Sejak lama, warga Dadia Taman, Desa Adat Badeg Tengah, Desa Sebudi, Kecamatan Selat, Karangasem ingin mengungkap jejak leluhurnya. Di Merajan Dadia Taman, di Desa Adat Badeg Tengah tersimpan tiga naskah lontar dan lempengan tembaga yang sangat disucikan tetapi belum pernah dibaca secara utuh dan tuntas. Seluruh naskah itu pun dialihaksarakan dan dialihbahasakan. Jumat, 30 September 2022 lalu, hasil alih aksara dan alih bahasa itu pun didesiminasikan di ruang Dr. Ir. Soekarno, Fakultas Ilmu Budaya (FIB), Universitas Udayana (Unud). Dari hasil diseminasi itu terungkap tokoh bernama Ki Pasek Badeg sebagai keturunan Pasek dan prasanak Puseh.
Keinginan warga Dadia Taman untuk mengetahui isi naskah lontar dan tembaga itu semakin menguat setahun terakhir. Berdasarkan kesepakatan di Pasemetonan Dadia Taman, akhirnya disepakati untuk ngwacen (membaca) naskah-naskah itu. Melalui kerja sama dengan Unit Lontar Universitas Udayana (ULU) akhirnya ketiga naskah dan satu lempeng tembaga itu pun dibaca pada 21 Oktober 2021 di Pura Taman Ratu Pasek Desa Adat Badeg Tengah. Pembacaan awal itu dilakukan dosen Sastra Bali Unud, Putu Eka Guna Yasa. Karena pentingnya naskah itu, Pasemetonan Dadia Taman Badeg Tengah menyepakati untuk mengalihaksarakan dan mengalihbahasakannya. Alih aksara dan alih bahasa itu diserahkan ke ULU sebagai lembaga yang memiliki kapasitas untuk melakukannya.
Bendesa Desa Adat Badeg Tengah, Jro Nyoman Sidia menjelaskan alih aksara dan Alih Bahasa ini merupakan langkah awal menelusuri jejak leluhur serta mengenal silsilah keturunan pasemetonan. ”Kami hanya ingin kejelasan, apa sebenarnya isi dari naskah yang diwariskan oleh para leluhur kami,“ kata Jro Nyoman Sidia yang juga Kelian Pasemetonan Dadia Taman.
Pihaknya menyebutkan ada tiga naskah lontar dan dua lempeng tembaga murni milik Pasemetonan Dadia Taman, Banjar Badeg Tengah yang selama ini tersimpan rapi di Merajan Dadia Taman. Pihaknya bersyukur proses alih aksara dan alih bahasa sudah berhasil dilakukan. Hasil alih aksara dan alih bahasa ini akan dibukukan untuk bisa dibaca dan dipahami warga Pasemetonan Dadia Taman Desa Adat Badeg Tengah maupun masyarakat umum.
Sekretaris ULU, Putu Eka Guna Yasa memaparkan tahapan eksekusi alih aksara dan alih bahasa oleh tim Unit Lontar Unud bersama Ida Bagus Anom Wisnu Pujana.
Dalam pemaparanya, Ida Bagus Anom Wisnu Pujana mengatakan, terdapat tiga naskah lontar dan satu lempengan tembaga yang dimiliki Pasemetonan Pasek Badeg yang diupayakan agar isinya dipahami masyarakat. Dua naskah dalam kondisi rusak, satu naskah lontar dalam kondisi baik. Naskah dalam dua lembar lempengan tembaga, setelah dibaca isinya, ternyata sudah termuat di naskah lainnya. Satu naskah dalam kondisi baik yang diberi kode B yang kemudian diputuskan untuk dialihaksarakan dan dialihbahasakan. Naskah lontar itu tertulis menggunakan aksara Bali dan campuran bahasa Kawi Bali, dengan ejaan purwa dresta. Tanpa judul dan belum diketahui siapa pembuat dan tahun pembuatannya. Berdasarkan kandungan naskah serta tradisi penulisan judul dalam naskah tradisional Bali, tim alih aksara dan alih bahasa menandai naskah itu dengan judul Babad Badeg. Naskah Babad Badeg kode B itu berisi 15 lembar naskah lontar. Alih aksara dilakukan agar memudahkan pembacaan sehingga kemudian lebih mudah dipahami isinya.
Guna Yasa menjelaskan lontar Babad Badeg ini berisi dua hal. Pertama, cerita penaklukan Kerajaan Bali yang dipimpin Raja Bedanawa oleh Kerajaan Majapahit yang dipimpin Raja Hayam Wuruk. Ketika Kerajaan Bali dapat ditaklukkan, pemerintahannya kosong. Untuk mengisi kekosongan itu Majapahit mengutus Dalem Cili atau Dalem Ketut Kresna Kepakisan menjadi pemimpin.
Kedua, naskah lontar itu berisi silsilah keluarga Pasek. Disebutkan ada Ki Pasek Gelgel, Ki Pasek Denpasar, Pasek Tangkas, Pasek Nongan dan Ki Pasek Badeg. Di situ, Ki Pasek Badeg juga disebut sebagai prasanak Puseh.
Dalam sesi diskusi, guru besar Sastra Jawa Kuno FIB Unud, Prof. Made Suastika dan Prof. Nyoman Suarka memberikan sejumlah masukan. Menurutnya, penting dilakukan rekonstruksi aksara dari keempat naskah lontar Babad Badeg tersebut sehingga isinya dapat dipahami lebih komprehensif. (b.)
- Laporan: I Made Radheya
- Foto: I Made Radheya
- Penyunting: I Made Sujaya







