Menu

Mode Gelap
Pelajaran Bahasa Bali, Menggali Kuburan Kata-kata Nyoman Weda Kusuma: Dari Tukang Sapu Pasar ke Guru Besar Usai Ngeroras, Desa Adat Kusamba Nuntun ke Goa Lawah dan Besakih Upacarai 223 Puspa, Ngeroras di Kusamba Dihadiri Ribuan Krama Benarkah Modal LPD dari Pemerintah?

Bali Jani · 24 Nov 2015 22:34 WITA ·

Penerbit Buku Bali Belum Risaukan Buku Digital


					Penerbit Buku Bali Belum Risaukan Buku Digital Perbesar

Penerbit buku-buku agama Hindu dan budaya Bali masih belum terlalu merisaukan perkembangan buku digital atau buku elektronik (e-book). Meski banyak yang meramalkan buku cetak bakal tergusur buku digital, penerbit buku Bali masih optimistis karena menilai antara buku cetak dan buku digital memiliki pasar sendiri. 

Hal ini diungkapkan I Wayan Yasa, pemilik penerbit Paramita saat menjadi pembicara dalam seminar “Buku Cetak di Era Digitalisasi” yang diselenggarakan Badan Perpustakaan dan Arsip Daerah (Bapusipda) Provinsi Bali di wantilan UPT Taman Budaya, Denpasar, Selasa (24/11). Seminar yang dirangkaikan dengan penyerahan penghargaan Widya Pataka bagi 12 penulis dan pengarang Bali itu juga menampilkan pembicara Dewa Gde Windu Sancaya (Universitas Udayana) dan I Wayan Juniarta (wartawan The Jakarta Post). 

Para penerima penghargaan Widya Pataka 2015. (balisaja.com)
“Buku cetak memiliki keunggulan dan kelemahannya sendiri. Buku digital juga memiliki kelebihan dan kekurangannya sendiri. Masing-masing memiliki pasarnya sendiri,” kata Yasa.

Yasa masih optmistis, buku cetak masih diminati masyarakat, termasuk di Bali. Itu sebabnya, pihaknya belum mengembangkan bentuk buku digital. Pihaknya baru melakukan pemasaran buku cetak secara online.

Juniarta pun senada dengan Yasa. Kata Juniarta, meskipun buku digital semakin berkembang, kenyataannya pengiriman gawai pembaca buku digital (ereader) semacam kindle cenderung menurun. “Antara buku cetak dan buku digital tidak akan saling menghancurkan tetapi menjadi koeksistensi,” kata Juniarta. 

Juniarta berpandangan persoalan yang dihadapi Indonesia, termasuk Bali, bukanlah persaingan antara buku cetak dan buku digital, melainkan kebudayaan membaca orang Indonesia yang masih rendah. “Kalau dibilang daya beli rendah, kenyataannya orang Indonesia bisa membeli mobil terbaru dan gonta-ganti ponsel,” kata Juniarta.

Juniarta menengarai orang Indonesia memang lebih suka lisan dan bergosip. Itu sebabnya, Facebook laku di Indonesia. “Tantangan lainnya, tingkat kemampuan berkonsentrasi manusia kini tak lebih dari 8 detik,” kata Juniarta.

Kepala Badan Perpustakaan dan Arsip Daerah (Bapusipda) Provinsi Bali, Luh Putu Haryani meyakini buku cetak tetap akan bertahan meskipun penetrasi buku digital semakin meningkat. “Pengalaman yang didapatkan saat membaca buku cetak tidak bisa didapatkan saat membaca buku digital. Ini yang menyebabkan buku digital tidak bisa serta merta menggantikan buku cetak,” kata Haryani.
Namun, imbuh Haryani, pihaknya tidak lantas menutup diri dari perkembangan yang berkaitan dengan buku digital. Baginya, buku digital melengkapi keberadaan buku cetak. Karena itu, pihaknya di Bapusipda Bali sudah melakukan digitalisasi sejumlah koleksi yang ada di Bapusipda.
Digitalisasi, kata Haryani, kini sudah menjadi kebutuhan dan tuntutan bagi perpustakaan daerah. Menurut Haryani, digitalisasi juga sebagai langkah penyelamatan berbagai koleksi perpusda. 

Penghargaan Widya Pataka diberikan kepada 12 penulis, baik fiksi maupun nonfiksi. Jumlah ini lebih banyak dari tahun lalu yang hanya enam penulis. Untuk kategori fiksi berbahasa Bali, Widya Pataka diberikan kepada Ida Bagus Wayan Widiasa Keniten (Jro Lalung Ngutah), I Gusti Agung Wiyat S. Ardi (Bogolan) dan Ni Kadek Widiasih (Sang Kinasih). Kategori fiksi berbahasa Indonesia diberikan kepada Kadek Sonia Piscayanti (Perempuan Tanpa Nama) dan Putu Satria Kusuma (Cupak Tanah).

Pada kategori nonfiksi, Widya Pataka diberikan kepada I Gusti Putu Bagus Suka Arjawa (Budaya, Partai Politik, dan Masyarakat), Ida Agung Made Gayatri (Budaya Kanuragan Bali), I Nyoman Gde Suardana (Rupa Nir-Rupa Arsitektur Bali), I Gede Mahardika (Bioenergetika Hewan Tropika), I Dewa Gede Palguna (Ancaman Perang dari Ruang Angkasa: Telaah Yuridis Perspektif Hukum Internasional), Hardiman (Eksplo(ra)si Tubuh: Esai-esai Kuratorial Seni Rupa), dan I Gede Semadi Astra (Birokrasi Pemerintahan Bali Kuno Pada Abad XII—XIII: Sebuah Kajian Epigrafis).

(Baca: 12 Penulis Terima Widya Pataka 2015)

Haryani menjelaskan Widya Pataka diberikan sebagai apresiasi dan motivasi kepada para penulis Bali yang telah mengabdikan ilmu dan pengetahuan yang dimiliki kepada masyarakat melalui buku. Di sisi lain, penghargaan ini juga untuk menggairahkan industri penerbitan buku di Pulau Dewata.

Rabu (25/11) pagi ini, Bapusipda juga menggelar bedah buku “Widya Pataka” 2015. Ada empat buku yang dibedah, yakni Budaya Kanuragan Bali karya Gayatri Mantra oleh Sugi Lanus, Eksplo(ra)si Tubuh karya Hardiman oleh Kun Adnyana, Perempuan Tanpa Namakarya Sonia Piscayanti oleh Wayan Jengki Sunarta dan Bogolan karya Wiyat S. Ardi oleh Wayan Suardiana. (b.)
http://feeds.feedburner.com/balisaja/pHqI
Artikel ini telah dibaca 20 kali

badge-check

Redaksi

Baca Lainnya

Usai Ngeroras, Desa Adat Kusamba Nuntun ke Goa Lawah dan Besakih

4 September 2022 - 09:52 WITA

Upacarai 223 Puspa, Ngeroras di Kusamba Dihadiri Ribuan Krama

31 Agustus 2022 - 12:40 WITA

Upacarai 185 Sawa, 48 Patulangan Diarak Menuju Setra

19 Agustus 2022 - 08:50 WITA

Patung Angsa Terbesar di Indonesia Jadi Ikon Bendungan Tamblang

8 Agustus 2022 - 18:20 WITA

Pascapandemi, LPD Kedonganan Mantapkan Transformasi Tata kelola dan Kaderisasi

6 Agustus 2022 - 16:40 WITA

Perjanjian Adat Sekala-Niskala Bisa Minimalisasi Kegagalan Kredit di LPD

26 Juli 2022 - 17:19 WITA

Trending di Bali Jani