Menu

Mode Gelap
Integrasi Literasi dalam Pembelajaran dan Digital Kultur: Workshop Literasi-Numerasi SMPN 1 Selemadeg Timur Tunduk Pada Pararem, LPD Kedonganan Terapkan Laporan Keuangan Adat Bebantenan, Cara Manusia Bali Menjaga Alam Semesta SMAN 1 Ubud dan SMAN 2 Semarapura Juarai Lomba Bulan Bahasa Bali di UPMI Bali Bulan Bahasa Bali VI Jalan Terus, Tapi di Hari Coblosan “Prai” Sejenak

Bali Jani · 22 Jul 2023 07:29 WITA ·

Drama Klasik Pernah Berjaya di Bali, Tapi Dokumentasinya Tak Terselamatkan


					IB Anom Ranuara (tengah memegang tongkat) tampil mempertontonkan kegiatan latihan drama klasik di Teater Mini dalam acara Tribute to IB Anom Ranuara serangkaian Festival Seni Bali Jani V, Jumat, 21 Juli 2023. Perbesar

IB Anom Ranuara (tengah memegang tongkat) tampil mempertontonkan kegiatan latihan drama klasik di Teater Mini dalam acara Tribute to IB Anom Ranuara serangkaian Festival Seni Bali Jani V, Jumat, 21 Juli 2023.

Era 1980-an hingga 1990-an, masyarakat Bali masyarakat Bali sangat akrab dengan drama klasik yang kerap ditayangkan TVRI Denpasar (kini TVRI Bali). Drama klasik begitu populer dan ditunggu-tunggu pemirsa. Selain tampil di televisi, drama klasik juga tampil di panggun Pesta Kesenian Bali (PKB). Tak pelak drama gong menjadi genre baru dalam seni drama di Bali menyusul sendratari maupun drama gong. Pencetus drama klasik itu tiada lain Ida Bagus Anom Ranuara. Sayangnya, dokumentasi drama klasik tak terselamatkan sehingga generasi muda tidak mudah kesulitan jika ingin menelusuri garapan-garapan kesenian ini di masa jayanya.

Hal ini diungkap bintang drama klasik Teater Mini Badung, Ni Putu Putri Suastini Koster saat berbicara dalam sesi gelar wicara (talkshow) pergelaran Tribute to Ida Bagus Anom Ranuara serangkaian Festival Seni Bali Jani di panggung Ksirarnawa, Taman Budaya Bali, Denpasar, Jumat, 21 Juli 2023. Putri Suastini tampil memberikan testimoni bersama rekannya sesama aktor drama klasik, IB Purwasila. Turut tampil dalam gelar wicara itu, IB Anom Ranuara yang mendapatkan persembahan. Selain gelar wicara pergelaran yang diproduksi Kuta Tunas Visual dan disutradarai Gede Sustrawan itu, juga menayangkan produksi drama klasik terkini serta pertunjukan latihan teater di Sanggar Teater Mini.

“Kita hanya bisa bercerita, Banyak drama klasik yang kita mainkan di TVRI ternyata file-nya nggak ada. Kita tak punya file. Mestinya terawat dengan baik. Karena perpindahan teknologi. Dulu kita memakai pita, pitanya jamuran, sudah rusak. Kalau sekarang digital masih lebih mending. Tapi memang sudah tidak ada lagi. Kami hanya bisa bercerita. Yang bisa kini diselamatkan hanya naskah-naskah beliau dalam bentuk buku,” kata mantan aktris Teater Mini, Ni Putu Putri Suastini.

Kesenian drama klasik di Bali tak bisa dilepaskan dari sosok IB Anom Ranuara, memang. Dialah pencetus sekaligus penjaga nafas drama klasik sejak tahun 1980-an hingga tahun 2000-an. Bahkan, hingga kini, meski makin sepuh, Anom Ranuara masih terus berkarya. Padahal, usianya kini melewati 80 tahun.

Ida Bagus Anom Ranuara berasal dari Desa Blahkiuh, Badung. Dia lahir pada 18 Juni 1943 serta besar di Denpasar. Kepiawaiannya berteater bermula dari kegiatannya dalam kelompok “drama janger” di Desa Blahkiuh, kampung halaman sekaligus tempatnya mengabdi sebagai guru sekolah dasar (SD) pada tahun 1962.

Pascatahun 1965, Anom Ranuara pindah tugas ke Denpasar. Di Denpasar dia bertemu penekun permainan tradisional, Made Taro dan Ida Bagus Mayun, seorang karyawan Kanwil Depdikbud Bali yang juga doyan sastra. Mereka bekerja sama membentuk kelompok Drasula yang merupakan perpaduan antara seni drama, sulap, dan lawak.

Baru pada tahun 1978, Anom Ranuara mendirikan Teater Mini Badung dan mementaskan drama klasik. Sejak tahun 1979, sudah lebih dari 100 lakon drama klasik yang ditulis dan dipentaskannya. Belakangan Teater Mini Badung berubah menjadi Sanggar Teater Mini.

Istilah drama klasik memang sengaja dimunculkan Anom Ranuara untuk menunjukkan perbedaan dengan genre drama lainnya, seperti sendratari dan drama gong. Drama klasik mementaskan lakon cerita pewayangan atau cerita rakyat, menggunakan kostum tradisional, diiringi gamelan tradisional dan musik modern, serta menggunakan bahasa Indonesia. Drama klasik pun menjadi identik dengan Anom Ranuara.

Gelar wicara (talkshow) testimoni sosok IB Anom Ranuara dalam acara Tribute to IB Anom Ranuara serangkaian Festival Seni Bali Jani V, di Ksirarnawa, Taman Budaya Bali, Denpasar, Jumat, 21 Juli 2023.

Disiplin dan Konsisten

Murid-muridnya di Teater Mini menilai Anom Ranuara sebagai sosok yang disiplin dan konsisten. Putri Suastini Koster menyebut Anom Ranuara sebagai seniman sejati. Landasan berkaryanya ngayah, fokus pada seni. Anom Ranuara, kata Putri Suastini Koster, kontinu dan konsisten dengan dunia seni yang ditekuninya.

Yang menarik, lanjut Putri Suastini, Anom Ranuara jarang memuji anak didiknya. Namun, kalau anak didiknuya keliru, Anom Ranuara tak segan-segan

Hal senada juga dinyatakan IB Purwasila, aktor Teater Mini yang bersama Putri Suastini menjadi bintang Teater Mini Badung. Menurut Gus Purwa –begitu dia akrab dipanggil–, karakter Anom Ranuara termasuk perfeksionis. Disiplin terbentuk dari perfeksionis. Selain selalu tepat waktu, naskah-naskah yang dibuat, tata bahasanya indah dan sulit untuk diubah. Justru kalau diubah, pemain bisa kebingungan sendiri.

Anom Ranuara yang turut hadir dalam sesi gelar wicara mengatakan dirinya memang rutin menulis. “Seperti orang minum kopi, tak dapat kopi bisa pengeng. Saya kalau tak dapat menulis juga pengeng,” katanya.

Menurut Anom Ranuara, untuk bisa menulis naskah drama dengan baik, resepnya tiada lain banyak membaca. Tatkala hendak menulis naskah drama klasik, dia mengaku membaca buku-buku pewayangan. Selain itu, dia juga rajin menonton pertunjukan. Menurutnya, dari menonton pertunjukan, pasti ada saja yang didapatkan. Anom Ranuara menuturkan doyan menonton film, topeng, arja, wayang, dan berbagai pertunjukan lain. “Usai menonton film cowboy, saya merasa menjadi cowboy. Itu sebetulnya proses berteater, proses memungut karakter,” kata Anom Ranuara.

Karena itu, Anom Ranuara mengkritik seniman kini yang merasa sudah besar, tidak mau menonton pertunjukan orang lain. “Menonton saja, pasti ada yang akan didapat. Paling tidak, apresiasi kepada teman,” kata Anom Ranuara.

Meski sudah uzur, energi Anom Ranuara terbilang masih relatif terjaga. Usai mengisi sesi gelar wicara, Anom Ranuara masih mengisi sesi pertunjukan latihan drama klasik di atas panggung bersama anggota Teater Mini. Melalui pertunjukan latihan itu, penonton bisa mengetahui bagaimana dinamika di balik panggung sebelum pementasan disuguhkan ke hadapan penonton dan secara tidak langsung belajar berteater. (b.)

Artikel ini telah dibaca 98 kali

badge-check

Redaksi

Baca Lainnya

Tunduk Pada Pararem, LPD Kedonganan Terapkan Laporan Keuangan Adat

26 Februari 2024 - 15:18 WITA

Bebantenan, Cara Manusia Bali Menjaga Alam Semesta

23 Februari 2024 - 23:22 WITA

SMAN 1 Ubud dan SMAN 2 Semarapura Juarai Lomba Bulan Bahasa Bali di UPMI Bali

17 Februari 2024 - 18:57 WITA

Bulan Bahasa Bali VI Jalan Terus, Tapi di Hari Coblosan “Prai” Sejenak

2 Januari 2024 - 22:14 WITA

Lewat Film “Home”, Sinematografer Bali Raih Nominasi Emmy Awards

15 Desember 2023 - 22:14 WITA

Gairah Berbahasa Bali Mesti Diikuti Pemahaman Mengenai “Anggah-ungguh Basa”

10 Desember 2023 - 22:32 WITA

Trending di Bali Jani