibaratkan Yadnya Tenaya sebagai mutiara terpendam yang sesungguhnya berpotensi besar dilestarikan dan dimanfaatkan untuk meningkatkan taraf hidup dan kesejahteraan masyarakat. Realitas yang tengah terjadi dewasa ini, maraknya vandalisme demi keuntungan pribadi.
Dosen Arkeologi Fakultas Ilmu Budaya Unud, Rochtri A. Bawono mengungkapkan bentangan Bali Selatan merupakan lahan bentukan asal (geomorfologi) karst yang terbentuk atas sedimen karang dan proses pengangkatan. Lokasi ini merupakan habitat beraneka ragam terumbu sejak terbentuknya wilayah berjuta tahun lalu. Sejak dulu, terumbu karang merupakan sumberdaya yang sudah dimanfaatkan oleh masyarakat pesisir.
Untuk studi kasus, di wilayah Pesisir Sanur dan Pulau Serangan, menurut Rochtri, pengambilan terumbu karang telah dilakukan awal sejarah (protohistoris). Hal ini dikuktikan dengan adanya bangunan beberapa pura, seperti Pura Segara Sanur, Situs Blanjong, Pura Sakenan, Pura Susunan Wadon yang memanfaatkan karang sebagai material struktur.

“Eksploitasi terumbu karang di Pesisir Bali Selatan sudah terjadi sejak awal Masehi dan berlangsung hingga tahun 1990-an. Tingkat eksploitasi terbesar terjadi pada abad ke-16 hingga 17 Masehi. Terumbu karang dimanfaatkan untuk material bangunan baik sakral maupun profan,” jelasnya. (b.)
http://feeds.feedburner.com/balisaja/pHqI
Artikel ini telah dibaca 68 kali

badge-check

Redaksi

Baca Lainnya

Menggali Tradisi, Merawat Harmoni: Diseminasi TA Prodi Pendidikan Sendratasik UPMI

31 Mei 2026 - 10:51 WITA

Mategepan, Wimbakara Bulan Bahasa Bali ring SMA Paris Klungkung

27 Februari 2026 - 15:12 WITA

Isyarat Regenerasi dari Lomba Musikalisasi Puisi Bali

17 Februari 2026 - 22:31 WITA

Ketika Suara Remaja Membuat Juri Lagu Pop Bali Menangis di Ksirarnawa

16 Februari 2026 - 22:37 WITA

Janggal dan Tengal: Ketika AI Masuk ke Cerpen Bali

15 Februari 2026 - 21:45 WITA

Ketika Presiden Soroti Sampah Pantai Kuta, Jangan Lupakan Amanat UU Pengelolaan Pesisir

5 Februari 2026 - 06:02 WITA

Trending di Bali Jani