Menu

Mode Gelap
Integrasi Literasi dalam Pembelajaran dan Digital Kultur: Workshop Literasi-Numerasi SMPN 1 Selemadeg Timur Tunduk Pada Pararem, LPD Kedonganan Terapkan Laporan Keuangan Adat Bebantenan, Cara Manusia Bali Menjaga Alam Semesta SMAN 1 Ubud dan SMAN 2 Semarapura Juarai Lomba Bulan Bahasa Bali di UPMI Bali Bulan Bahasa Bali VI Jalan Terus, Tapi di Hari Coblosan “Prai” Sejenak

Bali Tradisi · 5 Nov 2015 21:50 WITA ·

Begini Makna Tradisi “Bayuh Oton Wuku Wayang”


					Seorang anak menonton pementasan Wayang Lemah dalam suatu upacara. Perbesar

Seorang anak menonton pementasan Wayang Lemah dalam suatu upacara.

Wuku (siklus tujuh harian) Wayang yang dimulai pada Minggu (1/11) senantiasa disambut manusia Bali dengan istimewa. Sebagai wuku, Wayang memang kerap disebut sebagai pekan keramat.

Namun, justru di pekan keramat inilah manusia Bali menggelar aneka ritual penyucian. Lazimnya, mereka yang lahir wuku Wayang menggelar ruwatan. Tradisi Bali menyebutnya sebagai bayuh oton (ruwatan).

Adanya tradisi mabayuh oton inilah yang membuat mereka yang lahir saat wuku Wayang dianggap kurang beruntung. Jika boleh memilih, orang Bali bakal menghindari anak-anak mereka lahir di wuku Wayang. Teks-teks tradisi menyebut anak kelahiran wuku Wayang salah wadi atau lahir salah.

Keyakinan ini berakar pada kisah dalam mitologi Kalapurana. Lontar itu mengisahkan putra Batara Siwa, Batara Kala yang bertabiat seperti raksasa mengejar adiknya sendiri, Batara Kumara untuk disantap. Sang adik yang lahir saat Sabtu Kliwon wuku Wayang itu melarikan diri lalu disembunyikan di dalam dalam bungbung gender Ki Dalang dan akhirnya selamat.

Dosen IHDN Denpasar, I Made Wiradnyana menyatakan tradisi bayuh oton wuku Wayang membentangkan makna kontemplatif yang teramat dalam. Wayang dalam pemahaman tetua Bali bukan sekadar sebuah tontonan, tetapi juga sebuah tuntunan.

Dahsyatnya lagi, wayang tiada lain cerminan tuntunan dari dalam diri. Lantaran wayang juga bermakna bayangan. Bayangan begitu dekat dan cenderung identik dengan diri sendiri layaknya bayangan seseorang saat berdiri di depan cermin. Apa yang ada dalam diri, itu pula yang akan tampak dalam bayangan.

“Itu sebabnya, bayuh oton wuku Wayang sejatinya sebuah ruwatan dari dalam diri, bukan dari luar diri,” kata Wiradnyana yang meneliti teks Kala Purana.

Mereka yang melaksanakan ruwatan saat wuku Wayang, kata Wiradnyana, semestinya menjemput segala ritual bayuh oton dengan kelahiran kesadaran dan pikiran baru dari dalam dirinya sendiri. Jika hendak berubah, maka ikhtiar perubahan itu harus terbit dan menguat dari dalam diri.

“Semacam Revolusi Mental yang didengungkan Pemerintahan Jokowi-JK kini,” imbuh Wiradnyana. (b.)

  • Penulis: I Ketut Jagra
Artikel ini telah dibaca 393 kali

badge-check

Redaksi

Baca Lainnya

“Banyupinaruh”: “Malukat” Dahulu, “Nyurud Nasi Pradnyan” Kemudian

21 Mei 2023 - 08:18 WITA

Pamacekan Agung, Titik Temu Galungan-Kuningan

9 Januari 2023 - 11:54 WITA

Hari Ini Nyepi Segara di Kusamba, Begini Sejarah, Makna, dan Fungsinya

9 November 2022 - 08:17 WITA

“Nyaagang” di Klungkung, “Masuryak” di Tabanan: Tradisi Unik Hari Kuningan

18 Juni 2022 - 14:29 WITA

Magalung di Kampung: Sembahyang Subuh, Munjung ke Kuburan, Malali ke Pesisi

8 Juni 2022 - 16:31 WITA

Tiga Jenis Otonan dalam Tradisi Bali

26 Mei 2022 - 00:57 WITA

Trending di Sima Bali