Menu

Mode Gelap
Tumpek Landep: Mengasah Senjata Paling Tajam dalam Hidup Siapkan “BMW” untuk Siswa, SMA Paris Gelar Ujian Kepariwisataan Mategepan, Wimbakara Bulan Bahasa Bali ring SMA Paris Klungkung Isyarat Regenerasi dari Lomba Musikalisasi Puisi Bali Ketika Suara Remaja Membuat Juri Lagu Pop Bali Menangis di Ksirarnawa

Rerahinan · 10 Apr 2015 23:05 WITA ·

Tumpek Wayang, Hari Kesenian ala Bali


					Seorang dalang sedang mementaskan pertunjukan wayang. Perbesar

Seorang dalang sedang mementaskan pertunjukan wayang.

Orang Bali amat memuliakan kesenian. Ketaqwaan orang Bali ditunjukkan dengan laku berkesenian. Nyaris tidak ada ritual keagamaan orang Bali yang tidak mendapat sentuhan kesenian. Bagi orang Bali, kesenian ibarat nafas, sesuatu yang tak terpisahkan dalam diri mereka.

Saking pentingnya arti kesenian, orang Bali mengenal tradisi perayaan khusus untuk memuliakan kesenian. Tradisi itu dikenal dengan nama hari Tumpek Wayang. Ini perayaan yang jatuh setiap 210 hari sekali, tepatnya pada Saniscara Kliwon wuku Wayang. Berdasarkan perhitungan kalender Bali, perayaan itu jatuh Sabtu (11/4) hari ini.

Dosen Institut Hindu Dharma Negeri (IHDN) Denpasar, I Made Wiradnyana mengungkapkan secara tradisional, Tumpek Wayang sering juga disebut sebagai Tumpek Ringgit. Hal ini berkaitan erat dengan pemahaan masyarakat Bali mengenai Tumpek Wayang sebagai upacara terhadap segala jenis reringgitan (dalam bahasa Jawa Kuna, ringgit berarti ‘wayang’).

Namun, dalam lontar Sundarigama disebutkan, Tumpek Wayang sebagai pemujaan terhadap Sang Hyang Widhi Wasa dalam manifestasi sebagai Sang Hyang Iswara, penguasa dalam bidang kesenian. Dari sinilah muncul pemahaman mengenai Tumpek Landep sebagai hari kesenian ala Bali.

“Yang diupacarai saat Tumpek Wayang bukan hanya wayang, tapi juga gong, gender, angklung, saron, kentongan, dan benda-benda seni lain,” kata Wiradnyana.

Barangkali karena berkaitan dengan upacara terhadap segala jenis benda-benda seni tabuh itulah lantas muncul pemaknaan baru terhadap Tumpek Wayang sebagai pembelajaran demokrasi ala Bali. Seni tabuh atau gamelan Bali yang melibatkan banyak unsur mencerminkan semangat keharmonisan dalam keberagaman. Keharmonisan melahirkan keindahan sehingga menghadirkan kepuasan di hati penonton.

Keharmonisan dalam gamelan Bali lahir dari perpaduan berbagai unsur yang beragam, berbeda-beda. Setiap unsur berperan sesuai porsi dan proporsinya (swadharma). Tidak ada yang lebih dominan karena semua berperan, semua berkontribusi. Manakala salah satu mendominasi yang lain, keharmonisan terganggu. Keindahan gamelan pun rusak. (b.)

  • Penulis: I Ketut Jagra
Artikel ini telah dibaca 688 kali

badge-check

Redaksi

Baca Lainnya

Tumpek Landep: Mengasah Senjata Paling Tajam dalam Hidup

18 April 2026 - 06:23 WITA

Jadikan Semangat Perang Kusamba Inspirasi Menjaga Warisan Budaya Nyepi Segara

5 November 2025 - 20:53 WITA

“Masayut Tipat”, Sucikan Diri Songsong Era Baru

28 Maret 2025 - 21:08 WITA

Cegah Bhuta Kala, Warga Pupuan Pasang “Empegan” di Gerbang Rumah

28 Maret 2025 - 18:12 WITA

Nyepi untuk Semua

28 Maret 2025 - 14:47 WITA

Ogoh-Ogoh dan Persatuan Gerak Generasi Muda

28 Maret 2025 - 14:23 WITA

Trending di Rerahinan