Menu

Mode Gelap
Bali United Optimistis Tatap Laga Lawan Visakha, Begini Prediksi Berbagai Media Fakta Menggelitik di Balik Indahnya Pesona Hutan Adat Demulih Menyusuri Keindahan Kawasan Suci Hutan Adat Desa Demulih “Nyaagang” di Klungkung, “Masuryak” di Tabanan: Tradisi Unik Hari Kuningan Walau tak Dibuka Presiden, PKB ke-44 (Mestinya) Tetap Keren

Bali Jani · 24 Mei 2022 02:31 WITA ·

“Finding Balance”: Menemukan Keseimbangan Hidup ala Sujana Kenyem


					Suasana pembukaan pameran tunggal Nyoman Sujana Kenyem bertajuk Perbesar

Suasana pembukaan pameran tunggal Nyoman Sujana Kenyem bertajuk "Finding Balance" 6 Mei-26 Juni 2022 di Teh Villa Galerry, Surabaya.

Dua tahun belakangan, manusia sejagat dipaksa oleh pandemi global Covid-19 untuk merenung dan bermeditasi, mencoba melongok lebih dalam lagi ke dalam relung-relung hati untuk menemukan kembali makna dan nilai-nilai hidup yang lebih hakiki. Menemukan keseimbangan hidup di masa sampar seperti itu sungguh merupakan kelapangan, ketenangan, dan kelegaan dalam menjalani kehidupan.

Spirit penemuan keseimbangan hidup semacam itu tampaknya yang disampaikan perupa asal Bali, Nyoman Sujana Kenyem dalam pameran karya senirupa bertajuk “Finding Balance” yang digelar di Teh Villa Gallery di kawasan Jalan Rungkut Industri no. 53 Surabaya.

Pameran yang dibuka 6 Mei 2022 dan akan berakhir pada 26 Juni 2022 ini merupakan pameran tunggal Sujana Kenyem yang menampilkan 29 karyanya. Pameran terbuka untuk umum dan dibuka setiap hari dengan dibagi dalam dua sesi. Sesi pertama mulai pukul 09.30–11.30 WIB dan sesi kedua mulai pukul 13.00–15.00 WIB.

Karya-karya Sujana Kenyem memang dikenal tak pernah lepas dari orientasi, tema dan objek-objek alam, seperti pohon, bulan, dan oasis. Namun, figur simplifikasi manusia juga selalu hadir, bahkan figur manusia yang khas ini telah menjadi penanda utama bagi seorang Sujana Kenyem.

“Menikmati karya-karya Sujana Kenyem tak hanya memberikan kenikmatan atas keindahan, tetapi juga menuntun ke narasi utama berupa keseimbangan komposisi bidang, sapuan warna-warna, detail goresan dan bahkan penggambaran figur-figur manusia yang seolah dalam pose mencari keseimbangan,” kata penulis Budhi Hasto.

Hartanto, panggagas pameran “Finding Balance” menilai figur-figur dalam karya-karya Sujana Kenyem merupakan ordinat dari tesis semesta yang dihadirkan di atas kanvasnya. Dalam penafsiran Hartanto, figur-figur dalam karya-karya Sujana Kenyem menegaskan bagaimana kehadiran manusia mempengaruhi kondisi alam, sehingga manusia mesti bijak berinteraksi dengan alam.

Sementara sosiolog Perancis, Jean Couteau, justru melihat figur-figur dalam karya-karya Sujana Kenyem bukanlah subjek yang memiliki kuasa utama. Menurutnya, figur-figur itu digambarkan secara datar tanpa aura ordinasi di dalam konstelasi objek-objek. Dengan kata lain, figur-figur tersebut hanyalah sebuah keniscayaan dalam sebuah eksistensi manusia.

Sujana Kenyem merupakan perupa kelahiran Sayan, Ubud, Bali 50 tahun yang lalu.  Dia seorang perupa akademik lulusan Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Bali yang sekarang menjadi Institut Seni Indonesia (ISI) Bali. Sujana Kenyem telah malang-melintang di berbagai kota di Indonesia maupun mancanegara, baik pameran bersama maupun pameran tunggal.

Pameran di dalam negeri yang pernah diikuti Sujana Kenyem antara lain di Jakarta, Yogyakarta, Bandung, Bali, Malang, Magelang. Sementara pameran di mancanegara seperti di International Art Biennale Beijing, juga di Singapura, Myanmar, Australia, Korea, Swedia, dan Malaysia.

Pameran ini merupakan sebuah rangkaian kegiatan berkelanjutan bagi Teh Villa Gallery setelah sukses dengan pameran perdana “Living in Harmony” medio Desember 2021 yang lalu. Dengan memanfaatkan ruang pabrik sebagai ajang edukasi dan apresiasi seni, galeri ini memang didirikan dengan visi-misi pencerahan melalui kebudayaan.

Seni adalah representasi budaya, dengan seni tidak saja dahaga estetika terpuaskan, namun juga memandu kita mengembara menemukan nilai-nilai kehidupan yang lebih bermakna. Ronald Sitolang, pendiri dan pemilik Teh Villa Gallery telah menancapkan tiang pancang tonggak visi-misi kebudayaan sebagai bentuk timbal balik dari rutinitas bisnis melalui karsa dan karya dari puncak piramida kebudayaan, yaitu karya seni, khususnya seni rupa. (b.) 

Penyunting: I Ketut Jagra

Artikel ini telah dibaca 24 kali

badge-check

Redaksi

Baca Lainnya

Bali United Optimistis Tatap Laga Lawan Visakha, Begini Prediksi Berbagai Media

27 Juni 2022 - 13:44 WITA

Fakta Menggelitik di Balik Indahnya Pesona Hutan Adat Demulih

24 Juni 2022 - 15:52 WITA

Menyusuri Keindahan Kawasan Suci Hutan Adat Desa Demulih

24 Juni 2022 - 12:18 WITA

Walau tak Dibuka Presiden, PKB ke-44 (Mestinya) Tetap Keren

11 Juni 2022 - 07:35 WITA

LPD Sedang “Seksi”, Jangan Biarkan Pengelola Berjuang Sendiri

6 Juni 2022 - 16:43 WITA

Beriang-riang Literasi Akar Rumput Kolaborasi KDBB-UPMI

4 Juni 2022 - 16:41 WITA

Trending di Bali Jani