Sorotan Presiden Prabowo Subianto terhadap tumpukan sampah di kawasan wisata kembali mengundang diskusi publik. Pernyataan orang nomor satu di Indonesia itu membuka kembali persoalan lama yang saban tahun berulang, yakni sampah kiriman yang datang bersamaan dengan musim angin barat.
Perhatian Presiden tersebut diapresiasi tokoh Kuta sekaligus Ketua Komisi IV DPRD Kabupaten Badung, I Nyoman Graha Wicaksana. Namun ia mengingatkan, persoalan sampah di Pantai Kuta tak bisa ditangani secara parsial. Diperlukan kerja bersama lintas wilayah dan lintas kewenangan.
“Masalah sampah di Pantai Kuta ini masalah lama dan selalu berulang, terutama saat musim angin barat. Masalah ini sangat kompleks sehingga butuh sinergi dengan berbagai pihak, baik pemerintah pusat dan pemerintah daerah sesuai amanat UU No. 1 tahun 2014 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-pulau Kecil,” kata Graha Wicaksana, Rabu (4/2/2026) lalu.
Menurutnya, Pemerintah Kabupaten Badung melalui Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan sebenarnya sudah rutin melakukan penanganan. Namun, kondisi alam dan posisi geografis membuat Pantai Kuta menjadi “muara” sampah kiriman dari wilayah lain.
Situasi ini biasanya terjadi pada akhir tahun hingga awal tahun berikutnya. Sampah yang datang sebagian besar berupa kayu dan ranting pohon, disertai sampah plastik.
“Pantai Kuta di posisi hilir sedangkan sampah ini berasal dari wilayah lain atau dari hulu. Karena itu perlu ada sinergi dengan pihak terkait untuk turut mengurangi sampah kiriman dari wilayah lain. Di sinilah peran UU No.1/2014,” ujarnya.
Graha Wicaksana menilai, ke depan diperlukan langkah yang lebih strategis. Selain pembersihan rutin, pemerintah daerah dapat menggandeng perguruan tinggi untuk menghadirkan teknologi penanganan sampah yang lebih efektif, khususnya untuk menghadapi sampah musiman yang volumenya besar.
Namun demikian, ia menekankan bahwa solusi teknis tidak akan cukup tanpa perubahan perilaku masyarakat. Upaya membangun budaya agar tidak membuang sampah sembarangan, terutama ke sungai, harus terus dilakukan secara konsisten.
“Jadi, selain langkah jangka pendek untuk penanganan segera sampah di Pantai Kuta, juga perlu dibarengi langkah jangka panjang untuk membangun kultur masyarakat agar tidak membuang sampah ke sungai dan sejenisnya,” kata mantan Ketua LPM Kelurahan Kuta ini.
Di tengah sorotan publik, Graha Wicaksana juga mengapresiasi kesigapan TNI/Polri bersama warga yang beberapa hari terakhir turun langsung membersihkan Pantai Kuta.
“Ini sebenarnya sudah sering juga dilakukan tiap kali sampah kiriman datang. Hanya saja karena volumenya terlalu besar dan terus berdatangan, belum semua bisa ditangani,” katanya.
Sorotan Presiden telah membuka kembali diskusi lama, memang. Pantai Kuta bukan hanya soal pariwisata, tetapi juga cermin persoalan pengelolaan lingkungan lintas wilayah. Tanpa sinergi dari hulu ke hilir, sampah kiriman akan terus datang dan Kuta akan terus menjadi saksi dari masalah yang sama setiap tahun.
- Penulis: I Ketut Jagra
- Foto: Istimewa
- Penyunting: I Made Sujaya







