Menu

Mode Gelap
Nyoman Weda Kusuma: Dari Tukang Sapu Pasar ke Guru Besar Usai Ngeroras, Desa Adat Kusamba Nuntun ke Goa Lawah dan Besakih Upacarai 223 Puspa, Ngeroras di Kusamba Dihadiri Ribuan Krama Benarkah Modal LPD dari Pemerintah? Upacarai 185 Sawa, 48 Patulangan Diarak Menuju Setra

Bali Jani · 24 Jan 2020 12:32 WITA ·

Tangkil ke Pura Dalem Puri, Ketua PHDI Imbau Umat Lakukan Ini


					Tangkil ke Pura Dalem Puri, Ketua PHDI Imbau Umat Lakukan Ini Perbesar

Seiring dimulainya rangkaian upacara Usabha Pitra di Pura Dalem Puri Besakih, umat Hindu dari berbagai penjuru Bali pun mengarus pedek tangkil ke pura yang diyakini sebagai stana Dewi Durga itu. Bahkan, umat sudah memadati pura yang terletak di sebelah selatan Pura Besakih ini sejak malam hari Siwaratri, Kamis (23/1) lalu.
Seperti tahun-tahun sebelumnya, antusiasme umat yang hendak tangkil memang sangat tinggi. Itu sebabnya, kemacetan pada jalur-jalur menuju Pura Dalem Puri tak bisa dihindari. Banyak umat yang kemudian memilih celah hari-hari tertentu untuk menghindari kemacetan. Biasanya waktu yang dipilih saat tengah malam atau subuh.

Selain soal kemacetan, pemandangan yang kerap mewarnai ritual Usabha Pitra di Pura Dalem Puri, yakni sampah yang terserak di mana-mana. Bahkan, pemandangan umat bersembahyang di tengah-tengah sampah terserak kerap kali diunggah umat di lini masa facebook mereka.

Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Provinsi Bali, Prof. Dr. IGN Sudiana memaklumi kondisi itu. Pasalnya, umat yang tangkilbegitu membludak, sedangkan petugas kebersihan yang tersedia relatif terbatas.
Daripada saling menyalahkan, menurut Sudiana, lebih baik semua pihak turut mengambil peran masing-masing mengatasi permasalahan sampah yang berserakan itu. Umat yang tangkil, pinta Sudiana, mesti memiliki kesadaran untuk menangani sampahnya sendiri begitu usai bersembahyang.

Baca juga: Usabha Pitra Kembali Digelar di Pura Dalem Puri, Begini Rangkaian Upacara dan Maknanya
“Begitu usai bersembahyang, sampah-sampahnya agar dikumpulkan dan dibawa ke tempat sampah yang telah disediakan panitia,” kata Sudiana.
Rektor Institut Hindu Dharma Negeri (IHDN) Denpasar ini juga mengingatkan kembali umat agar tidak membawa kantong plastik untuk membungkus banten dan perlengkapan upacara lainnya sesuai Peraturan Gubernur Bali Nomor 97 tahun 2018 tentang Pembatasan Timbulan Sampah Plastik Sekali Pakai. “Mungkin bisa gunakan kain atau tas kain yang lebih ramah lingkungan,” kata Sudiana.
Tak hanya itu, umat yang memiliki kesempatan untuk ngayah didorong untuk turut terjun ngayah mareresik membersihkan sampah yang ada di areal pura selama upacara berlangsung. “Tidak bisa persoalan sampah upacara ini dibebankan kepada panitia. Kita semua, seluruh umat Hindu mesti berparan serta,” tegas Sudiana.
Kendati begitu, Sudiana juga mendorong pemerintah daerah, baik di kabupaten maupun provinsi untuk bisa mewujudkan penyediaan mesin pengolah sampah upacara seperti yang digunakan di luar negeri. Mesin pengolah sampah upacara ini akan sangat membantu mengatasi makin terbatasnya tempat pembuangan akhir sampah di Bali. (b.)
________________________________________
Teks: Ketut Jagra

http://feeds.feedburner.com/balisaja/pHqI
Artikel ini telah dibaca 39 kali

badge-check

Redaksi

Baca Lainnya

Usai Ngeroras, Desa Adat Kusamba Nuntun ke Goa Lawah dan Besakih

4 September 2022 - 09:52 WITA

Upacarai 223 Puspa, Ngeroras di Kusamba Dihadiri Ribuan Krama

31 Agustus 2022 - 12:40 WITA

Upacarai 185 Sawa, 48 Patulangan Diarak Menuju Setra

19 Agustus 2022 - 08:50 WITA

Patung Angsa Terbesar di Indonesia Jadi Ikon Bendungan Tamblang

8 Agustus 2022 - 18:20 WITA

Pascapandemi, LPD Kedonganan Mantapkan Transformasi Tata kelola dan Kaderisasi

6 Agustus 2022 - 16:40 WITA

Perjanjian Adat Sekala-Niskala Bisa Minimalisasi Kegagalan Kredit di LPD

26 Juli 2022 - 17:19 WITA

Trending di Bali Jani