Menu

Mode Gelap
Tumpek Landep: Mengasah Senjata Paling Tajam dalam Hidup Siapkan “BMW” untuk Siswa, SMA Paris Gelar Ujian Kepariwisataan Mategepan, Wimbakara Bulan Bahasa Bali ring SMA Paris Klungkung Isyarat Regenerasi dari Lomba Musikalisasi Puisi Bali Ketika Suara Remaja Membuat Juri Lagu Pop Bali Menangis di Ksirarnawa

Bali Jani · 16 Nov 2014 22:28 WITA ·

Enam Penulis Bali Terima Penghargaan “Widya Pataka”


					Enam Penulis Bali Terima Penghargaan “Widya Pataka” Perbesar

Enam penulis Bali menerima penghargaan Widya Pataka dari Pemerintah Provinsi Bali melalui Badan Perpustakaan dan Arsip. Penghargaan Widya Pataka diberikan untuk dedikasi keenam penulis itu dalam mengembangkan ilmu dan pengetahuan melalui buku.

Keenam penulis yang menerima penghargaan Widya Pataka, yaitu I Ketut Rida dengan buku berjudul Lawar Goak (kumpulan cerpen berbahasa Bali), Sthiraprana Duarsa untuk buku berjudul Rumah Kenangan (kumpulan cerpen berbahasa Indonesia), Ni Made Ari Dwijayanthi dengan buku berjudul Blanjong(kumpulan prosa liris berbahasa Bali), I Putu Sudibawa untuk buku berjudul Kearifan Lokal dalam Pembelajaran(kumpulan esai), Wayan Suarna untuk buku berjudul Peternakan yang Menekan Pencemaran (kajian peternakan) dan Ida Ayu Tary Puspa untuk buku berjudul Bali dalam Perubahan Ritual Komodifikasi Ngaben di Era Globalisasi (kajian budaya agama Hindu).


Buku-buku penerima penghargaan Widya Pataka 2014

Kasubid Deposit Badan Perpustakaan dan Arsip Provinsi Bali I Gusti Ngurah Wiryanata menyatakan pemberian penghargaan Widya Pataka tahun 2014 lebih ditekankan kepada buku-buku yang akan memberikan manfaat langsung kepada masyarakat, seperti buku kajian atau hasil penelitian, humaniora, sastra dan lainnya. Penghargaan ini diberikan dalam bentuk bantuan dana penerbitan buku kepada para penulis yang dinilai memiliki dedikasi dan konsistensi dalam mengembangkan ilmu pengetahuan melalui buku. Penghargaan “Widya Pataka” pertama kali diberikan pada tahun 2006.

Menurut Wiryanata, kriteria penilaian penghargaan Widya Pataka ada lima poin, yaitu kualitas buku, konsistensi, produktivitas, komitmen penulisnya, dan manfaat karyanya untuk masyarakat luas. “Widya Pataka” rencananya akan diberikan setiap tahun sehingga setiap pengarang atau penulis memperoleh kesempatan yang sama dan diharapkan dapat merangsang para penulis untuk terus berkreativitas menulis dan secara tidak langsung akan menumbuhkan iklim yang sehat terhadap pertumbuhan industri penerbitan buku di Bali.

Penyerahan Widya Pataka dilaksanakan Selasa (18/11) di UPT Balai Pengembangan Sanggar Kegiatan Belajar, Sesetan Denpasar. Selain penyerahan penghargaan juga digelar diskusi seputar dunia perbukuan pada hari itu juga. Keesokan harinya dilanjutkan dengan bedah buku Widya Pataka. Ada empat buku yang dibedah, yaitu Lawar Goak, Bali dalam Perubahan Ritual: Komodifikasi Ngaben di Era Globalisasi, Peternakan yang Menekan Pencemaran dan Blanjong. (b.)
http://feeds.feedburner.com/balisaja/pHqI
Artikel ini telah dibaca 231 kali

badge-check

Redaksi

Baca Lainnya

Mategepan, Wimbakara Bulan Bahasa Bali ring SMA Paris Klungkung

27 Februari 2026 - 15:12 WITA

Isyarat Regenerasi dari Lomba Musikalisasi Puisi Bali

17 Februari 2026 - 22:31 WITA

Ketika Suara Remaja Membuat Juri Lagu Pop Bali Menangis di Ksirarnawa

16 Februari 2026 - 22:37 WITA

Janggal dan Tengal: Ketika AI Masuk ke Cerpen Bali

15 Februari 2026 - 21:45 WITA

Ketika Presiden Soroti Sampah Pantai Kuta, Jangan Lupakan Amanat UU Pengelolaan Pesisir

5 Februari 2026 - 06:02 WITA

Aksara Bali Naik Kelas, Dari Panggung Budaya ke Etalase Produk

1 Februari 2026 - 22:32 WITA

Trending di Bali Jani