Menu

Mode Gelap
“Pacingkreman”, Kearifan Lokal Bali yang Mendasari Pendirian LPD Rayakan HUT ke-38, SMA Paris Klungkung “Rises From Pandemic” Perjanjian Adat Sekala-Niskala Bisa Minimalisasi Kegagalan Kredit di LPD Bali United Optimistis Tatap Laga Lawan Visakha, Begini Prediksi Berbagai Media Fakta Menggelitik di Balik Indahnya Pesona Hutan Adat Demulih

Desa Mawacara · 1 Mar 2013 09:08 WITA ·

Jangan Tebang Pohon di Wenara Wana Ubud!


					Jangan Tebang Pohon di Wenara Wana Ubud! Perbesar

Oleh: I MADE SUJAYA


Jika Sangeh memiliki objek wisata Alas Pala, Ubud juga memiliki Wenara Wana. Seperti namanya, hutan seluas 8 hektare ini juga dihuni ratusan kera berekor panjang (wenaraberarti ‘kera’ sedangkan wana berarti ‘hutan’). Karenanya, di kalangan wisatawan hutan ini lazim dikenal dengan nama Monkey Forest (hutan kera).

Hanya bedanya, jika di Alas Pala pohon yang tumbuh homogen yakni pohon pala, di Wenara Wana, pohon yang tumbuh cenderung heterogen, beragam jenis. Wenara Wana terletak di wilayah Desa Adat Padangtegal, tetapi masih dalam wilayah Kelurahan Ubud. Hutan ini berada di sisi barat daya pusat Kota Ubud.

Sama halnya dengan Alas Pala di Sangeh, Wenara Wana juga terjaga keasriannya oleh mitos yang diwarisi warga Padangtegal secara turun-temurun. Di hutan ini, pohon-pohon yang ada juga tiada bisa ditebang sembarangan. Malah, pantangannya jauh lebih berat lagi.

Tak cuma itu, berkata-kata kasar di kawasan hutan sangat dilarang. Orang yang masuk ke areal Wenara Wana mesti benar-benar menjaga sikap. Kesucian dan kebeningan hati menjadi persyaratan utama jika hendak masuk ke hutan ini dan selamat.

Artika tiada persis tahu apa penyebab lahirnya pantangan ini. Di awig-awig desa pun, hal ini tak tercantum. Namun, warga Padangtegal begitu menaatinya, tiada berani melanggar.

Tak cuma warga Padangtegal, warga dari luar desa pun begitu anut dengan segala pantangan itu. Padahal, warga Padangtegal sendiri tidak pernah menyiarkan pantangan-pantangan itu.

Umumnya orang tahu ada pantangan semacam itu dari mulut ke mulut. Awalnya, ada orang yang memetik dedaunan di sini, terus mengalami kejadian-kejadian aneh. Orang inilah yang kemudian bercerita kepada orang lainnya.

Menurut penuturan tetua-tetua Padangtegal, dulu pernah ada seorang pedagang garam berjualan di dalam kawasan hutan. Sang pedagang memetik dedaunan di kawasan hutan untuk membungkus garamnya. Tanpa diduganya, banyak orang yang membeli garam yang dibawanya. Sampai-sampai pedagang itu tak sadar hari telah beranjak malam. Baru ketika ada warga Padangtegal yang melihatnya, sang pedagang sadar dirinya telah berjualan seharian.

Dia melihat banyak orang yang membeli garamnya. Padahal, sama sekali tidak ada orang. Semua ini terjadi karena dia telah salah dedaunan di Wenara Wana untuk berjualan.

Bukan cuma memetik dedaunan, menebang pohon di dalam kawasan hutan pun amat pantang dilakukan warga Padangtegal. Bila pun hendak menebang pohon, wajib matur pakeling(meminta izin secara niskala) terlebih dahulu di Pura Dalem Agung Padangtegal yang berada di bagian barat daya pura. Dan kayu dari pohon yang ditebang hanya boleh untuk keperluan membangun tenpat-tempat suci, bukan untuk rumah atau pun bangunan-bangunan profan lainnya.

Selain tumbuh-tumbuhan, hewan yang ada di dalam kawasan Wenara Wana pun cukup dikeramatkan warga Padangtegal. Tiap hari Tumpek Kandang misalnya, warga melaksanakan ritual ngotonin bojog (upacara kelahiran kera).

Hingga kini, di Wenara Wana terdapat 375 kera berekor panjang (macca fscicularis). Kera-kera di Wenara Wana dikenal cukup jinak. Perilakunya pun cukup aneh. Bila di Pura Dalem Agung warga sedang ngayah, kera-kera seringkali usil. Keperluan upacara seperti buah, telur, kelapa dan lainnya sering diambil. Namun, yang aneh, bila Ida Bhatara tedun, mengintip pun kera-kera itu tidak berani.

Sulit dipercaya, memang, mitos yang membelit Wenara Wana ini. Namun, karena mitos inilah Wenara Wana bisa terjaga kelestariannya sepanjang zaman sehingga menjadi warisan berharga generasi sekarang. Inilah kearifan tinggi para generasi pendahulu mengajarkan generasi kini untuk menjaga kelestarian lingkungan. Kesadaran ini, ternyata, telah muncul jauh sebelum dunia memutuskan peringatan Hari Lingkungan Hidup se-dunia yang jatuh 5 Juni. (b.)

______________________________________

Penyunting: I KETUT JAGRA

http://feeds.feedburner.com/balisaja/pHqI
Artikel ini telah dibaca 19 kali

badge-check

Redaksi

Baca Lainnya

“Nyaagang” di Klungkung, “Masuryak” di Tabanan: Tradisi Unik Hari Kuningan

18 Juni 2022 - 14:29 WITA

Magalung di Kampung: Sembahyang Subuh, Munjung ke Kuburan, Malali ke Pesisi

8 Juni 2022 - 16:31 WITA

Tiga Jenis Otonan dalam Tradisi Bali

26 Mei 2022 - 00:57 WITA

Tari Rejang: Warisan Bali Kuno, Simbol Keindahan dan Kesucian

4 Juni 2021 - 22:50 WITA

“Bahan Roras”, Pelaksana Harian Pemerintahan Adat di Tenganan Pagringsingan

2 Juni 2021 - 21:23 WITA

Makare-kare Tenganan Pagringsingan

Kancan Roras, Kepemimpinan Ulu Apad di Penglipuran

31 Mei 2021 - 21:53 WITA

Angkul-angkul Penglipuran
Trending di Desa Mawacara