Menu

Mode Gelap
Integrasi Literasi dalam Pembelajaran dan Digital Kultur: Workshop Literasi-Numerasi SMPN 1 Selemadeg Timur Tunduk Pada Pararem, LPD Kedonganan Terapkan Laporan Keuangan Adat Bebantenan, Cara Manusia Bali Menjaga Alam Semesta SMAN 1 Ubud dan SMAN 2 Semarapura Juarai Lomba Bulan Bahasa Bali di UPMI Bali Bulan Bahasa Bali VI Jalan Terus, Tapi di Hari Coblosan “Prai” Sejenak

Bali Jani · 24 Des 2022 23:58 WITA ·

Kedepankan “Labdha”, LPD Kedonganan Atasi Beragam Masalah Krama Adat


					Kepala LPD Kedonganan, I Ketut Madra (paling kiri) bersama Bendesa Adat Kedonganan, I Wayan Mertha (nomor dua dari kiri) serta unsur Majelis Desa Adat (MDA) Provinsi Bali saat puncak perayaan HUT ke-32 LPD Kedonganan, 23 Desember 2022 di Pantai Kedonganan. Perbesar

Kepala LPD Kedonganan, I Ketut Madra (paling kiri) bersama Bendesa Adat Kedonganan, I Wayan Mertha (nomor dua dari kiri) serta unsur Majelis Desa Adat (MDA) Provinsi Bali saat puncak perayaan HUT ke-32 LPD Kedonganan, 23 Desember 2022 di Pantai Kedonganan.

Tahun 2022, Lembaga Perkreditan Desa (LPD) Desa Adat Kedonganan memasuki usia 32 tahun. Sebagai lembaga keuangan khusus komunitas adat Bali di Desa Adat Kedonganan, LPD Kedonganan yang berdiri sejak 9 September 1990, telah berkembang pesat. Bahkan, yang menarik, LPD yang dipilih sebagai pilot project pengelolaan LPD berdasarkan adat dan kearifan lokal Bali ini tidak menjadikan laba atau keuntungan material sebagai fokus perhatian, melainkan labdha atau manfaat bagi krama adat. Dengan konsep seperti itu, LPD Kedonganan hadir membantu krama adat mengatasi berbagai permasalahan, baik ekonomi, sosial, maupun budaya.

Kepala LPD Desa Adat Kedonganan, I Ketut Madra menjelaskan pada awal berdirinya LPD Kedonganan pada tahun 1990, Desa Adat Kedonganan sedang menghadapi permasalahan rusaknya sejumlah pura kahyangan desa. Karena kemampuan desa yang terbatas, renovasi pura menjadi sulit dilakukan. LPD Kedonganan pun hadir menopang kegiatan pembangunan pura kahyangan desa, seperti Pura Dalem, Pura Segara dan sejumlah pura lain.

“Bahkan, kesuksesan pembangunan Pura Dalem itu menjadi tonggak penting tumbuhnya kepercayaan dan dukungan krama kepada LPD Kedonganan,” kata Madra di sela-sela puncak perayaan hari ulang tahun (HUT) ke-32 LPD Kedonganan di Pantai Kedonganan, Sabtu, 24 Desember 2022.

HUT LPD Kedonganan jatuh pada 9 September 2022, namun karena Desa Adat Kedonganan melaksanakan upacara ngusaba desa pada Oktober lalu, puncak acara HUT ke-32 LPD Kedonganan digelar di akhir tahun. Turut hadir dalam kesempatan itu, Bupati Badung yang diwakili Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Badung, dr. I Made Padma Puspita, Sp.PD; unsur Majelis Desa Adat (MDA) Provinsi Bali; Bendesa Adat Kedonganan, Dr. I Wayan Mertha, S.E., M.Si., para kelian banjar adat, kepala lingkungan, pamangku desa, tokoh-tokoh masyarakat, karyawan LPD Kedonganan serta krama desa dan nasabah.

Ngaben Ngemasa

Saat krama menghadapi permasalahan beban upacara yadnya, LPD Kedonganan kembali hadir menjadi solusi. LPD meluncurkan program Simpanan Upacara Adat (Sipadat) yang memberikan nilai manfaat (labdha) berupa program ngaben dan nyekah ngemasa di desa adat. Bahkan, krama tidak perlu mengeluarkan biaya upacara alias gratis. Program ngaben dan nyekah ngemasa dimulai tahun 2006 dan tetap berlangsung secara rutin tiap tiga tahun hingga sekarang. Selain itu, LPD Kedonganan juga konsisten memberikan santunan kematian bagi krama yang meninggal dunia.

“Total dana ngaben ngemasa yang telah dikeluarkan LPD Kedonganan sejak tahun 2006 hingga 2021 senilai Rp 5,2 miliar. Santunan bagi krama yang meninggal dunia sejak tahun 2002 hingga 2022, termasuk manfaat Sipadat Plus, senilai total Rp 1,5 miliar,” beber Kepala Tata Usaha LPD Kedonganan, Drs. I Wayan Suriawan.

Masih berkaitan dengan beban biaya upacara yadnya, LPD Desa Adat Kedonganan juga memberikan punia piodalan atau pujawali di pura banjar maupun dadia, paibon serta merajan yang di-empon krama Desa Adat Kedonganan. Yang paling anyar, LPD Desa Adat Kedonganan memberikan punia bagi krama dalam pelaksanaan upacara ngusaba desa pada Purnama Kapat, 10 Oktober 2022 lalu senilai Rp 950.000.000.

LPD Desa Adat Kedonganan juga menjadi motor penting merevitalisasi tradisi mapatung saban hari raya Galungan melalui program mapatung daging babi. Krama desa dan nasabah mendapat daging babi gratis menjelang perayaan Galungan, bahkan dilengkapi juga dengan bantuan beras dan uang bumbu. “Program ini juga membantu mengatasi masalah ketidakstabilan harga daging babi di Kedonganan karena ada permintaan tetap dari LPD Kedonganan saban hari Galungan,” kata Madra.

Warung Ikan Bakar

Dari segi sosial ekonomi, kehadiran LPD Kedonganan sebagai “juru selamat” mengatasi permasalahan krama adat lebih nyata lagi. Melalui kredit investasi di LPD Kedonganan, krama Desa Adat Kedonganan bisa memiliki usaha warung ikan bakar di sepanjang Pantai Kedonganan. Pola yang dikembangkan merupkan model ekonomi kerakyatan dengan kepemilikan kolektif di tiap banjar adat. LPD Kedonganan menyalurkan kredit senilai Rp 12 miliar pada tahun 2007 untuk menopang pembangunan kawasan warung ikan bakar di Pantai Kedonganan. Hingga kini, keberadaan warung ikan bakar itu menjadi tumpuan ekonomi krama Desa Adat Kedonganan.

Peran nyata LPD Kedonganan yang sangat dirasakan krama desa dan nasabah tentu saja saat terjadinya pandemi Covid-19. Selain memberikan keringanan dan insentif pembayaran kredit bagi krama adat, LPD Kedonganan juga menyalurkan bantuan sembilan bahan pokok (sembako) kepada krama sebanyak enam kali sejak tahun 2020 hingga 2021 senilai total Rp 4,2 miliar.

Beberapa bulan lalu, di media sosial viral kasus seorang siswi SMP swasta di Jimbaran yang menunggak SPP selama hampir tiga tahun. Siswi itu,  Luh Listya Dewi, ternyata warga Kedonganan yang berstatus anak yatim lalu ditinggal menikah oleh ibunya. Kasus ini seolah menampar warga Kedonganan di tengah kemajuan yang dialami desa pesisir itu. Tatapan warga pun diarahkan ke LPD Kedonganan. Akhirnya, LPD Kedonganan turun tangan membanti membayar tunggakam SPP siswi tersebut, bahkan memberi beasiswa pendidikan hingga kuliah kepada yang bersangkutan.

“Ini memang kasus khusus yang luput karena ada persoalan di keluarga. LPD Kedonganan sudah punya program Tabungan Beasiswa Plus dan rutin memberikan beasiswa yang selama ini mengatasi permasalahan seperti ini,” kata Madra.

Rp 42 Miliar

Kontribusi LPD Kedonganan itu belum termasuk dana pembangunan ke desa adat serta dana sosial. Dana pembangunan ke desa adat sejak tahun 1990 hingga 2021 senilai Rp 23,2 miliar, sedangkan dana sosial senilai Rp 5,8 miliar.

“Kalau ditotal dana dari hasil pengelolaan LPD Kedonganan yang telah dimanfaatkan oleh krama dan Desa Adat Kedonganan sejak tahun 1990 hingga sekarang senilai Rp 42 miliar,” ungkap Suriawan.

Madra menegaskan LPD Kedonganan lebih mengedepankan aspek labdha (manfaat) bagi krama dan desa adat, bukan semata-mata laba atau keuntungan material. Hal ini sejalan dengan konsep LPD sebagai lembaga keuangan khusus komunitas adat yang juga berfungsi secara sosial budaya yang diatur berdasarkan hukum adat sejalan dengan amanat UU Nomor 1 tahun 2013 tentang Lembaga Keuangan Mikro (LKM) serta Pararem Panyacah Desa Adat Kedonganan tahun 2016 tentang LPD Desa Adat Kedonganan.

Bendesa Adat Kedonganan, I Wayan Mertha, juga menekankan tentang pentingnya aspek labdha daripada laba karena LPD bersifat khusus. Menurutnya, selama ini pengurus dan karyawan LPD Kedonganan telah mampu menerjemahkan aspek labdha bagi krama dan desa adat sehingga hingga kini LPD Kedonganan mampu berkontribusi bagi pembangunan di Desa Adat Kedonganan.

Tokoh masyarakat Kedonganan, Putu Suwendra mengapresiasi berbagai inovasi progresif LPD Kedonganan untuk mewujudkan kesejahteraan masyarakat adat Kedonganan yang dikonsepsikan sebagai Panca Kertha. Menurutnya, apa yang dilakukan LPD Kedonganan telah benar-benar dirasakan manfaatnya oleh krama Desa Adat Kedonganan.

Puncak perayaan HUT ke-32 LPD Kedonganan juga diisi dengan peresmian Tekad Medical Centre (TMC) yang merupakan sinergi LPD Kedonganan dengan para pemuda Kedonganan untuk menyediakan layanan Kesehatan bagi krama adat. Kadis Kesehatan Badung, I Made Padma Puspita mengapresiasi inovasi LPD Kedonganan mendirikan TMC. Terlebih lagi TMC dikelola oleh anak-anak muda. “Kami siap bersinergi dengan TMC untuk mewujudkan masyarakat Badung yang sehat,” tandasnya.

  • Laporan: I Made Radheya
  • Foto: I Made Radheya
  • Penyunting: I Ketut Jagra
Artikel ini telah dibaca 165 kali

badge-check

Redaksi

Baca Lainnya

Tunduk Pada Pararem, LPD Kedonganan Terapkan Laporan Keuangan Adat

26 Februari 2024 - 15:18 WITA

Bebantenan, Cara Manusia Bali Menjaga Alam Semesta

23 Februari 2024 - 23:22 WITA

SMAN 1 Ubud dan SMAN 2 Semarapura Juarai Lomba Bulan Bahasa Bali di UPMI Bali

17 Februari 2024 - 18:57 WITA

Bulan Bahasa Bali VI Jalan Terus, Tapi di Hari Coblosan “Prai” Sejenak

2 Januari 2024 - 22:14 WITA

Lewat Film “Home”, Sinematografer Bali Raih Nominasi Emmy Awards

15 Desember 2023 - 22:14 WITA

Gairah Berbahasa Bali Mesti Diikuti Pemahaman Mengenai “Anggah-ungguh Basa”

10 Desember 2023 - 22:32 WITA

Trending di Bali Jani