Menu

Mode Gelap
Tumpek Landep: Mengasah Senjata Paling Tajam dalam Hidup Siapkan “BMW” untuk Siswa, SMA Paris Gelar Ujian Kepariwisataan Mategepan, Wimbakara Bulan Bahasa Bali ring SMA Paris Klungkung Isyarat Regenerasi dari Lomba Musikalisasi Puisi Bali Ketika Suara Remaja Membuat Juri Lagu Pop Bali Menangis di Ksirarnawa

Bali Jani · 30 Mei 2022 08:07 WITA ·

Siwanggama: Pertemuan Puitik dan Obsesi Midas Puisi Sahadewa


					Guru besar sastra, Fakultas Ilmu Budaya (FIB), Unud, Prof. Dr. I Nyoman darma Putra, M.Litt. (paling kiri) membedah buku Siwanggama karya Dewa Putu Sahadewa (tengah) serta pemandu, Desi Nurani. Perbesar

Guru besar sastra, Fakultas Ilmu Budaya (FIB), Unud, Prof. Dr. I Nyoman darma Putra, M.Litt. (paling kiri) membedah buku Siwanggama karya Dewa Putu Sahadewa (tengah) serta pemandu, Desi Nurani.

Oleh I MADE SUJAYA

 

Membayangkan diri jadi Midas 

setiap benda yang kusentuh 

jadi puisi 

maka akan kusentuh isi kepala Putin, Kremlin, 

hulu nuklir dan Cernobyl 

kuelus pula Zelenskyy, Kyiev, dan Oddesa 

sebelum ke timur 

mengharap udara yang lebih dingin. 

Dewa Putu Sahadewa, penyair yang juga seorang dokter ahli kandungan, membayangkan dirinya menjadi Midas, raja dalam mitologi Yunani, yang mampu mengubah semua yang ia sentuh menjadi emas. Namun, Sahadewa ingin menjadi Midas puisi, yang mampu mengubah apa pun yang disentuhnya menjadi puisi. Sahadewa menuangkan obsesinya itu dalam sajak berjudul, “Membayangkan Diri”.

“Tapi rupanya itu bukan hal yang mudah. Perlu stamina dan ketahanan rasa dan pikiran yang tinggi. Banyak hal, banyak peristiwa, tempat dan benda yang terlewatkan untuk saya tuliskan,” kata Sahadewa.

Sahadewa mengakui menulis puisi sebagai suatu pelepasan atas hal-hal yang terpendam selama sekian waktu. Kegiatannya menunggu persalinan, menunggu anak lahir, dan banyak benturan dalam kehidupan sehari-hari yang terpendam dalam bawah sadarnya yang kemudian diungkapkannya secara sadar menjadi puisi.

Kenyataannya, Sahadewa yang mulai menulis puisi pada tahun 1980-an, memiliki sensibilitas yang kuat dalam menulis puisi. Dia mengalami dan menemui berbagai peristiwa, tempat, maupun benda lalu mengabadikannya menjadi puisi.

Buku kumpulan puisinya, Siwanggama, yang diluncurkan di Puri Langon, Ubud, Gianyar, Minggu, 29 Mei 2022, menunjukkan bagaimana kepekaan Sahadewa menangkap berbagai peristiwa sehari-hari dan menjadikannya sebagai peristiwa puitik. 99 sajak dalam buku itu mencerminkan interaksinya dengan berbagai peristiwa itu, laksana sebuah pertemuan, sebuah persenggamaan, yang mencapai puncaknya pada puisi.

Penggunaan istilah Siwanggama tampaknya juga mengisyaratkan spirit pertemuan dalam sajak-sajak Sahadewa. Sebagaimana dimaknai guru besar sastra Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Udayana (Unud), Prof. Dr. I Nyoman Darma Putra, M.Litt., yang menjadi pembedah. Menurutnya, Siwanggama merupakan gabungan dua kata, yaitu siwa dan anggama yang mengalami proses persandian menjadi Siwanggama.

Menurut Darma Putra, persandian atau pertemuan tampaknya menjadi tema utama dalam sajak-sajak Sahadewa pada buku ini. Ada banyak puisi yang temanya serah, pertemuan antara laki-laki dan perempuan.

“Saya melihat Siwanggama ini suatu siklus kelahiran, percintaan yang melahirkan kelahiran lalu kelahiran yang melahirkan percintaan,” kata Darma Putra.

Dalam hal gaya bahasa, Darma Putra menilai Sahadewa menunjukkan orisinalitasnya. Latar belakang sebagai dokter kandungan turut mempengaruhi orisinalitas gaya ucap Sahadewa. Darma Putra mencontohkan penggunaan larik, “kutitipkan dua puluh tiga angka/ kupasrahkan satu aksara/ saat bertemu putih air/ kekasihku//”.

Frasa ‘dua puluh tiga angka’ awalnya dikiranya sebagai simbolisasi aksara, tetapi setelah ditelusuri, frasa itu merujuk kepada 23 pasang kromosom yang dimiliki manusia. “Ini metafora seorang dokter yang dihadirkan dalam puisi,” kata Darma Putra.

Artikel ini telah dibaca 180 kali

badge-check

Redaksi

Baca Lainnya

Mategepan, Wimbakara Bulan Bahasa Bali ring SMA Paris Klungkung

27 Februari 2026 - 15:12 WITA

Isyarat Regenerasi dari Lomba Musikalisasi Puisi Bali

17 Februari 2026 - 22:31 WITA

Ketika Suara Remaja Membuat Juri Lagu Pop Bali Menangis di Ksirarnawa

16 Februari 2026 - 22:37 WITA

Janggal dan Tengal: Ketika AI Masuk ke Cerpen Bali

15 Februari 2026 - 21:45 WITA

Ketika Presiden Soroti Sampah Pantai Kuta, Jangan Lupakan Amanat UU Pengelolaan Pesisir

5 Februari 2026 - 06:02 WITA

Aksara Bali Naik Kelas, Dari Panggung Budaya ke Etalase Produk

1 Februari 2026 - 22:32 WITA

Trending di Bali Jani