Gedung Ksirarnawa, Denpasar, Minggu (15/2/2026), siang itu tidak hanya dipenuhi tepuk tangan. Ada jeda-jeda hening yang terasa berat. Ada hening menyelinap ketika suara remaja SMA/SMK meluncur pelan, menembus ruang, lalu menetap di dada para pendengar. Bulan Bahasa Bali VIII menghadirkan sesuatu yang lebih dari sekadar lomba, melainkan juga perjumpaan antara suara remaja dan cermin budaya.
Puluhan pelajar naik ke panggung Wimbakara Lagu Pop Bali tingkat SMA/SMK dengan sikap percaya diri. Namun, begitu lagu wajib Ngiring Mabasa Bali karya Mr. Botax dinyanyikan, yang terdengar bukan lagi jingle semata. Setiap peserta membawa tafsirnya sendiri. Ada yang lembut, ada yang tegas, ada yang penuh emosi. Namun, tetap tanpa mengingkari ruh lagu.
Lagu pilihan kemudian menjadi ruang personal. Di sanalah karakter vokal diuji, keberanian dieksplorasi, dan jati diri musikal diperlihatkan. Penampilan terasa matang dan berkarakter, seolah para remaja ini tak sekadar menyanyi, tetapi sedang berbicara tentang Bali dengan bahasa suara mereka sendiri.
Di kursi juri, emosi ikut bergerak. Mr. Botax, Ayu Saraswati, dan Anak Agung Putu Sugiantiningsih tidak menyembunyikan keterharuan. Bahkan, satu penampilan disebut mampu menembus pertahanan profesionalisme juri.
“Ada satu penyanyi yang membuat kami menangis,” ujar Mr. Botax.
Baginya, kekuatan peserta bukan hanya terletak pada teknik vokal yang rapi, tetapi pada penghayatan dan penyampaian pesan lagu yang sampai ke hati pendengar. Meski demikian, ia tetap mengingatkan batas: improvisasi dalam lagu wajib perlu menjaga karakter aslinya sebagai jingle yang sederhana.
“Improvisasi boleh saja, asal tidak berlebihan hingga mengganggu penempatan nada,” jelasnya.
Penilaian serupa datang dari Ayu Saraswati. Ia melihat perubahan generasi: pelajar kini semakin sadar kapasitas vokal mereka sendiri. Teknik pernapasan, pengolahan nada, hingga keberanian memilih lagu menunjukkan perkembangan yang signifikan.
“Anak-anak sekarang berani keluar dari bayang-bayang penyanyi aslinya dan menghadirkan warna baru sesuai jati diri mereka,” tegasnya.
Sementara itu, Anak Agung Putu Sugiantiningsih menyoroti makna yang lebih luas. Ia menyampaikan kebanggaannya terhadap kualitas peserta dan kesiapan panitia, sekaligus berharap jumlah peserta dapat ditingkatkan pada pelaksanaan berikutnya. Baginya, ajang ini bukan sekadar lomba, melainkan ruang pembibitan kecintaan pada bahasa dan budaya Bali.
Melalui pop Bali, genre yang dekat dengan keseharian, bahasa ibu tidak diajarkan dengan ceramah, tetapi dihidupkan lewat rasa. Dan di Ksirarnawa hari itu, terbukti bahwa regenerasi penyanyi pop Bali berjalan dengan sangat baik: penuh talenta, kreativitas, dan kesadaran budaya.
Bukan hanya suara emas yang menggema, tetapi juga harapan bahwa Bali akan terus berbicara melalui generasi mudanya.
- Penulis: I Made Radheya
- Foto: I Made Radheya
- Penyunting: I Made Sujaya







