Menu

Mode Gelap
Integrasi Literasi dalam Pembelajaran dan Digital Kultur: Workshop Literasi-Numerasi SMPN 1 Selemadeg Timur Tunduk Pada Pararem, LPD Kedonganan Terapkan Laporan Keuangan Adat Bebantenan, Cara Manusia Bali Menjaga Alam Semesta SMAN 1 Ubud dan SMAN 2 Semarapura Juarai Lomba Bulan Bahasa Bali di UPMI Bali Bulan Bahasa Bali VI Jalan Terus, Tapi di Hari Coblosan “Prai” Sejenak

Segara Giri · 6 Apr 2013 12:38 WITA ·

Tirtha Yatra di Hari Kuningan ke Pura Sakenan dan Pura Purusada


					Pura Purusada Kapal Perbesar

Pura Purusada Kapal

Hari raya Kuningan tidak saja sebagai momentum untuk memaknai “peperangan” hebat di dalam diri, tetapi juga saat tepat menyelami jejak-jejak multikulturalisme Bali. Sejumlah pura yang melaksanakan pujawali (peringatan hari pendirian pura) pada hari Kuningan, seperti Pura Sakenan di Serangan, Denpasar dan Pura Purusada di Kapal, Badung mengguratkan jejak-jejak multikulturalisme Bali. Di kedua pura penting itu, manusia Bali bisa belajar bagaimana menerima pengeruh kebudayaan lain bahkan mengadopsinya tetapi tetap tidak mengurangi jati diri Bali.

Saban hari raya Kuningan, umat Hindu dari berbagai pelosok Bali biasanya mengarus menuju Pura Sakenan, di Serangan, Denpasar Selatan. Pura yang konon didirikan Mpu Kuturan ini memang tampil sederhana tapi bersahaja. Kebersahajaannya itulah yang justru memikat hari umat untuk datang.

Jauh sebelumnya, sekitar abad ke-15 silam, Dang Hyang Nirartha sudah lebih dulu terpikat dengan Sakenan. Ketika mengadakan perjalanan suci mengelilingi Pulau Bali, Pura Sakenan ini juga sempat disinggahinya.

Diceritakan, setelah Danghyang Nirartha mensucikan diri di Bukit Payung, beliau meneruskan perjalanan dengan menyusuri pantai ke arah utara. Dalam perjalanannya ini, Danghyang Nirartha menjumpai dua buah pulau kecil yang diberi nama Nusa Dua.

Di pulau inilah, Danghyang Nirartha melepaskan lelah sambil menyusun kekawin Anyang Nirartha. Kekawin ini melukiskan dengan apik betapa laut menyimpan makna keindahan yang dalam, terlebih lagi bagi seorang kawi (penyair).

Usai menulis kekawin Anyang Nirartha, Danghyang Nirartha melanjutkan perjalanannya ke arah utara  hingga akhirnya bertemu dengan sebuah pulau kecil yang juga memantik batin rasa Danghyang Nirartha. Inilah Pulau Serangan yang dikelilingi laut yang indah dan pasir putih yang mempesona.

Pada pantai bagian Barat pulau Serangan, Danghyang Nirartha beristirahat sambil tak putus-putusnya mengagumi keindahan alam sekitarnya. Di tepi pantai bagian Barat itu pula Danghyang Nirartha mendirikan palinggih (bangunan suci).

Sakenan sendiri, seperti ditulis Soebandi berasal dari kata sakya yang berarti dapat langsung menyatukan pikiran. Karenanya, berdirinya Pura Sakenan sejatinya memang dimaksudkan sebagai tempat bagi umat untuk menyatukan pikirannya menuju hening, heneng menggapai kesucian dan kedamaian hati.

Kata sakya mengingatkan pada istilah sakyadalam ajaran Budha. Itu sebabnya, Pura Sakenan diyakini merupakan jejak pertemuan Siwa-Budha.

Bali-Majapahit

Jejak multikulturalisme dalam konteks lain juga dapat dilihat di Pura Purusada yang juga melaksanakan pujawali bertepatan dengan hari Kuningan. Pura Purusada terletak di Desa Kapal, Mengwi, Badung. Masyarakat Badung biasa menyebut pura ini dengan nama Pura Sada.

Kata Purusada mengingatkan pada kata prasada dalam bahasa Jawa Kuno yang berarti ‘candi’. Memang, ikon Pura Purusada adalah sebuah candi tinggi menjulang di areal utama pura.

Kehadiran candi di Pura Purusada menunjukkan adanya relasi antara kebudayaan Bali dan Majapahit. Namun, menurut penelusuran data-data sejarah, Pura Purusada berdiri sebelum berdirinya kerajaan Majapahit. Majapahit baru berdiri tahun 1216 Masehi, sedangkan pada sumber-sumber susastra serta prasasti di Bali disebutkan Pura Purusada sudah ada jauh sebelumnya, sekitar abad ke-10 tatkala pemerintahan Gunaprya Dharmapatni.

Dalam prasasti Kramaning Kapal yang dikeluarkan Raja Sri Jayasakti yang memerintah Bali sekitar tahun 1119—1150 disebutkan masyarakat Desa Kapal bebas pajak karena nyungsungPura Purusada. Prasasti ini kini di-sungsung di Pura Purusada.

Memang, dalam lontar Babad Bhumi disebutkan ada orang-orang Kalingga di Jawa yang datang ke Kapal. Namun, kehadiran orang-orang Kalingga itu diduga untuk memperbaiki Pura Purusada dan itu terjadi sekitar abad ke-11. Hanya saja, mungkin ketika Majapahit menguasai Bali, untuk menanamkan pengaruh budaya di Bali, Majapahit berusaha memengaruhi motif arsitektur bangunan Pura Purusada.

Selain adanya candi bertingkat sebelas, keunikan lain Pura Purusada tentu saja bahan bangunan yang seluruhnya menggunakan batu bata merah. Karenanya, Pura Purusada menjadi salah satu bangunan suci di Bali yang memiliki nilai historis tinggi. (b.)

  • Penulis: I Made Sujaya
  • Foto: I Made Sujaya
  • Penyunting: I Ketut Jagra
Artikel ini telah dibaca 160 kali

badge-check

Redaksi

Baca Lainnya

Nyegara Gunung di Gunung Payung

7 November 2022 - 06:58 WITA

Setelah Dua Kali Ngayeng, Pujawali di Pura Silayukti Kembali Nyejer Tiga Hari

17 Mei 2021 - 22:11 WITA

Usabha Pitra di Pura Dalem Puri Kembali Digelar, Begini Rangkaian Upacara dan Maknanya

24 Januari 2020 - 07:32 WITA

Inilah Sejumlah Pura yang Melaksanakan Pujawali Pada Hari Raya Kuningan

31 Mei 2014 - 02:54 WITA

Bali Bersatu di Pura Dasar Bhuana

26 Mei 2014 - 08:32 WITA

Pura Samuantiga, Cikal Bakal Kahyangan Tiga Desa Pakraman di Bali

11 Mei 2014 - 22:24 WITA

Trending di Segara Giri