Menu

Mode Gelap
Bali United Optimistis Tatap Laga Lawan Visakha, Begini Prediksi Berbagai Media Fakta Menggelitik di Balik Indahnya Pesona Hutan Adat Demulih Menyusuri Keindahan Kawasan Suci Hutan Adat Desa Demulih “Nyaagang” di Klungkung, “Masuryak” di Tabanan: Tradisi Unik Hari Kuningan Walau tak Dibuka Presiden, PKB ke-44 (Mestinya) Tetap Keren

Wali Bali · 3 Mei 2015 22:55 WITA ·

Hari Soma Ribek, Begini Pantangannya Menurut Tradisi Bali


					Hari Soma Ribek, Begini Pantangannya Menurut Tradisi Bali Perbesar

Dua hari setelah hari Saraswati, tepatnya pada Soma Pon wuku Sinta, Senin (4/5) hari ini orang Bali merayakan hari Soma Ribek. Secara tradisional, hari Soma Ribek dimaknai sebagai ungkapan rasa syukur dan terima kasih kepada Tuhan atas karunia pangan yang melimpah, terutama padi. Yang menarik, saat hari Soma Ribek, masyarakat Bali memiliki tradisi berpantang menumbuk padi serta menjual padi dan beras. Mengapa? 

Pantangan menumbuk padi serta menjual padi dan beras ini tersurat dalam lontar Sundarigama yang secara tradisi selama ini menjadi rujukan pelaksanaan hari raya Hindu di Bali. Para petani Bali yang masih taat pada tradisi yang bersumber pada teks biasanya akan menghentikan segala kegiatan bertani di sawah saat hari Soma Ribek. Mereka berkonsentrasi memuja Sang Hyang Sri Amertha, manifestasi Tuhan sebagai pemberi anugerah kemakmuran, segala jenis pangan. 

Penyusun buku Rerahinan Hari Raya Umat Hindu, Wayan Budha Gautama menyebutkan ada tiga kegiatan utama yang dipantangkan saat hari Soma Ribek, yaitu mengetam padi dan memetik buah-buahan, menumbuk padi dan menyosoh gabah, serta menjual hasil pertanian termasuk tidak menjual beras. 

“Apabila hal-hal tersebut dilanggar, umat manusia akan dikutuk Batari Sri dan akan senantiasa mendapat kesulitan di bidang pangan,” tulis Budha Gautama. 

Pantangan menumbuk padi serta menjual padi dan beras merupakan cara manusia Bali menghormati serta memuliakan Batari Sri yang telah menganugerahkan pangan bagi umat manusia. Dalam tradisi Bali, cara yang lazim ditempuh untuk menghormati atau memuliakan dengan jalan brata (berpantang). Tengok saja brata atau pantangan membaca dan menulis saat hari Saraswati untuk memuliakan Sang Hyang Aji Saraswati yang memberikan anugerah ilmu pengetahuan kepada umat manusia. Begitu juga pantangan bertransaksi tunai atau sehari tanpa uang saat hari Buda Wage Kelawu untuk menghormati dan memuliakan Sri-Sadhana yang menganugerahkan kemakmuran berupa dana (uang). Bahkan, manusia Bali menandai pergantian tahun Saka dengan menghentikan segala aktivitas melalui catur brata penyepian dalam ritus Nyepi.

Dosen Institut Hindu Dharma Negeri (IHDN) Denpasar, I Made Wiradnyana menyatakan berbagai pantangan yang menyertai sebuah hari raya di Bali bertujuan untuk memberikan orang Bali kesempatan memfokuskan diri pada aktivitas spiritual guna mencapai makna hari raya itu. “Bagi orang Bali (Hindu), hari raya itu memang pendakian spiritual, bukan hura-hura. Itu sebabnya, banyak hari raya orang Bali diikuti dengan pantangan,” kata Wiradnyana. 

Mengenai kutukan Batari Sri apabila manusia melanggar pantangan, menurut Wiradnyana, merupakan wujud kontrol diri manusia Bali agar senantiasa ingat merawat sumber-sumber kemakmuran dalam hidup. Pangan, kata Wiradnyana, merupakan sumber terpenting dalam kehidupan. Ketika manusia tidak lagi hirau dengan keberadaan sawah dan sektor pertanian, tentu saja ketahanan pangan suatu masyarakat akan terganggu. “Itulah makna kutukan Batari Sri,” tegas Wiradnyana yang juga peneliti tradisi lisan Bali ini. 

(Baca: Hari Soma Ribek dan Kutukan Batari Sri)

Banten Soma Ribek

Perayaan hari Soma Ribek umumnya dilaksanakan dengan suatu ritual khusus di lumbung (tempat penyimpanan padi) atau pulu (tempat menyimpan beras di dapur). Kedua tempat ini diyakini sebagai linggih (stana) Sang Hyang Sri Amertha. 

Banten atau sesaji yang dipersembahkan saban hari Soma Ribek, di antaranya nyahnyah geti-geti, gringsing, raka-raka pisang emas dan canang lengawangi. Namun, ada juga yang melengkapi dengan sesaji canang raka yang dilengkapi tipat sari

Hari Pangan ala Bali

Budha Gautama menyebut Soma Ribek sebagai hari turunnya pangan ke dunia. Itu sebabnya, belakangan hari Soma Ribek diidentikkan sebagai hari pangan ala Bali

(Baca: Soma Ribek, Hari Pangan ala Bali)

Manusia sejagat biasanya memperingati hari pangan se-dunia tiap 16 Oktober yang ditetapkan dalam Konferensi Umum negara-negara anggota FAO (Food and Agriculture Organization atau Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-bangsa) pada November 1979. Namun, secara resmi perayaan hari pangan sedunia dimulai tahun 1981. 

Di Bali, hari pangan sudah dilakoni sejak berabad-abad silam. Jauh sebelum manusia sejagat menyadari pentingnya merawat sumber-sumber pangan bagi kehidupan. Selamat Hari Soma Ribek, Selamat Hari Pangan. (b.)
____________________________ 

Penulis: Ketut Jagra
Foto: I Made Sujaya 
Penyunting: I Made Sujaya

http://feeds.feedburner.com/balisaja/pHqI
Artikel ini telah dibaca 28 kali

badge-check

Redaksi

Baca Lainnya

“Ngerebeg” di Tegalalang: Menyucikan Desa dan Memohon Agar Pandemi Berakhir

20 Mei 2021 - 14:49 WITA

Pujawali di Pura Silayukti, Begini Dudonan Upacaranya

19 Mei 2021 - 01:27 WITA

Setelah Dua Kali Ngayeng, Pujawali di Pura Silayukti Kembali Nyejer Tiga Hari

17 Mei 2021 - 22:11 WITA

“Mulih” dan Berbagi di Hari Galungan

19 Februari 2020 - 00:11 WITA

Ngatag Jukung, Tradisi Tumpek Wariga di Pantai Kusamba

25 Januari 2020 - 11:11 WITA

Ucap Syukur dengan Bubur di Hari Tumpek Bubuh

25 Januari 2020 - 09:27 WITA

Trending di Wali Bali