Menu

Mode Gelap
Patung Angsa Terbesar di Indonesia Jadi Ikon Bendungan Tamblang Pascapandemi, LPD Kedonganan Mantapkan Transformasi Tata kelola dan Kaderisasi “Pacingkreman”, Kearifan Lokal Bali yang Mendasari Pendirian LPD Rayakan HUT ke-38, SMA Paris Klungkung “Rises From Pandemic” Perjanjian Adat Sekala-Niskala Bisa Minimalisasi Kegagalan Kredit di LPD

Bali Jani · 11 Mei 2021 08:59 WITA ·

Pengganti Pawai, “Peed Aya” Virtual PKB 2021 Mulai Digarap


					Pengganti Pawai, “Peed Aya” Virtual PKB 2021 Mulai Digarap Perbesar

Setelah tahun 2020 lalu sempat ditiadakan karena pandemi Covid-19, Pesta Kesenian Bali (PKB) tahun 2021 dipastikan kembali digelar. Namun, mengikuti ketentuan protokol kesehatan di masa pandemi, PKB dilaksanakan secara terbatas. Sebagian besar kegiatan dilaksanakan secara daring, sedangkan sebagian kecil kegiatan masih dilaksanakan secara luring tetapi dengan pembatasan peserta. Salah satu kegiatan pokok PKB, yakni pawai kesenian, yang biasanya dilaksanakan secara luring dan akbar, kini dilaksanakan secara daring. Panitia menamai pawai virtual ini dengan sebutan peed aya.

Pengambilan gambar untuk pembuatan video peed aya di kawasan Ubud, Gianyar, Bali, Senin, 10 Mei 2021.


Peed aya berasal dari kata peed yang berarti ‘arak-arakan’, sedangkan aya berarti ‘besar’. Karena itu, peed aya semacam upaya mencari padanan istilah pawai dalam bahasa Bali. Sebelumnya, panitia menggunakan istilah peed agung.

Peed aya virtual akan ditayangkan saat pembukaan PKB, 12 Juni 2021 mendatang. Presiden Joko Widodo direncanakan membuka PKB XLIII ini secara daring.

Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, Prof. Dr. I Gede Arya Sugiartha dalam keterangan persnya menjelaskan sejumlah materi yang akan ditampilkan secara daring di PKB sudah mulai digarap, termasuk peed aya. Peed aya PKB 2021 ini, imbuh Arya Sugiartha, mengangkat tema pratiti wana kerthi, yaitu “memuliakan pohon, membangun harmoni semesta raya menuju kehidupan yang sejahtera dengan jiwa yang mahasempurna”.

“Pengambilan gambar (tapping) peed aya sudah dilakukan mulai pekan ini dengan melibatkan sejumlah sanggar yang ditetapkan Disbud Provinsi Bali,” ungkap Arya Sugiartha.

Pengambilan gambar dilakukan di sejumlah lokasi destinasi wisata di Bali, mulai Senin, 10 Mei 2021. Diawali dari  Bukit Campuhan, Ubud, dengan pemandangan perbukitan yang hijau dan asri. Selain Ubud, pengambilan gambar peed aya juga dilakukan di sejumlah lokasi lain, seperti Pura Besakih, (Karangasem), Desa Penglipuran (Bangli), Kawasan Gunung Kawi (Gianyar) dan Air Terjun Kanto Lampo, Desa Beng (Gianyar).

Jumlah mata acara PKB tahun ini  jauh lebih sedikit dibandingkan sebelum pandemi. Total mata acara di bawah 100 kegiatan. “Kalau sebelum Covid -19, jumlah  kegiatan PKB di atas 200 acara. Tahun ini jauh berkurang, namun tetap dilaksanakan sebulan penuh, 12 Juni-10 Juli 2021,” imbuh Arya Sugiartha.

Tema PKB 2021

Tim Kreatif PKB 2021, Kadek Wahyudita mengungkapkan selaras dengan  tema pratiti wana kerthi, penggarap menyajikan beragam corak peed yang berbeda, unik serta mencerminkan pemuliaan alam dan kekhasan masing-masing daerah di Bali. Diawali dengan barisan aneka gebogan Bali, aneka busana kain dengan motif  klasik Bali dan iringan musik, antara lain barungan baleganjur, tektekan, gamelan suling dengan kekhasan masing-masing daerah di Bali.

Peed aya, imbuh Wahyudita, melibatkan ratusan seniman yang didandani para komposer, koreografer muda, berkolaborasi dengan pegiat videografer andal. Mereka antara lain Sanggar Seni Gumiart, Sanggar Gita Semara, Sanggar Palawara, Komunitas Bali Pixelart dan Komunitas Sama Kaki.

Koreografer, I Gede Gusman Adi Gunawan, mengungkapkan setiap lokasi yang dipilih akan menampilkan corak peed yang beragam. Menurut Wawan, pihaknya merasakan tantangan tersendiri dalam menggarap peed di luar panggung. “Kita benar-benar bertaruh waktu. Saat ini waktu sangat mepet, prosesnya sedikit rumit. Mulai dari menata gerak, pengambilan gambar hingga proses editing mesti digarap serius sehingga menjadi tayangan yang utuh. Semoga menjadi garapan yang menghibur masyarakat di  tengah pandemi ini,” harap Wawan, panggilan akrab I Gede Gusman Adi Gunawan.

________________________________

Penulis: I Made Radheya

Foto: I Made Radheya

Penyunting: I Made Sujaya

http://feeds.feedburner.com/balisaja/pHqI
Artikel ini telah dibaca 8 kali

badge-check

Redaksi

Baca Lainnya

Patung Angsa Terbesar di Indonesia Jadi Ikon Bendungan Tamblang

8 Agustus 2022 - 18:20 WITA

Pascapandemi, LPD Kedonganan Mantapkan Transformasi Tata kelola dan Kaderisasi

6 Agustus 2022 - 16:40 WITA

Perjanjian Adat Sekala-Niskala Bisa Minimalisasi Kegagalan Kredit di LPD

26 Juli 2022 - 17:19 WITA

Bali United Optimistis Tatap Laga Lawan Visakha, Begini Prediksi Berbagai Media

27 Juni 2022 - 13:44 WITA

Fakta Menggelitik di Balik Indahnya Pesona Hutan Adat Demulih

24 Juni 2022 - 15:52 WITA

Menyusuri Keindahan Kawasan Suci Hutan Adat Desa Demulih

24 Juni 2022 - 12:18 WITA

Trending di Bali Jani