Di tengah gemerlap persiapan penyambutan para pemimpin dunia dalam ajang Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G20 di Nusa Dua, Sabtu, 12 November 2022, di Rumah Budaya Penggak Men Mersi, Denpasar, seniman I Ketut Putrayasa menampilkan karya seni instalasi terbarunya. Bertajuk “The Golden Toilet in Winter”, Putrayasa menampilkan toilet yang dicat berwarna emas, karpet merah, dan tumpukan es balok. Seseorang dititahkan menggotong toilet emas, melintasi jalan berkarpet merah, tertatih dan ngos-ngosan, berjuang sekuat tenaga untuk bisa diletakkan pada tumpukan balok es.
Orang mungkin melihat seni instalasi Putrayasa sebagai hal yang biasa. Toilet, karpet merah, dan balok es merupakan barang sehari-hari. Namun, penggunaan piranti ini sebagai seni instalasi dengan waktu penampilan berbarengan dengan perhelatan pertemuan para pemimpin dunia, tak pelak menimbulkan makna tersendiri.
Toilet emas jelas menunjukkan sebuah paradoks. Namun, paradoks itu justru diberi jalan lapang dan agung yang disimbolkan oleh karpet merah. Tumpukan balok es bisa dibaca simbol singasana yang dingin juga menggambarkan situasi politik dunia yang dingin, yang saban waktu bisa meledak jadi krisis mengerikan. Karena itu, instalasi garapan Putrayasa benar-benar menjadi semacam satire, bahkan cibiran halus atas kekonyolan-kekonyolan manusia hari yang menyebabkan melahirkan manusia-manusia paradoks (nungkalik). Hulu jadi hilir, hilir jadi hulu.
The Golden Toilet in Winter menjadi sejenis medium, bagaimana kritik dan sapaan yang kadang terbaca berseberangan itu ditembakkan lewat seni instalasi sebagai bentuk suara yang lain dan juga bentuk kepedulian yang tulus ikut terlibat merasakan krisis multidimensional hari ini. Di titik ini, The Golden Toilet in Winter boleh jadi dibaca sebagai suara yang berseberangan dengan pemegang kemufakatan dunia yang panglimannya hampir dipastikan adalah modal yang tunduk pada sistem pasar, rancangan ideologi kapitalis.
Misalnya, apa yang ada di balik kemufakatan-kemufakatan para pemimpin dunia bisa saja menafikan suara-suara warga dari bilik yang lain. Karena sungguh berbahaya manakala politik dan ekonomi kawin mawin. Naluri-naluri gelap manusia pasti selalu menelusup dalam “pernikahan” itu. Sebagaimana dikatakan B. Herry-Priyono, pengajar filsafat di Sekolah Tinggi Driyarkara, “rezim pemangsa ada di mana-mana dan menghasilkan ketimpangan atau peminggiran yang makin dalam”.
Karena itu, apa pun kesepakatan-kesepakatan dunia yang bergulir di antara negara-negara, entah apa namanya, sulit untuk tidak dicurigai. Tentu, pasti ada niat baik untuk membangun kesejahteran dan perdamain bersama. Namun, sejumlah problem dunia yang tak kunjung selesai, semisal krisis iklim, krisis energi, kelangkaan pangan, perusakan lingkungan, krisis air bersih, limbah industri, dan lain-lain menunjukkan ketidakseriusan pemegang kebijakan.
Jadi, apapun usaha dan kemufakatan itu, ujung-ujungnya adalah soal makan dan toilet. Dan, setiap persinggahan itu hanya akan menjadi tempat makan dan toilet. Negara-negara abai merawat bumi, sumber segala makanan yang semestinya dirawat dengan kesepatakan-kesepatakan saling membutuhkan.
Direspons Puisi
Seni instalasi Putrayasa juga direspons oleh penyair Wayan Jengki Sunarta dengan membacakan puisi garapannya sendiri berjudul “Toilet Emas”. Puisi yang dibuat pada Hari Pahlawan 10 November 2022 itu diambil dari judul seni instalasi karya Ketut Putrayasa “The Golden Toilet in Winter.”
“Puisi tersebut saya buat khusus untuk merespons karya instalasi Ketut Putrayasa. Puisi tersebut berbicara tentang kritik sosial, juga mengkritik kekuasaan yang rakus, tamak dan jumawa, memangsa alam dan rakyat jelata demi kepuasan diri dan kelompok elitenya,” ujar Jengki.
Karya instalasi Putrayasa juga direspons gerak tari teaterikal oleh seniman Achmad Obe Marzuki. Obe memerankan sosok lelaki yang tertatih-tatih menggotong toilet emas menyusuri karpet merah.
Kelian Penggak Men Mersi, Kadek Wahyudita mengapresiasi lompatan kreativitas Ketut Putrayasa. Pemilik Rich Stone ini dipandang sebagai sosok seniman yang selalu memiliki gagasan cemerlang dan berani tampil out of the box. Selain lihai melahirkan karya-karya spektakuler, Putrayasa juga sering menyisipkan kritik cerdas untuk senantiasa mengingatkan kepada kita arti dari kehidupan yang harmonis. Baik bersama alam, manusia, maupun kepada sang Maha Pencipta. (b.)
- Laporan: Radheya
- Penyunting: Ketut Jagra







