Menu

Mode Gelap
Tumpek Landep: Mengasah Senjata Paling Tajam dalam Hidup Siapkan “BMW” untuk Siswa, SMA Paris Gelar Ujian Kepariwisataan Mategepan, Wimbakara Bulan Bahasa Bali ring SMA Paris Klungkung Isyarat Regenerasi dari Lomba Musikalisasi Puisi Bali Ketika Suara Remaja Membuat Juri Lagu Pop Bali Menangis di Ksirarnawa

Bali Jani · 11 Feb 2021 11:58 WITA ·

Perlu Diteliti Lagi, Belasan Novel Pandji Tisna Belum Ditemukan


					Perlu Diteliti Lagi, Belasan Novel Pandji Tisna Belum Ditemukan Perbesar

 Dari Ajang Webinar Hiski Bali Mengenang Pandji Tisna

 


Penelitian lebih jauh terhadap karya dan sosok sastrawan Indonesia kelahiran Bali, A.A. Pandji Tisna perlu diupayakan. Pasalnya, karya-karyanya yang dikenal dalam dunia sastra Indonesia, hanya sebagian kecil. Padahal, sejarawan Australia, Ian Caldwell menyebut Pandji Tisna menulis sekitar 18 novel. Yang dikenal pembaca sastra Indonesia hanya empat, yakni Ni Rawit Ceti Penjual Orang(1935), Sukreni Gadis Bali (1936), I Swasta Setahun di Bedahulu (1938), serta I Made Widiadi (Kembali Kepada Tuhan) (1955). Satu novelnya berjudul Dewi Karuna sering disebut tetapi belum banyak dibincangkan, bahkan novel ini sulit didapatkan.

 

Hal ini terungkap dalam webinar sastra mengenang Pandji Tisna yang digelar Himpunan sarjana Kesusastraan Indonesia (Hiski) Komisariat Bali bertajuk Diskusi Kebahasaan dan Kesastraan Hiski Bali (Diksi)#1, Kamis (11/2). Webinar bertema “Menyelami Proses Kreatif A.A. Pandji Tisna” itu dipandu sastrawan dan akademisi Undiksha Singaraja, Kadek Sonia Piscayanti serta menampilkan dua narasumber, yakni Ketua Hiski Bali yang juga dosen FIB Unud, IGAA Mas Triadnyani dan guru besar sastra Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Unud, I Nyoman Darma Putra. Mas Triadnyani menyampaikan topik bertajuk “Ambivalensi Pandji Tisna”, sedangkan Darma Putra berbicara mengenai “Branding, Storynomics, Literary Tourism: Menyelami Proses Kreatif Pandji Tisna”. Pandji Tisna dilahirkan di Singaraja, 11 Februari 1908 dan meninggal di Lovina, 2 Juni 1978.

 

Menurut Darma Putra, data Caldwell mengenai 18 novel Pandji Tisna menjadi tantangan besar untuk diteliti. Selain itu, Caldwell juga menyebut ada 27 laci di tempat Pandji Tisna yang penuh dengan surat-menyurat Pandji Tisna. Ini artinya masih ada banyak arsip tentang Pandji Tisna yang harus ditemukan dan diselami untuk mengangkat mutiara-mutiara sastra di Bali.

 


“Jadi, penyelaman terhadap sosok dan karya-karya Pandji Tisna betul-betul belum selesai,” kata Darma Putra.

 

Panji Tisna, imbuh Darma Putra, juga tidak hanya melakukan banyak hal penting, antara lain, namanya dikukuhkan sebagai pengarang Pujangga Baru, tapi juga menginspirasi sastrawan Bali berikutnya dalam menulis. Selain karya-karyanya, sosoknya juga inspiratif. Pandji Tisna juga menemukan nama Lovina yang kemudian menjadi destinasi wisata di Bali Utara yang juga inspiratif. Banyak lahir karya sastra tentang Lovina yang ditulis sastrawan Indonesia. Sosok Pandji Tisna juga dinilai Darma Putra paling kuat dilihat dari perkembangan literary tourism (sastra pariwisata). Jika dikaitkan dengan storynomics, sosok Pandji Tisna dan narasi yang dihasilkannya bisa dikelola untuk menjadi sumber ekonomi kreatif.

 

Ambivalen

Mas Triadnyani yang memfokuskan pembicaraannya pada novel Ni Rawit Ceti Penjual Orang, terutama dilihat dari aspek psikologi pengarang, menyoroti kuatnya sikap ambivalensi Pandji Tisna sebagai pengarang berdarah Bali. Tokoh antagonis diambil dari kaumnya sendiri, orang Bali, bahkan tokoh pahlawan dalam novel Ni Rawit Ceti Penjual Orang merupakan orang Belanda. Sikap Pandji Tisna terhadap orang Belanda tidak konsisten. Di satu pihak dia tidak mau terlibat jauh dengan orang Belanda, dengan tidak mau menjadi pegawai pemerintah Belanda, seperti dinasihatkan ayahnya. Di lain pihak, ia merasa memperoleh banyak manfaat dalam berhubungan dengan Belanda, salah satunya dapat mengenyam pendidikan Belanda.

 


“Ia sangat menentang tindakan raja-raja di Bali yang sewenang-wenang dan kerjanya hanya berperang sehingga menyebabkan rakyat menjadi budak. Sebaliknya, ia mencintai kebudayaan dan tradisi Bali yang telah banyak membentuk sikap mental dan kepribadiannya,” beber Mas Triadnyani.

Hiski Bali merancang Diksi sebagai kegiatan rutin bulanan sebagai upaya menggairahkan dunia literasi sastra di Bali. Bulan Maret 2021, Diksi edisi kedua direncanakan membahas topik sastra terjemahan, khususnya terjemahan sastra Indonesia dan sastra Bali modern. (b.)

 _____________________ 

Teks dan foto: I Made Sujaya 

 

http://feeds.feedburner.com/balisaja/pHqI
Artikel ini telah dibaca 28 kali

badge-check

Redaksi

Baca Lainnya

Mategepan, Wimbakara Bulan Bahasa Bali ring SMA Paris Klungkung

27 Februari 2026 - 15:12 WITA

Isyarat Regenerasi dari Lomba Musikalisasi Puisi Bali

17 Februari 2026 - 22:31 WITA

Ketika Suara Remaja Membuat Juri Lagu Pop Bali Menangis di Ksirarnawa

16 Februari 2026 - 22:37 WITA

Janggal dan Tengal: Ketika AI Masuk ke Cerpen Bali

15 Februari 2026 - 21:45 WITA

Ketika Presiden Soroti Sampah Pantai Kuta, Jangan Lupakan Amanat UU Pengelolaan Pesisir

5 Februari 2026 - 06:02 WITA

Aksara Bali Naik Kelas, Dari Panggung Budaya ke Etalase Produk

1 Februari 2026 - 22:32 WITA

Trending di Bali Jani