Menu

Mode Gelap
Integrasi Literasi dalam Pembelajaran dan Digital Kultur: Workshop Literasi-Numerasi SMPN 1 Selemadeg Timur Tunduk Pada Pararem, LPD Kedonganan Terapkan Laporan Keuangan Adat Bebantenan, Cara Manusia Bali Menjaga Alam Semesta SMAN 1 Ubud dan SMAN 2 Semarapura Juarai Lomba Bulan Bahasa Bali di UPMI Bali Bulan Bahasa Bali VI Jalan Terus, Tapi di Hari Coblosan “Prai” Sejenak

Bali Jani · 23 Jul 2023 23:16 WITA ·

Sederet Pekerjaan Rumah Bali Sebelum Gelar Pameran Buku Internasional


					Pengelola Penerbit Pustaka Larasan, Slamat Trisila (berdiri) menyampaikan pandangannya mengenai tantangan dan peluang Bali menyelenggarakan Bali International Book Fair dalam diskusi Temu Buku Beranda Pustaka serangkaian Festival Seni Bali Jani di gedung Citta Kelangen, ISI Denpasar, MInggu, 23 Juli 2023. Perbesar

Pengelola Penerbit Pustaka Larasan, Slamat Trisila (berdiri) menyampaikan pandangannya mengenai tantangan dan peluang Bali menyelenggarakan Bali International Book Fair dalam diskusi Temu Buku Beranda Pustaka serangkaian Festival Seni Bali Jani di gedung Citta Kelangen, ISI Denpasar, MInggu, 23 Juli 2023.

Bali sudah terbiasa menggelar kegiatan berskala internasional. Selain fasililitas yang memadai, nama Bali senantiasa punya nilai jual tinggi di dunia. Boleh jadi karena itu, menyeruak obsesi untuk menggelar sebuah pameran buku internasional atau Bali International Book Fair (BIBF).

Obsesi mengadakan pameran buku internasional tercermin dalam Temu Buku Beranda Pustaka Festival Seni Bali Jani V di gedung Citta Kelangen, Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar, Minggu, 23 Juli 2023. Diskusi itu memiliki tajuk “Bali International Book Fair Roadmap: Peluang dan Tantangan”. Dipandu jurnalis IK Eriadi Ariana, diskusi itu menghadirkan dua narasumber, yakni mantan anggota Komite Buku Nasional, Anton Kurnia serta pengelola penerbitan Pustaka Larasan Denpasar, Slamat Trisila.

“Mengadakan BIBF itu ide yang bagus. Pasalnya, Bali punya potensi yang besar, baik dari segi kultural, ekonomi dan juga perbukuan,” kata Anton Kurnia.

Dari segi jejaring, Bali juga cukup bagus, baik secara regional, nasional, maupun internasional. Demikian juga infrastruktur berupa tempat acara, transportasi, dan akomodasi sudah memadai. Potensi lain tentu saja dukungan pemerintah daerah maupun pusat.

Namun, Anton Kurnia menyarankan agar dibuat rencana dan strategi yang matang sebelum menggelar BIBF, selangkah demi selangkah. Langkah awal bisa dengan menggelar pameran buku secara nasional dan regional Asia Tenggara terlebih dulu. Selain itu, perlu dilakukan promosi terlebih dulu di berbagai pameran buku internasional sehingga bisa terbina jaringan nasional dan internasional dalam industri perbukuan. Langkah lain yang penting dipikirkan, menyelenggarakan fellowship untuk penerbit asing, membuat program sastra dan wisata kultural sebagai bagian dari acara pameran serta bekerja sama dengan stakeholders perbukuan nasional.

Pekerjaan Rumah

Slamat Trisila menjelaskan nama Bali memiliki nilai jual tinggi untuk menggelar BIBF. Jika sungguh-sungguh akan menggelar pameran buku internasional, Bali pasti akan dilirik.

Namun, kata dia, obsesi Bali menggelar BIBF menghadapi sejumlah tantangan, antara lain minimnya pengalaman, kualitas kepanitiaan, daya dukung penerbit, serta waktu penyelenggaraan. Trisila menyebut sementara ini Bali baru memiliki ajang pameran buku berskala lokal, seperti Denpasar Book Fair, Hardiknas Book Fair, maupun Beranda Pustaka. Untuk bisa menggelar pameran buku berskala internasional, pengalaman itu menjadi penting. Pasalnya, kepanitiaan sebuah pameran buku internasional harus disiapkan secara matang.

“Dalam pameran buku internasional, semua unsur kepanitiaan benar-benar siap. Tak ada lagi cerita ketika ada pengunjung bertanya lalu panitia menjawab, ‘oh, nanti saya tanyakan dulu’. Karena itu, kepanitiaan yang solid perlu disiapkan matang jauh-jauh sebelumnya,” kata Trisila.

Menurut Trisila, setidaknya ada tiga pekerjaan rumah yang harus diselesaikan bersama jika hendak membuat pameran buku internasional. Selain kepanitiaan yang solid, perlu juga ada sekretariat tetap yang merepresentasikan kepanitiaan serta jembatan untuk berkomunikasi pada para pihak yang berkepentingan.

Pekerjaan berikutnya membangun relasi dengan para pemangku kepentingan industri perbukuan di Bali, maupun nasional dan internasional. Hal lain yang tak kalah penting juga, memanfaatkan teknologi secara maksimal untuk promosi dan komunikasi.

Pameran buku internasional, imbuh Trisila, harus berangkat dari pemikiran untuk memajukan industri perbukuan. Berbicara industri perbukuan berarti menyangkut suatu ekosistem yang berkaita satu sama lain, seperti penulis buku, penerbit, distributor, toko buku, hingga pembaca.

Di Bali, kata Trisila, hingga kini baru tercatat ada 16 penerbit yang menjadi anggota Ikatan Penerbit Indonesia (Ikapi). Dari 16 penerbit itu, baru separuh yang bergerak dalam penerbitan buku-buku umum. Tiras buku yang diterbitkan di Bali pun umumnya maksimal 500 eks, kecuali beberapa buku tertentu yang dicari pembaca, bisa dicetak 2.000—3.000 eks. (b.)

  • Laporan: I Made Sujaya
  • Foto: I Made Sujaya
  • Penyunting: I Ketut Jagra
Artikel ini telah dibaca 113 kali

badge-check

Redaksi

Baca Lainnya

Tunduk Pada Pararem, LPD Kedonganan Terapkan Laporan Keuangan Adat

26 Februari 2024 - 15:18 WITA

Bebantenan, Cara Manusia Bali Menjaga Alam Semesta

23 Februari 2024 - 23:22 WITA

SMAN 1 Ubud dan SMAN 2 Semarapura Juarai Lomba Bulan Bahasa Bali di UPMI Bali

17 Februari 2024 - 18:57 WITA

Bulan Bahasa Bali VI Jalan Terus, Tapi di Hari Coblosan “Prai” Sejenak

2 Januari 2024 - 22:14 WITA

Lewat Film “Home”, Sinematografer Bali Raih Nominasi Emmy Awards

15 Desember 2023 - 22:14 WITA

Gairah Berbahasa Bali Mesti Diikuti Pemahaman Mengenai “Anggah-ungguh Basa”

10 Desember 2023 - 22:32 WITA

Trending di Bali Jani