Menu

Mode Gelap
Pelajaran Bahasa Bali, Menggali Kuburan Kata-kata Nyoman Weda Kusuma: Dari Tukang Sapu Pasar ke Guru Besar Usai Ngeroras, Desa Adat Kusamba Nuntun ke Goa Lawah dan Besakih Upacarai 223 Puspa, Ngeroras di Kusamba Dihadiri Ribuan Krama Benarkah Modal LPD dari Pemerintah?

Bali Jani · 5 Apr 2015 22:35 WITA ·

Jangan Sembarangan Gunakan Simbol Hindu dalam Pementasan Sastra


					Jangan Sembarangan Gunakan Simbol Hindu dalam Pementasan Sastra Perbesar

Sastrawan Cok Sawitri mengingatkan agar penggunaan simbol-simbol spiritual Hindu dan Bali dalam pementasan sastra perlu dipertimbangan dengan cermat dan matang. Jangan sampai penggunaan atribut-atribut spiritual itu tergelincir menjadi eksploitasi.

Cok Sawitri menyampaikan hal ini tatkala memberikan catatan terhadap penampilan para peserta lomba dramatisasi dan baca puisi dalam ajang Pekan Sastra 2015, Sabtu—Minggu (4-5/4) di Kampus Nias Denpasar. Cok Sawitri, bersama IGA Mas Triadnyani (dosen FSB Unud) dan I Made Sujaya (redaktur sastra dan budaya DenPost Minggu serta pengelola portal balisaja.com), menjadi juri dalam lomba yang digelar Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Sastra Indonesia, Fakultas Sastra dan Budaya, Universitas Udayana (Unud) itu.

(Baca: Hidupkan Lagi Seni Dramatisasi Puisi di Bali)

Sastrawan Bali
Cok Sawitri

“Eksplorasi dalam pementasan sastra tentu sah-sah saja. Tapi, penggunaan simbol-simbol spiritual itu harus dilandasi pemahaman yang benar tentang makna simbol-simbol itu. Kalau tidak, itu namanya eksploitasi dan saya harus mengingatkan,” kata perempuan kelahiran 1 September 1968 ini. 
Cok Sawitri menunjuk sejumlah simbol Hindu dan Bali yang digunakan peserta, seperti sanggah cucuk, lis, pasepan, serta tapel barong dan rangda. Semua simbol-simbol itu memiliki makna dan konteks penggunaan dalam ritual dan tradisi. Karena itu, tidak bisa bisa digunakan secara sembarangan.
(Baca: Cok Sawitri Luncurkan Tiga Buku

Menurut Cok Sawitri, kegiatan berkesenian, termasuk pementasan sastra modern, memiliki tata krama pemanggungan yang mesti diikuti, termasuk pemanfaatan simbol-simbol spiritual dalam masyarakat. Penggunaan simbol-simbol spiritual yang tidak tepat bisa menimbulkan reaksi dari masyarakat yang menganggap hal itu sebagai eksploitasi. 


“Kebebasan pengarang yang disebut licentia poetica pun memiliki tata kramanya, ada etikanya,” tandas Cok Sawitri yang pernah berkolaborasi dengan Dean Moss dari New York dalam pementasan Dance Theater. (b.)
http://feeds.feedburner.com/balisaja/pHqI
Artikel ini telah dibaca 1 kali

badge-check

Redaksi

Baca Lainnya

Usai Ngeroras, Desa Adat Kusamba Nuntun ke Goa Lawah dan Besakih

4 September 2022 - 09:52 WITA

Upacarai 223 Puspa, Ngeroras di Kusamba Dihadiri Ribuan Krama

31 Agustus 2022 - 12:40 WITA

Upacarai 185 Sawa, 48 Patulangan Diarak Menuju Setra

19 Agustus 2022 - 08:50 WITA

Patung Angsa Terbesar di Indonesia Jadi Ikon Bendungan Tamblang

8 Agustus 2022 - 18:20 WITA

Pascapandemi, LPD Kedonganan Mantapkan Transformasi Tata kelola dan Kaderisasi

6 Agustus 2022 - 16:40 WITA

Perjanjian Adat Sekala-Niskala Bisa Minimalisasi Kegagalan Kredit di LPD

26 Juli 2022 - 17:19 WITA

Trending di Bali Jani