Menu

Mode Gelap
Menggali Tradisi, Merawat Harmoni: Diseminasi TA Prodi Pendidikan Sendratasik UPMI Tumpek Landep: Mengasah Senjata Paling Tajam dalam Hidup Siapkan “BMW” untuk Siswa, SMA Paris Gelar Ujian Kepariwisataan Mategepan, Wimbakara Bulan Bahasa Bali ring SMA Paris Klungkung Isyarat Regenerasi dari Lomba Musikalisasi Puisi Bali

Bali Jani · 28 Mei 2022 22:30 WITA ·

Bali di Desa Semakin Senja Saja: Sepenggal Cerita di Hari Lansia


					Ni Ketut Sadri sedang melakukan panggilan video dengan cucu dan cicitnya yang tinggal di Denpasar. Perbesar

Ni Ketut Sadri sedang melakukan panggilan video dengan cucu dan cicitnya yang tinggal di Denpasar.

Oleh: I MADE SUJAYA

Senja makin merambat di Desa Tista, Kecamatan Busungbiu, Buleleng. Di sebuah bale sederhana di depan dapur rumahnya, Ni Ketut Sadri, perempuan tua yang usianya hampir 88 tahun dan Ni Ketut Raka, iparnya yang berusia sekitar 85 tahun, terlihat sibuk menyiapkan aneka sesaji untuk persiapan hari raya jelang Galungan.

Sadri sebetulnya belum sembuh benar dari sakitnya, tapi tetap ingin terlibat menyiapkan berbagai perlengkapan sesaji untuk menyambut rangkaian hari raya Galungan. Meski terbenam dalam kesibukan padat khas orang Bali, Sadri dan Raka tak merasa lelah.

Keduanya membayangkan perayaan Galungan yang penuh suka cita. Penyebab keceriaan keduanya tiada lain karena anak, menantu, cucu dan cicitnya yang tinggal di kota bakal pulang.

Maklum, setahun lalu dia kehilangan anak sulungnya. Suaminya sudah lebih dulu meninggalkannya beberapa tahun lalu.

Sadri memiliki empat anak laki-laki dan tiga wanita. Semuanya sudah menikah. Sebagian cucunya juga sudah menikah dan sudah memberikannya sejumlah cicit.

Kecuali anak sulungnya, semua anak dan cucunya merantau ke kota. Ada yang ke Singaraja, Denpasar, bahkan Jakarta. Namun, sejak ditinggal anak sulungnya, Sadri hanya tinggal bersama ipar dan menantunya.

Biasanya, kala hari Galungan, suasana rumah Sadri pun berubah total. Bila biasanya kesepian begitu membekap, saat hari Galungan, bukan hanya keramaian yang terjadi, juga keceriaan yang sungguh.

Anak, menantu, cucu, dan cicit itu pulang bukan hanya sekadar bersembahyang di sanggah keluarga, yang lebih penting justru berbagi canda dan tawa dengan Sadri dan Raka, dua orang tua yang masih tersisa di rumah itu.

Tak semua anak, cucu dan cicitnya pulang. Karena kesibukan padat yang beragam, ada juga yang tak bisa pulang.

Namun, kerinduan Sadri dan Raka tetap terobati. Berkat fasilitas panggilan video (video call) di aplikasi whatsapp, Sadri dan Raka bisa berbicara dan melihat wajah anak, cucu, dan cicitnya yang tidak sempat pulang itu.

Gumine ngangsan canggih. Saya tak pernah menduga bisa berbicara dan melihat wajah anak dan cucu yang berada jauh melalui telepon,” kata imbuh sang menantu, Ni Ketut Taman.

 

Artikel ini telah dibaca 379 kali

badge-check

Redaksi

Baca Lainnya

Menggali Tradisi, Merawat Harmoni: Diseminasi TA Prodi Pendidikan Sendratasik UPMI

31 Mei 2026 - 10:51 WITA

Mategepan, Wimbakara Bulan Bahasa Bali ring SMA Paris Klungkung

27 Februari 2026 - 15:12 WITA

Isyarat Regenerasi dari Lomba Musikalisasi Puisi Bali

17 Februari 2026 - 22:31 WITA

Ketika Suara Remaja Membuat Juri Lagu Pop Bali Menangis di Ksirarnawa

16 Februari 2026 - 22:37 WITA

Janggal dan Tengal: Ketika AI Masuk ke Cerpen Bali

15 Februari 2026 - 21:45 WITA

Ketika Presiden Soroti Sampah Pantai Kuta, Jangan Lupakan Amanat UU Pengelolaan Pesisir

5 Februari 2026 - 06:02 WITA

Trending di Bali Jani