Menu

Mode Gelap
Siapkan “BMW” untuk Siswa, SMA Paris Gelar Ujian Kepariwisataan Mategepan, Wimbakara Bulan Bahasa Bali ring SMA Paris Klungkung Isyarat Regenerasi dari Lomba Musikalisasi Puisi Bali Ketika Suara Remaja Membuat Juri Lagu Pop Bali Menangis di Ksirarnawa Janggal dan Tengal: Ketika AI Masuk ke Cerpen Bali

Bali Jani · 1 Feb 2026 22:32 WITA ·

Aksara Bali Naik Kelas, Dari Panggung Budaya ke Etalase Produk


					Aksara Bali Naik Kelas, Dari Panggung Budaya ke Etalase Produk Perbesar

Di tengah gegap gempita pembukaan Bulan Bahasa Bali ke-VIII di Gedung Ksirarnawa, Minggu (1/2/2026), sebuah pesan tegas dilontarkan Gubernur Bali, Wayan Koster. Aksara Bali tidak lagi cukup hadir di buku pelajaran atau panggung seremoni. Ia harus tampil di rak-rak toko, menempel di kemasan produk, dan menyapa konsumen sehari-hari.

“Kalau tidak pakai aksara Bali, jangan dipasarkan di Bali,” ujar Koster.

Pernyataan itu menegaskan kebijakan kebudayaan Bali yang menempatkan aksara Bali sebagai identitas visual wajib dalam aktivitas ekonomi. Semua produk yang beredar di Pulau Dewata tanpa kecuali harus memuat aksara Bali pada kemasannya. Produk yang abai, dipastikan tidak akan mengantongi izin edar.

Dari Imbauan ke Pengawasan

Koster langsung menugaskan Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Bali untuk melakukan pengawasan ketat terhadap implementasi kebijakan tersebut. Artinya, aksara Bali kini masuk wilayah regulasi, bukan sekadar wacana kebudayaan. “Aksara Bali harus ada di mana-mana,” kata Koster. “Di toko, hotel, restoran, kantor, dan ruang publik lainnya,” imbuhnya.

Sorotan juga diarahkan ke sektor pariwisata yang menjadi urat nadi ekonomi Bali. Koster mengingatkan pengelola hotel dan penginapan agar tertib menggunakan aksara Bali pada papan nama dan identitas usaha. Ia mengakui, sebagian besar hotel berbintang telah mematuhi ketentuan tersebut. Namun, pelanggaran masih kerap ditemukan pada penginapan kecil dan losmen.

“Hotel bintang lima sudah tertib. Yang sering tidak tertib itu losmen-losmen,” ujarnya.

Belajar dari Negara Maju

Dalam pidatonya, Koster mengaitkan isu aksara dengan kepercayaan diri budaya. Ia mencontohkan China, Jepang, dan Thailand sebagai negara-negara yang tetap menggunakan aksara sendiri, namun tidak tertinggal dalam modernitas dan kemajuan ekonomi.

“China, Jepang, Thailand punya aksara sendiri dan mereka maju,” katanya. “Leluhur kita sangat cerdas menciptakan aksara seperti ha na ca ra ka. Kita tinggal menggunakan saja, tapi justru belum tertib.”

Bagi Koster, masalahnya bukan pada kemampuan teknis, melainkan pada kemauan kolektif. Aksara Bali sudah tersedia, sistemnya lengkap, bahkan infrastrukturnya telah disiapkan. Mulai dari regulasi hingga teknologinya.

Koster menilai aksara Bali memancarkan keindahan dan nilai filosofis yang kuat—ia membawa aura, bukan sekadar bentuk. Menghadirkan aksara Bali pada kemasan produk berarti menanamkan memori budaya pada aktivitas konsumsi. Setiap orang yang membeli produk di Bali, sadar atau tidak, akan berinteraksi dengan aksara warisan leluhur.

Untuk memastikan keberlanjutan, Pemprov Bali mendorong Dinas Pendidikan Provinsi Bali mengintensifkan penggunaan keyboard aksara Bali di tingkat SD dan SMP. Koster menegaskan, Bali adalah satu-satunya daerah di Indonesia yang telah memiliki keyboard aksara daerah secara lengkap.

Artinya, secara teknologi, aksara Bali tidak kalah siap dibanding aksara global. Tantangannya tinggal pada pembiasaan dan disiplin penggunaan.

Bulan Bahasa Bali VIII berlangsung selama sebulan penuh, 1–28 Februari 2026. Ragam kegiatan digelar: pementasan seni, lomba, lokakarya, konservasi lontar, hingga pemberian penghargaan. Pembukaan acara ditandai pementasan sasolahan “Japatuan ka Suargan” oleh Sanggar Seni Kokar Bali, yang mencerminkan pertemuan tradisi dan perspektif generasi muda.

Selepas pembukaan, publik disuguhi Utsawa Nyurat Aksara Bali (festival penulisan aksara Bali lintas medium). Aksara ditorehkan di atas batu dan tembaga, ditata pada kain dalam bentuk rerajahan dan baligrafi, ditulis di kertas dan lontar, hingga diterjemahkan ke media digital kreatif seperti kartun dan film animasi.

  • Penulis: I Made Radheya
  • Foto: I Made Radheya
  • Penyunting: I Made Sujaya
Artikel ini telah dibaca 23 kali

badge-check

Redaksi

Baca Lainnya

Mategepan, Wimbakara Bulan Bahasa Bali ring SMA Paris Klungkung

27 Februari 2026 - 15:12 WITA

Isyarat Regenerasi dari Lomba Musikalisasi Puisi Bali

17 Februari 2026 - 22:31 WITA

Ketika Suara Remaja Membuat Juri Lagu Pop Bali Menangis di Ksirarnawa

16 Februari 2026 - 22:37 WITA

Janggal dan Tengal: Ketika AI Masuk ke Cerpen Bali

15 Februari 2026 - 21:45 WITA

Ketika Presiden Soroti Sampah Pantai Kuta, Jangan Lupakan Amanat UU Pengelolaan Pesisir

5 Februari 2026 - 06:02 WITA

Jadikan Semangat Perang Kusamba Inspirasi Menjaga Warisan Budaya Nyepi Segara

5 November 2025 - 20:53 WITA

Trending di Bali Jani