Menu

Mode Gelap
Pelajaran Bahasa Bali, Menggali Kuburan Kata-kata Nyoman Weda Kusuma: Dari Tukang Sapu Pasar ke Guru Besar Usai Ngeroras, Desa Adat Kusamba Nuntun ke Goa Lawah dan Besakih Upacarai 223 Puspa, Ngeroras di Kusamba Dihadiri Ribuan Krama Benarkah Modal LPD dari Pemerintah?

Bali Jani · 20 Jun 2015 21:54 WITA ·

“Monumen” Engeline, Kesadaran Baru Antikekerasan Terhadap Anak


					“Monumen” Engeline, Kesadaran Baru Antikekerasan Terhadap Anak Perbesar

Sabtu (20/6) kemarin, sepuluh hari setelah jazad Engeline ditemukan, Komisi Nasional (Komnas) Perlindungan Anak Indonesia bersama Pemerintah Kota Denpasar menetapkan bocah malang berusia delapan tahun itu sebagai ikon atau simbol perlawanan kekerasan terhadap anak. Bahkan, berkembang rencana membangun monumen untuk mengenang Engeline. Monumen itu diharapkan mengingatkan orang untuk menghentikan penelantaran, eksploitasi dan kekerasan terhadap anak. 

“Kematian putri cantik Engeline kita jadikan momentum agar anak-anak Indonesia melawan kekerasan itu dan anak-anak Indonesia bisa diselamatkan,” kata Ketua Komnas Perlindungan Anak Indonesia, Arist Merdeka Sirait. 


Senyatanya, Engeline memang telah menjelma “monumen”. “Monumen” itu berdiri tegak di dalam hati setiap orang. Manakala menyebut kasus kekerasan terhadap anak, kini orang langsung teringat wajah manis Engeline. Drama yang mengiringi kasus ini memperkuat ingatan orang atas kasus Engeline. 

“Monumen” Engeline di dalam hati adalah kesadaran baru untuk membesarkan anak-anak tanpa kekerasan. “Monumen” Engeline di dalam sanubari adalah sikap kultural untuk peduli tatkala mengetahui atau membaca tanda-tanda seorang anak menjadi korban kekerasan, di mana pun, kapan pun. 

Justru, “monumen” di dalam diri ini yang lebih kuat tinimbang monumen fisik di luar diri. Pasalnya, sikap antikekerasan terhadap anak erat kaitannya dengan berbagai faktor penyebab yang amat kompleks. Mulai dari kemiskinan hingga sikap permisif masyarakat dalam memandang kasus kekerasan terhadap anak yang terjadi di lingkungannya. 

Pemerintah Kota Denpasar tampaknya tepat mengambil peran ini, terlebih lagi ibukota Provinsi Bali ini sempat dinobatkan sebagai Kota Layak Anak. Kasus Engeline tidak mesti disikapi sebagai tamparan atas penghargaan Kota Layak Anak yang didapat, tetapi justru dijadikan momentum memperkuat dan mempertajam langkah konkret mewujudkan Denpasar sebagai Kota Layak Anak. (b.)

Teks: Sujaya


http://feeds.feedburner.com/balisaja/pHqI
Artikel ini telah dibaca 27 kali

badge-check

Redaksi

Baca Lainnya

Usai Ngeroras, Desa Adat Kusamba Nuntun ke Goa Lawah dan Besakih

4 September 2022 - 09:52 WITA

Upacarai 223 Puspa, Ngeroras di Kusamba Dihadiri Ribuan Krama

31 Agustus 2022 - 12:40 WITA

Upacarai 185 Sawa, 48 Patulangan Diarak Menuju Setra

19 Agustus 2022 - 08:50 WITA

Patung Angsa Terbesar di Indonesia Jadi Ikon Bendungan Tamblang

8 Agustus 2022 - 18:20 WITA

Pascapandemi, LPD Kedonganan Mantapkan Transformasi Tata kelola dan Kaderisasi

6 Agustus 2022 - 16:40 WITA

Perjanjian Adat Sekala-Niskala Bisa Minimalisasi Kegagalan Kredit di LPD

26 Juli 2022 - 17:19 WITA

Trending di Bali Jani