Menu

Mode Gelap
Nyoman Weda Kusuma: Dari Tukang Sapu Pasar ke Guru Besar Usai Ngeroras, Desa Adat Kusamba Nuntun ke Goa Lawah dan Besakih Upacarai 223 Puspa, Ngeroras di Kusamba Dihadiri Ribuan Krama Benarkah Modal LPD dari Pemerintah? Upacarai 185 Sawa, 48 Patulangan Diarak Menuju Setra

Cakepan · 5 Agu 2013 09:59 WITA ·

Watugunung, Kisah Sang Penakluk dari Kundadwipa


					Watugunung, Kisah Sang Penakluk dari Kundadwipa Perbesar

Siapa sesungguhnya Watugunung? Dalam sejumlah lontar, Watugunung disebut sebagai seorang yang kuat dan sakti. Dalam lontar Medang Kemulan, Watugunung diceritakan sebagai putra dari Dewi Sintakasih, permaisuri Kerajaan Kundadwipa.

Disebutkan Raja Danghyang Kulagiri yang memerintah di Kundadwipa. Raja ini mempunyai dua istri yakni Dewi Sintakasih dan Dewi Sanjiwartia. Suatu ketika Danghyang Kulagiri sedang bertapa di Gunung Semeru. Sementara istrinya, Dewi Sintakasih sedang mengandung.

Semakin hari perut Dewi Sintakasih semakin membesar. Akhirnya Dewi Sintakasih dan Dewi Sanjiwartia memutuskan untuk menyusul Danghyang Kulagiri ke Gunung Semeru. Ternyata dalam perjalanan menuju puncak gunung, Dewi Sintakasih melahirkan tepat di atas batu besar yang datar. Sang bayi yang dilahirkan terjatuh. Namun anehnya, sang putra tidak apa-apa, malah batunya terbelah menjadi dua.

Atas anugerah Dewa Brahma, bayi Dewi Sintakasih itu diberi nama I Watu Gunung. Dewa Brahma bersabda Watu Gunung akan menjadi orang sakti dan terkenal serta tidak akan mati terbunuh oleh Dewa, Danawa, Detya, Asura maupun manusia. Ia tidak akan mati di malam hari, di siang hari, di alam bawah atau di alam atas serta tak akan mati oleh segala jenis senjata. Namun, Dewa Brahma memberitahu rahasia, Watuy Gunung hanya akan mati  di tangan Dewa Wisnu.

Watu Gunung kecil tumbuh terlalu pesat. Nafsu makannya sangat besar hingga membuatnya ibunya kewalahan. Suatu hari, Watu Gunung meminta makan dan ibunya tidak mampu menahan emosi langsung memukul kepala anaknya dengan sendok nasi hingga terluka dan berdarah.

Karena dipukul Watu Gunung minggat dari istana menuju Gunung Himalaya. Di gunung ini ia menjadi perampok. Lantaran kesaktiannya, tidak ada yang bisa melawannya. Raja Giriswara yang menguasai wilayah itu mendengar cerita soal Watu Gunung lalu menyerangnya. Namun, serangan itu bisa dipatahkan. Malah sebaliknya, Watu Gunung membunuh Raja Giriswara lalu menguasai kerajaannya. Sesudahnya, Watu Gunung menaklukkan kerajaan-kerajaan lainnya. Ada27 kerajaan yang berhasil ditaklukkannya.
Kini tinggal kerajaan Kundadwipa yang belum ditaklukkannya. Di sanaberkuasa dua raja perempuan bernama Dewi Sintakasih dan Dewi Sanjiwartia yang tidak lain ibunya sendiri. Akhirnya, kerajaan ini pun bisa ditaklukkan dan keduanya dinikahi.

Saat berkasih-kasihan, Dewi Sintakasih dan Dewi Sanjiwartia sedang mencari kutu di kepala Watugunung. Saat itulah dilihat ada luka di kepala Watugunung. Dewi Sintakasih pun sadar itu adalah putranya. Saat bersamaan terjadilah gempa bumi yang dahsyat. Dewa Siwa yang tahu gempa bumi itu diakibatkan adanya seorang manusia mengawini ibunya sendiri lalu mengutuk Watugunung akan mati di tangan Dewa Wisnu.

Dewi Sintakasih teringat akan rahasia yang diberikan Dewa Brahma bahwa anaknya akan mati di tangan Dewa Wisnu. Dewi Sintakasih yang sedang hamil pun mengatakan dirinya ngidam dan meminta Watugunung untuk menjadikan Dewi Sri, istri Dewa Wisnu sebagai madu.

Watugunung pun menemui Dewa Wisnu dan menyampaikan maksudnya. Terang saja Dewa Wisnu murka. Terjadilah kemudian pertempuran yang hebat antara Wisnu dan Watugunung. Dewa Wisnu menjelma menjadi kurma (kura-kura) dan berhasil mengalahkan Watugunung. Saat dia dikalahkan itu dinamai Watugunung Runtuh.

Dari kisah ini kemudian lahir 30 wuku. Wuku pertama yakni Sinta dan Landep yang diambil dari nama ibunya, Dewi Sinta dan Sanjiwartia. Wuku terakhir adalah nama Watugunung sendiri. 27 nama wuku lainnya diambil dari nama kerajaan-kerajaan yang ditaklukkan Watugunung. (b.)

___________________________ 

Penulis: I Made Sujaya 
Foto: I Made Sujaya 
Penyunting: Ketut Jagra


http://feeds.feedburner.com/balisaja/pHqI
Artikel ini telah dibaca 107 kali

badge-check

Redaksi

Baca Lainnya

“Nyaagang” di Klungkung, “Masuryak” di Tabanan: Tradisi Unik Hari Kuningan

18 Juni 2022 - 14:29 WITA

Magalung di Kampung: Sembahyang Subuh, Munjung ke Kuburan, Malali ke Pesisi

8 Juni 2022 - 16:31 WITA

Tiga Jenis Otonan dalam Tradisi Bali

26 Mei 2022 - 00:57 WITA

Tari Rejang: Warisan Bali Kuno, Simbol Keindahan dan Kesucian

4 Juni 2021 - 22:50 WITA

“Bahan Roras”, Pelaksana Harian Pemerintahan Adat di Tenganan Pagringsingan

2 Juni 2021 - 21:23 WITA

Makare-kare Tenganan Pagringsingan

Kancan Roras, Kepemimpinan Ulu Apad di Penglipuran

31 Mei 2021 - 21:53 WITA

Angkul-angkul Penglipuran
Trending di Desa Mawacara