Menu

Mode Gelap
Tumpek Landep: Mengasah Senjata Paling Tajam dalam Hidup Siapkan “BMW” untuk Siswa, SMA Paris Gelar Ujian Kepariwisataan Mategepan, Wimbakara Bulan Bahasa Bali ring SMA Paris Klungkung Isyarat Regenerasi dari Lomba Musikalisasi Puisi Bali Ketika Suara Remaja Membuat Juri Lagu Pop Bali Menangis di Ksirarnawa

Bali Jani · 9 Feb 2020 10:29 WITA ·

Made Taro Kenalkan Aksara Bali Lewat Lagu dan Permainan Tradisional


					Made Taro Kenalkan Aksara Bali Lewat Lagu dan Permainan Tradisional Perbesar



Usianya sudah 80 tahun lebih. Tapi, semangat Made Taro seperti tak pernah padam menjadi penjaga dongeng, gending rare, dan permainan tradisional Bali. Mendongeng, bernyanyi, dan bermain bersama anak-anak seolah memberinya tambahan energi.
Minggu (9/2), Made Taro kembali tampil di Penggak Men Mersi, Denpasar. Lelaki kelahiran Desa Sengkidu, Karangasem, tahun 1939 silam itu mengisi acara aguron-guron (workshop) permainan tradisional Bali serangkaian kegiatan Pekan Generasi Sadar Aksara (Parasara) yang digelar Penggak Men Mersi bekerja sama dengan Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olah Raga Kota Denpasar.
Di tangan Made Taro, dongeng dan permainan Bali tak menjelma sesuatu yang kaku, beku. Justru, di tangan peraih Maestro Seni Tradisi Lisan dari Menteri Kebudayaan (2008) dan Pariwisata serta Anugerah Kebudayaan dari Presiden RI (2009), dongeng, nyanyian, dan permainan tradisional Bali jadi lebih segar, selaras dengan perkembangan zaman.
Gending rare Dadong Dauh menjadi topik dibincangkan Made Taro bersama putra sulungnya, Gede Tarmada. Aguron-guron yang dihadiri para orang tua dan guru-guru itu pun bersemangat mengikuti materi pelatihan yang diberikan Made Taro.
Gending Dadong Dauh memang sepintas kelihatan sangat sederhana. Lagu rakyat ini mengisahkan seorang nenek bernama Dadong Dauh yang melihara ayam yang sedang mataluh (bertelur). Telur itu dicuri oleh anak anak yang nakal. Telor dicuri dengan menggunakan sepit (sebuah alat penjepit). Pada saat mencuri telor itu tampak gampang dan mudah, tetapi pada saat membawa pulang yang mengalami banyak rintangan. Bagian inilah yang dieksplorasi Made Taro menjadi sebuah permainan yang menarik.


Melalui permainan Dadong Dauh, anak-anak dididik kedisiplinan, kecepatan, kehati-hatian, dan fokus dalam mengerjakan sesuatu. Anak-anak diajak berlomba membawa telor dengan penjepit. Jika ada masalah dalam membawa telor itu, anak-anak harus menyelesaikan sendiri, tanpa bantuan orang lain. Misalnya, telor itu jatuh, maka harus diambil sendiri lagi tanpa sepengetahuan dan bantuan orang lain. Telor yang jatuh tidak boleh diambil dengan tangan, harus dengan sepit, sehingga dibutuhkan ketenangan dan konsentrasi. “Jika peserta itu tegang dan tidak fokus, maka mereka akan tidak dapat mngambil telor itu dengan baik. Disini dibutuhkan konsentrasi tinggi,” sebutnya.
Untuk mengenalkan aksara Bali, Made Taro juga menyisipkan aksara Bali dalam permainan. Setelah telor itu terkumpul, para peserta wajib menyusun sesuai dengan aksara yang ada dalam telor itu. “Aksara yang diisi disesuaikan dngan tema acara yaitu serangkain dengan Bulan Bahasa Bali, maka saya mengisinya dengan aksara yang jika disusun dengan benar menjadi “taluh bebek”. Hal ini juga sebagai bentuk pembelajaran bahasa dan aksara Bali kepada para peserta,” paparnya.
Made Taro menuturkan, permainan ini sudah diciptakan sejak tahun lalu dalam kegiatan penyuluhan bahasa Bali di Kabupaten Klungkung. Setiap kali memberikan workshop, ia selalu membuat materi-materi baru yang menggabungkan permaian, cerita (dongeng) dan gending-gending rare yang sudah merakyat di masyarakat. “Kami selalu mengemas dengan permainan yang sangat sederhana, namun memiliki pendidikan etika, moral dan pendidikan karakter,” ungkapnya.
Kelian Penggak Men Mersi, Kadek Wahyudita mengatakan, kegiatan aguron-guron atau workshop ini bertujuan untuk memformulasikan secara sederhana teknik atau cara mengajarkan bahasa, aksara, dan sastra Bali ke generasi milenial saat ini. “Sejatinya kita telah mewarisi cara-cara sederhana itu. Salah satunya adalah dengan cara bermain. Karena itu, dalam workshop ini kami mengundang pakar permainan tradisional, Bapak Made Taro untuk menjadi narasumber,” ungkapnya.
Wahyudita berharap kegiatan workshop yang baru pertama kali ini bisa menginspirasi para guru dan orang tua untuk membuat cara mengajar bahasa Bali yang efektif melalui kegiatan yang menyenangkan. “Harapan kami, ini tidak hanya dilakukan saat kegiatan Parasara, melainkan juga bisa dilakukan secara kontinu setiap bulan,” tandasnya.
_________________________________ 
Teks dan foto: Made Radheya

http://feeds.feedburner.com/balisaja/pHqI
Artikel ini telah dibaca 441 kali

badge-check

Redaksi

Baca Lainnya

Mategepan, Wimbakara Bulan Bahasa Bali ring SMA Paris Klungkung

27 Februari 2026 - 15:12 WITA

Isyarat Regenerasi dari Lomba Musikalisasi Puisi Bali

17 Februari 2026 - 22:31 WITA

Ketika Suara Remaja Membuat Juri Lagu Pop Bali Menangis di Ksirarnawa

16 Februari 2026 - 22:37 WITA

Janggal dan Tengal: Ketika AI Masuk ke Cerpen Bali

15 Februari 2026 - 21:45 WITA

Ketika Presiden Soroti Sampah Pantai Kuta, Jangan Lupakan Amanat UU Pengelolaan Pesisir

5 Februari 2026 - 06:02 WITA

Aksara Bali Naik Kelas, Dari Panggung Budaya ke Etalase Produk

1 Februari 2026 - 22:32 WITA

Trending di Bali Jani