Menu

Mode Gelap
Pelajaran Bahasa Bali, Menggali Kuburan Kata-kata Nyoman Weda Kusuma: Dari Tukang Sapu Pasar ke Guru Besar Usai Ngeroras, Desa Adat Kusamba Nuntun ke Goa Lawah dan Besakih Upacarai 223 Puspa, Ngeroras di Kusamba Dihadiri Ribuan Krama Benarkah Modal LPD dari Pemerintah?

Bali Jani · 1 Des 2020 09:31 WITA ·

Duo Penyair Klungkung Luncurkan Buku Puisi di SMA Pariwisata PGRI Dawan Klungkung


					Peluncuran buku puisi duo penyair Klungkung, I Wayan Suartha dan IBG Parwitha di SMA Pariwisata PGRI Dawan Klungkung, 30 November 2020. Perbesar

Peluncuran buku puisi duo penyair Klungkung, I Wayan Suartha dan IBG Parwitha di SMA Pariwisata PGRI Dawan Klungkung, 30 November 2020.

Dua guru SMA Paris yang juga penyair senior Klungkung meluncurkan dua buku kumpulan puisinya di SMA Paris, 30 November 2020. Kedua penyair itu, yakni I Wayan Suartha dengan buku Buku Harian Ibu Belum Selesai dan Ida Bagus Gde Parwita dengan buku Luka Purnama. Peluncuran kedua buku itu dilaksanakan secara luring dan daring bekerja sama dengan toko buku online jagadbuku, dengan memadukan model talk show dan partisipasi peserta dari luar melalui aplikasi video konferensi zoom meeting.

Kegiatan dalam rangka Gerakan Literasi Sekolah (GLS) SMA Paris bertajuk “Ngorbit10: Perayaan Buku Puisi dari Klungkung” itu dihadiri langsung sejumlah tokoh sastra, baik dari Klungkung maupun luar Klungkung, seperti Ngakan Kasub Sidan, IBW Widiasa Keniten, IB Pawanasuta, Dewa Gede Anom, Made Suar Timuhun, Desak Caturwangi, termasuk Wayan Jengki Sunarta, Made Sujaya dan Gde Aryantha Soethama. Puluhan guru dan pegiat sastra serta literasi di sejumlah daerah di Bali juga bergabung melalui zoom.

“Jalan Flamboyan 57 Semarapura itu tempat bersejarah dari dunia apresiasi sastra di Klungkung, bahkan di Bali. Di sinilah gradag-grudug apresiasi sastra Klungkung pada era tahun 1980-an dimulai. Di sini pusarannya. Jadi, sangat tepat kalau dua buku puisi karya kedua penyair Klungkung ini diluncurkan di SMA Paris yang bermarkas di Jalan Flamboyan 57,” kata I Made Sujaya, sastrawan yang menjadi moderator diskusi.

Ngakan Kasub Sidan mengaku senang dengan peluncuran buku puisi karya I Wayan Suartha dan IBG Parwita di Jalan Flamboyan 57 Semarapura. “Dulu kegiatan apresiasi sastra di Klungkung itu, ya, pusatnya di sini. Semoga dengan peluncuran buku ini, masa-masa kegairahan apresiasi sastra era 80-an bisa kembali. Apresiasi sastra di Klungkung bisa bangkit lagi,” kata Ngakan Kasub Sidan, penulis yang juga pensiunan pengawas SD di Klungkung.

Harapan senada disampaikan Kepala SMA 1 Semarapura, Dewa Gede Anom dan sastrawan yang juga pengawas SMA/SMK di Klungkung, IBW Widiasa Keniten. Peluncuran dua buku puisi karya pentolan Sanggar Binduana yang menjadi motor penggerak apresiasi sastra era 1980-an bisa dijadikan titik tolak untuk menghidupkan kembali gairah apresiasi sastra di Bumi Serombotan. Tentu, format kegiatannya disesuaikan dengan kebutuhan dan perkembangan masa kini.

Wakasek Kesiswaan SMA Paris, I Wayan Sudiartha yang mewakili pihak sekolah menyampaikan penghargaan dan terima kasih kepada para sastrawan dan pegiat literasi yang telah hadir dan mendukung acara peluncuran buku karya dua guru SMA Paris itu. “Mudah-mudahan dua buku puisi karya dua guru SMA Paris ini bisa memperkaya dunia sastra dan literasi di Klungkung, di Bali, bahkan secara nasional karena keduanya merupakan penyair yang sudah memiliki reputasi di Bali maupun nasional,” kata Sudiartha.

I Wayan Suartha mengungkapkan sudah ada rencana untuk membangkitkan kembali Sanggar Binduana melalui kolaborasi dengan ekstrakurikuler sastra di SMA Paris. Mulai tahun 2021, Sanggar Binduana dan SMA Paris akan menginisiasi suatu program rutin apresiasi sastra dan dokumentasi sastrawan Klungkung. “Kami mengajak kawan-kawan sastrawan, pegiat sastra dan literasi di Klungkung untuk bersama-sama menggarap hal ini,” kata Suartha.

IBG Parwita yang juga Kepala SMA Paris menyatakan siap mendukung upaya menggairahkan kegiatan apresiasi dan literasi kerja sama Sanggar Binduana dan SMA Paris itu. “Kegiatan literasi, termasuk apresiasi sastra, menjadi penting di tengah situasi seperti sekarang,” kata Parwita.

Wayan Jengki Sunarta yang menjadi pemantik diskusi menyebut dua buku puisi karya I Wayan Suartha dan IBG Parwita memiliki makna penting dalam dunia sastra di Bali. Pasalnya, karya kedua penyair tergolong kuat dan khas. “Sajak-sajak IBG Parwita terasa lebih impresif dan sublimatif, sedangkan sajak-sajak I Wayan Suartha terkesan lebih ekspresif dan dinamis. Seolah menunjukkan kepribadian keduanya yang berbeda, tetapi saling melengkapi. Parwita lebih tenang, ke dalam, sedangkan Suartha lebih meletup-letup, lebih ke luar,” kata Jengki. (b.)

Artikel ini telah dibaca 6 kali

badge-check

Redaksi

Baca Lainnya

Usai Ngeroras, Desa Adat Kusamba Nuntun ke Goa Lawah dan Besakih

4 September 2022 - 09:52 WITA

Upacarai 223 Puspa, Ngeroras di Kusamba Dihadiri Ribuan Krama

31 Agustus 2022 - 12:40 WITA

Upacarai 185 Sawa, 48 Patulangan Diarak Menuju Setra

19 Agustus 2022 - 08:50 WITA

Patung Angsa Terbesar di Indonesia Jadi Ikon Bendungan Tamblang

8 Agustus 2022 - 18:20 WITA

Pascapandemi, LPD Kedonganan Mantapkan Transformasi Tata kelola dan Kaderisasi

6 Agustus 2022 - 16:40 WITA

Perjanjian Adat Sekala-Niskala Bisa Minimalisasi Kegagalan Kredit di LPD

26 Juli 2022 - 17:19 WITA

Trending di Bali Jani