Menu

Mode Gelap
Nyoman Weda Kusuma: Dari Tukang Sapu Pasar ke Guru Besar Usai Ngeroras, Desa Adat Kusamba Nuntun ke Goa Lawah dan Besakih Upacarai 223 Puspa, Ngeroras di Kusamba Dihadiri Ribuan Krama Benarkah Modal LPD dari Pemerintah? Upacarai 185 Sawa, 48 Patulangan Diarak Menuju Setra

Bali Jani · 5 Apr 2015 11:21 WITA ·

Hidupkan Lagi Seni Dramatisasi Puisi di Bali


					Hidupkan Lagi Seni Dramatisasi Puisi di Bali Perbesar

Kegiatan seni dramatisasi puisi di Bali beberapa tahun terakhir ini jarang digelar. Padahal, menurut sastrawan Cok Sawitri, Bali merupakan pionir kegiatan seni dramatisasi maupun musikalisasi puisi. Karena itu, Cok Sawitri mendukung upaya Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Sastra dan Budaya (FSB) Universitas Udayana (Unud) menghidupkan kembali kegiatan itu melalui lomba dramatisasi dan baca puisi. 

Sabtu dan Minggu (4-5/4), Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Sastra Indonesia FSB Unud menggelar lomba dramatisasi dan baca puisi antar siswa SMA/SMK se-Bali. Lomba digelar serangkaian peringatan Hari Sastra yang dikaitkan dengan wafatnya penyair Chairil Anwar, 28 April 1949. 

Salah satu peserta lomba dramatisasi puisi Pekan Sastra 2015 yang digelar FSB Unud, Sabtu-Minggu (4-5/4).
“Mungkin karena sudah tidak pernah digelar lagi, banyak yang salah kaprah memahami dramatisasi puisi,” kata Cok Sawitri yang menjadi juri bersama IGA Mas Triadnyani (dosen FSB Unud) dan I Made Sujaya (redaktur sastra dan budaya DenPost Minggu serta pengelola portal balisaja.com).

Pengarang novel Janda dari Jirah, Sutasomadan Tantri Perempuan yang Bercerita itu mencermati kelemahan para peserta yang tidak bisa membedakan antara dramatisasi puisi, deklamasi puisi dan pembacaan puisi yang disertai ilustrasi. Padahal, menurut Cok Sawitri, dramatisasi puisi merupakan upaya menghidupkan puisi dengan memanfaatkan pemanggungan drama.
Dramatisasi puisi secara harfiah dimaknai mendramakan puisi. Dramatisasi digunakan untuk menolong puisi yang diam dengan memanfaatkan unsur-unsur drama sehingga pesannya menjadi lebih jelas dan tegas. “Keutuhan puisi tetap yang utama. Dramatisasi tidak boleh merusak keutuhan puisi,” kata Cok Sawitri.
Ketua Panitia, Ni Wayan Kencanawati menyatakan lomba dramatisasi dan baca puisi digelar untuk merayakan Hari Sastra yang dikaitkan dengan wafatnya penyair Chairil Anwar, 28 April 1949. Ketua Jurusan Sastra Indonesia FSB, I Ketut Sudewa menyatakan lomba ini akan menjadi agenda rutin Program Studi Sastra Indonesia saban Hari Chairil.
Lomba dramatisasi puisi dimenangi Teater Lajose SMAK Santo Yoseph sebagai juara I, Teater Genta Malini SMA 1 Gianyar sebagai juara II, SMA 1 Ubud sebagai juara III dan Teater Sangsaka SMK 1 Denpasar sebagai pemenang favorit. Untuk lomba baca puisi, juara I diraih Ahmad Nasirun (SMKN 1 Denpasar), juara II diboyong Natalia Ester T. (SMK Saraswati 1 Denpasar) sekaligus pemenang favorit,  serta juara III disabet Ida Ayu Gita Phalasukma (SMA 3 Denpasar). (b.)
http://feeds.feedburner.com/balisaja/pHqI
Artikel ini telah dibaca 57 kali

badge-check

Redaksi

Baca Lainnya

Usai Ngeroras, Desa Adat Kusamba Nuntun ke Goa Lawah dan Besakih

4 September 2022 - 09:52 WITA

Upacarai 223 Puspa, Ngeroras di Kusamba Dihadiri Ribuan Krama

31 Agustus 2022 - 12:40 WITA

Upacarai 185 Sawa, 48 Patulangan Diarak Menuju Setra

19 Agustus 2022 - 08:50 WITA

Patung Angsa Terbesar di Indonesia Jadi Ikon Bendungan Tamblang

8 Agustus 2022 - 18:20 WITA

Pascapandemi, LPD Kedonganan Mantapkan Transformasi Tata kelola dan Kaderisasi

6 Agustus 2022 - 16:40 WITA

Perjanjian Adat Sekala-Niskala Bisa Minimalisasi Kegagalan Kredit di LPD

26 Juli 2022 - 17:19 WITA

Trending di Bali Jani