Menu

Mode Gelap
Nyoman Weda Kusuma: Dari Tukang Sapu Pasar ke Guru Besar Usai Ngeroras, Desa Adat Kusamba Nuntun ke Goa Lawah dan Besakih Upacarai 223 Puspa, Ngeroras di Kusamba Dihadiri Ribuan Krama Benarkah Modal LPD dari Pemerintah? Upacarai 185 Sawa, 48 Patulangan Diarak Menuju Setra

Bali Jani · 28 Mei 2021 22:54 WITA ·

Ritual Agama Hindu Bisa Jadi Terapi Trauma Masyarakat Pascabencana


					Ujian terbuka I Nyoman Sarjana di Program Pascasarjana UHN IGB Sugriwa, Jumat, 28 Mei 2021. (balisaja.com/I Nyoman Rutha Ady) Perbesar

Ujian terbuka I Nyoman Sarjana di Program Pascasarjana UHN IGB Sugriwa, Jumat, 28 Mei 2021. (balisaja.com/I Nyoman Rutha Ady)

Ritual agama Hindu dapat difungsikan sebagai sarana merehabilitasi psikologi masyarakat yang terguncang (trauma) akibat dilanda bencana. Upacara Pemarisudha Karipubhaya yang dilaksanakan di Kuta pasca-Bom Bali tahun 2002 menunjukkan bagaimana upacara agama Hindu mampu mengembalikan guncangan psikologi yang dihadapi masyarakat, terutama di Kuta, sekaligus memberikan motivasi dan membangun optimisme. Upacara itu berkedudukan sebagai terapi keagamaan dalam pemulihan pariwisata Kuta dan Bali.

Pandangan ini dikemukakan I Nyoman Sarjana dalam ujian terbuka untuk meraih gelar doktor dalam bidang ilmu Agama di Program Pascasarjana Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar, Jumat, 28 Mei 2021. Sarjana yang juga Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Kecamatan Kuta, Kabupaten Badung ini berhasil mempertahankan disertasinya yang berjudul “Upacara Pamarisudha Karipubhaya dalam Recovery Pariwisata di Kuta Pasca-Bom Bali Tahun 2002” di hadapan sidang tim penguji yang dipimpin Direktur Program Pascasarjana UHN IGB Sugriwa, Prof. Dr. Dra. Relin, D.E., M.Ag. Sarjana bahkan dinyatakan lulus dengan predikat cumlaude. Sarjana tercatat sebagai doktor ke-90 di Program Pascasarjana UHN IGB Sugriwa.

Menurut Sarjana, upacara Pamarisudha Karipubhaya merupakan sebuah upacara yang merefleksikan pembersihan bhuana agung (makrokosmos) secara masif dan terstruktur. Upacara ini didasarkan pada aspek teologi Hindu serta kepercayaan lokal mengenai durmanggala (peristiwa buruk)-durbhiksa (krisis). Salah satu teks yang dijadikan acuan upacara ini, yakni Tutur Lebur Gangsa.

“Konteks terapi dalam hal ini tidak saja mengarah pada sisi kesehatan (secara psikologis), namun juga dapat diposisikan sebagai terapi sosial dan lingkungan,” ungkap mantan Ketua Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM) Kelurahan Legian ini.

Upacara Pamarisudha Karipubhaya dipilih sebagai jalan pemulihan pariwisata yang masuk melalui aspek psikologis sebab pelaksanaan upacara dimulai dari keyakinan batin terhadap upacara yang mampu memberikan rasa aman. Keyakinan tersebut direalisasikan melalui ritual yang menarik perhatian wisatawan untuk menyaksikan. Kedatangan wisatawan menjadi bagian dari usaha pemulihan sosial ekonomi dan menjadi bukti sosial amannya lingkungan Kuta sebagai tujuan wisata.

“Upacara Pamarisudha Karipubhaya menjadi sebuah upacara yang secara nyata mengembalikan kepercayaan dunia terhadap Kuta sebagai destinasi pariwisata,” kata Sarjana.

Upacara Pamarisudha Karipubhaya, jelas Sarjana, merupakan aspek ritual yang dipilih untuk memulihkan pariwisata pasca-Bom Bali secara niskala dan metafisik. Pemilihan upacara ini dilandasi oleh beberapa faktor, seperti teologi keagamaan, durmanggala-durbhiksa, salah pati, hiruk pikuk media massa, ketakutan secara sekala dan niskala, degradasi unsur tri hita karana, keterpurukan wisata Kuta pasca-Bom Bali tahun 2002, dan besarnya dorongan tokoh. Berbagai faktor tersebut mendorong pelaksanaan upacara Pamarisudha Karipubhaya yang dilakukan beberapa tahap, seperti pembentukan panitia, penentuan waktu sakral, pembuatan banten dan pelaksanaan inti upacara.

Upacara Pamarisudha Karipubhaya berimplikasi terhadap pariwisata Kuta, meliputi pemulihan citra pariwisata Kuta, baik dalam perspektif global dan lokal dan komunikasi antarbudaya di tengah pariwisata Kuta. Selain itu upacara Pamarisudha Karipubhaya juga menstimulus pengambilan kebijakan jangka panjang dan jangka pendek bagi kehidupan pariwisata dan masyarakat Kuta.

“Perlu ada penelitian lebih intensif lagi terhadap berbagai ritual agama Hindu lain yang memiliki fungsi sama seperti Pamarisudha Karipubhaya, yakni sebagai terapi trauma pascabencana. Ini penting dilakukan untuk menguatkan ajaran agama Hindu dan kearifan lokal Bali sebagai solusi dalam mengatasi masalah-masalah kemasyarakatan,” tandas Sarjana.

Promotor sekaligus Rektor UHN IGB Sugriwa, Prof. Dr. IGN Sudiana, M.Si., mengapresiasi disertasi Sarjana mengenai upacara Pamarisudha Karipubhaya pasca-Bom Bali 2002. Disertasi itu menguatkan keberadaan ritual agama Hindu sebagai solusi yang bijak dalam menyelesaikan suatu masalah besar semacam Bom Bali. (b./adv)

Artikel ini telah dibaca 20 kali

badge-check

Redaksi

Baca Lainnya

Usai Ngeroras, Desa Adat Kusamba Nuntun ke Goa Lawah dan Besakih

4 September 2022 - 09:52 WITA

Upacarai 223 Puspa, Ngeroras di Kusamba Dihadiri Ribuan Krama

31 Agustus 2022 - 12:40 WITA

Upacarai 185 Sawa, 48 Patulangan Diarak Menuju Setra

19 Agustus 2022 - 08:50 WITA

Patung Angsa Terbesar di Indonesia Jadi Ikon Bendungan Tamblang

8 Agustus 2022 - 18:20 WITA

Pascapandemi, LPD Kedonganan Mantapkan Transformasi Tata kelola dan Kaderisasi

6 Agustus 2022 - 16:40 WITA

Perjanjian Adat Sekala-Niskala Bisa Minimalisasi Kegagalan Kredit di LPD

26 Juli 2022 - 17:19 WITA

Trending di Bali Jani