Menu

Mode Gelap
Keragaman Fantasi dalam Festofantasy HUT ke-39 SMA Paris Edukasi Kesejahteraan Hewan, Ajak Anak-anak Kenali Zoonosis Kirab Nasionalisme Hari Kemerdekaan ala Desa Adat Kedonganan Baca Puisi Tak Sekadar Intonasi, Tapi Interpretasi: Dari LBP FULP se-Bali 2023 “Duwe” Desa Adat, Krama dan Prajuru Adat Wajib Bentengi LPD

Bali Jani · 24 Mei 2022 07:49 WITA ·

“Rajah Rasa”: Kombinasi Kekuatan Tradisi Lokal dan Daya Cipta Seni


					“Rajah Rasa”: Kombinasi Kekuatan Tradisi Lokal dan Daya Cipta Seni Perbesar

Oleh: I MADE RADHEYA

Bali sejak lama mengenal budaya rajah (gambar) sebagai tradisi lokal yang tidak hanya bernilai seni tinggi, tetapi juga sarat dengan nilai-nilai spiritualitas, bahkan magis. Budaya rajah ini merupakan kearifan lokal Bali yang dapat dijadikan sebagai kekuatan dalam meningkatkan kemampuan, membangkitkan daya cipta, dan menumbuhkan kreativitas seni.

Teba Kangin Pemanis Art Space yang bermarkas di Dusun Pemanis, Desa Biaung, Kecamatan Penebel, Kabupaten Tabanan, Bali mencoba mengangkat kekuatan tradisi lokal Bali itu dalam pameran bersama bertajuk Pameran Seni Rupa Indonesia Menggambar “Rajah Rasa”. Pameran yang diikuti 17 seniman Bali dengan 24 karya seni rupa itu dibuka Senin, 23 Mei 2022 dan berlangsung sepekan hingga 30 Mei 2022 mendatang.

Seniman yang memajang karyanya antara lain I Nyoman Gunarsa (alm), Made Wiradana, I Made Bakti Wiyasa, Nyoman Loka Suara, Ketut tenang, Ketut Sudita, Putu Wirantawan, I Putu Bagus Sastra Wedanta, Sri Srinaryo, I Katut Endrawan, I Made Somadita, Pande Nyoman Alit Wijaya Suta, Wayan Jengki Sunarta, Y. Olla, R.A. Ayu RatihWindari dan Ni Wayan Sutariyani. Pameran tersebut menjadi lebih istimewa, karena menghadirkan karya Maestro Nyoman Gunarsa yang memiliki kekuatan garis spontanitas dan artistik tinggi.

Pemilik Teba Kangin Pemanis Art Space, I Made Bakti Wiyasa menjelaskan dirinya menemukan dalam tradisi Bali, budaya rajah terdiri atas rajah organik yang digunakan untuk jimat, keselamatan dan pangasih-asih. Masyarakat Bali meyakini rerajahan sebagai kekuatan yang membangkitkan daya lindung, daya cipta, dan daya tarik yang luar biasa.

“Tradisi rajahdi Bali yang agung yang dikombinasikan dengan daya cipta dan kreativitas seni akan menghasilkan guratan gambar yang penuh kekuatan. Sebut saja guratan rajah organik yang menggunakan base (sirih), batu, pamor (kapur). Itu sarat dengan spirit, makna, selain artistik,” sebut pria yang dikenal getol dalam gerakan pelestarian situs-situs kuno ini.

Pameran Seni Rupa Indonesia Menggambar “Rajah Rasa” ini digelar secara nasional untuk membangkitkan kreativitas seni di masyarakat. Pameran Indonesia Menggambar ini, kata Bakti Wiyasa, merupakan kegiatan berskala nasional yang digelar secara sporadis oleh 250 komunitas seni secara mandiri dalam rangka memasyarakatkan  kegiatan mengambar di masyarakat sekaligus memperingati hari Kebangkitan Nasional dan pencangan bulan Mei sebagai Bulan Nasional Menggambar di Indonesia. Di Bali, kegiatannya dipusatkan di Pemanis, Tabanan. “Kegiatan ini sebagai bentuk pemajuan kebudayaan,” imbuh Bakti Wiyasa.

Pameran dibuka Asisten II Sekretariat Daerah Kabupaten Tabanan, I Wayan Kotia yang mewakili Bupati Tabanan. Turut mendampingi, Kepala Dinas Kebudayaan Kabupaten Tabanan, I Wayan Sugatra, Camat Penebel, tokoh masyarakat setempat dan seniman dari berbagai daerah. Pembukaan pameran dimeriahkan dengan kegiatan respons berupa pertunjukan seni oleh Kadek Hartini dan pembacaaan puisi oleh penyair I Wayan jengki Sunarta.

Tak hanya menyaksikan pameran lukisan, para peserta maupun pengunjung juga diberi kesempatan merespons kegiatan itu dengan menggoreskan kuas di atas kain merah maupun papan putih. Mereka juga diberi keleluasaan menuangkan goresannya pada media seadanya, seperti gelas kertas maupun lembaran kertas yang disediakan panitia. Pameran ini juga menarik karena kegiatan berlangsung sepenuhnya di natah rumah sehingga nuansa khas Bali begitu terasa. (b.) 

_________________________________

Foto: I MADE RADHEYA

Penyunting: I MADE SUJAYA

Artikel ini telah dibaca 27 kali

badge-check

Redaksi

Baca Lainnya

Kirab Nasionalisme Hari Kemerdekaan ala Desa Adat Kedonganan

17 Agustus 2023 - 16:38 WITA

Baca Puisi Tak Sekadar Intonasi, Tapi Interpretasi: Dari LBP FULP se-Bali 2023

8 Agustus 2023 - 15:57 WITA

“Duwe” Desa Adat, Krama dan Prajuru Adat Wajib Bentengi LPD

31 Juli 2023 - 19:48 WITA

“Ah”, Putu Wijaya Tak Pernah Berhenti Mengajak Berpikir

30 Juli 2023 - 22:10 WITA

Selain Seksualitas, Ada Juga Sisi Gelap Bali dalam Novel Ayu Utami

28 Juli 2023 - 11:12 WITA

Sederet Pekerjaan Rumah Bali Sebelum Gelar Pameran Buku Internasional

23 Juli 2023 - 23:16 WITA

Trending di Bali Jani