Menu

Mode Gelap
Menggali Tradisi, Merawat Harmoni: Diseminasi TA Prodi Pendidikan Sendratasik UPMI Tumpek Landep: Mengasah Senjata Paling Tajam dalam Hidup Siapkan “BMW” untuk Siswa, SMA Paris Gelar Ujian Kepariwisataan Mategepan, Wimbakara Bulan Bahasa Bali ring SMA Paris Klungkung Isyarat Regenerasi dari Lomba Musikalisasi Puisi Bali

Bali Jani · 22 Okt 2014 22:15 WITA ·

Sekolah Mesti Dorong Siswa dan Guru Menulis Buku


					Sekolah Mesti Dorong Siswa dan Guru Menulis Buku Perbesar

Sekolah mesti mendorong siswa dan guru untuk berlomba menulis lalu menerbitkannya menjadi buku. Sekolah yang mampu menerbitkan buku karya siswa dan gurunya layak diberikan penghargaan atau insentif. Langkah ini penting untuk memperkuat budaya literasi di sekolah.


Pandangan ini dikemukakan dosen Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni (FPBS) IKIP PGRI Bali, I Made Sujaya saat menjadi pembicara dalam acara bedah buku Sang Juara karya para siswa, alumni dan guru SMA 1 Kuta Selatan di sekolah setempat, Selasa (21/10).


Menurut Sujaya, menulis dan menerbitkan buku sejatinya setara nilainya dengan membangun sebuah gedung. Pasalnya, buku merupakan candi pustaka yang mengabadikan pengetahuan dan pemikiran penulisnya. Buku juga membuka jalan bagi berkembangnya pemikiran dan pengetahuan di masa depan. Itu sebabnya, terbitnya sebuah buku patut disyukuri dan diapresiasi. Terlebih lagi jika buku itu merupakan karya para siswa dan guru.

“Selama ini siswa menulis dalam rangka lomba atau tugas di kelas. Guru juga menulis karena ingin naik pangkat. Sekarang harus ada revolusi mental, menulis itu karena tanggung jawab sebagai intelektual. Target menulis pun harus terbit menjadi buku, bukan lagi sebuah tulisan terserak,” kata Sujaya yang juga penulis dan penyunting buku.

Menulis buku bagi siswa dan guru, imbuh Sujaya, bisa dilakukan sendiri-sendiri, bisa juga berkelompok. Sekolah bisa merancang program penerbitan minimal satu buku setahun.

Kepala SMA 1 Kuta Selatan, I Nyoman Tingkat menjelaskan buku Sang Juara merupakan himpunan tulisan karya siswa, alumni dan guru-guru setempat. Sebagian besar tulisan dalam buku itu merupakan karya siswa dan alumni yang pernah memenangi sejumlah lomba penulisan. Sementara tulisan guru merupakan karya pendamping untuk memotivasi para guru agar mau menulis sesuai tuntutan kompetensinya sebagai guru.

“Buku ini, selain sebagai upaya mendokumentasikan karya siswa dan alumni yang pernah menjadi juara lomba penulisan juga sebagai pelecut semangat bagi kami untuk menggairahkan budaya menulis,” kata Tingkat yang sudah meluncurkan tiga buku tunggal: Berguru dalam Jejak Sastra, Tergantung Guru dan Sastra di Mata Guru.

Selain bedah buku, kegiatan serangkaian HUT ke-15 SMA 1 Kuta Selatan dan perayaan Bulan Bahasa 2014 itu juga diisi lomba menulis esai SMA/SMK se-Badung dan lomba majalah dinding tingkat SMP se-Kecamatan Kuta Selatan. Sejumlah lomba internal juga digelar untuk memeriahkan perayaan lustrum ketiga sekolah di Desa Kutuh itu. Puncak perayaan HUT dilaksanakan Rabu (28/10) mendatang di Garuda Wisnu Kencana. (b.)

http://feeds.feedburner.com/balisaja/pHqI
Artikel ini telah dibaca 59 kali

badge-check

Redaksi

Baca Lainnya

Menggali Tradisi, Merawat Harmoni: Diseminasi TA Prodi Pendidikan Sendratasik UPMI

31 Mei 2026 - 10:51 WITA

Mategepan, Wimbakara Bulan Bahasa Bali ring SMA Paris Klungkung

27 Februari 2026 - 15:12 WITA

Isyarat Regenerasi dari Lomba Musikalisasi Puisi Bali

17 Februari 2026 - 22:31 WITA

Ketika Suara Remaja Membuat Juri Lagu Pop Bali Menangis di Ksirarnawa

16 Februari 2026 - 22:37 WITA

Janggal dan Tengal: Ketika AI Masuk ke Cerpen Bali

15 Februari 2026 - 21:45 WITA

Ketika Presiden Soroti Sampah Pantai Kuta, Jangan Lupakan Amanat UU Pengelolaan Pesisir

5 Februari 2026 - 06:02 WITA

Trending di Bali Jani