Menu

Mode Gelap
Tumpek Landep: Mengasah Senjata Paling Tajam dalam Hidup Siapkan “BMW” untuk Siswa, SMA Paris Gelar Ujian Kepariwisataan Mategepan, Wimbakara Bulan Bahasa Bali ring SMA Paris Klungkung Isyarat Regenerasi dari Lomba Musikalisasi Puisi Bali Ketika Suara Remaja Membuat Juri Lagu Pop Bali Menangis di Ksirarnawa

Bali Jani · 22 Apr 2015 10:58 WITA ·

Modal Sosial, Kunci Sukses LPD di Bali


					Kepala LPD Pecatu, I Ketut Giriarta (kiri) menerima kenang-kenangan dari dosen dan mahasiswa FE Universitas Jember, 22 April 2015. Perbesar

Kepala LPD Pecatu, I Ketut Giriarta (kiri) menerima kenang-kenangan dari dosen dan mahasiswa FE Universitas Jember, 22 April 2015.

Kesuksesan Lembaga Perkreditan Desa (LPD) sebagai lembaga keuangan milik komunitas adat Bali tidak terlepas dari modal sosial yang dimiliki masyarakat Bali. Modal sosial itu tiada lain adat dan budaya Bali yang ditopang keberadaan lembaga komunitas adat berupa desa adat serta banjar adat.

Hal ini diungkapkan Kepala LPD Desa Adat Pecatu, I Ketut Giriarta saat menerima kunjungan dosen dan mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Jember di gedung LPD Pecatu, Rabu, 22 April 2015. Kedatangan sekitar 74 sivitas akademika FE Univeritas Jember itu untuk menimba ilmu pengelolaan lembaga keuangan berbasis desa adat di LPD Pecatu.

“Tanpa modal sosial yang kuat, tidak mungkin kami di LPD Pecatu bisa mengembangkan lembaga ini dengan modal awal bantuan pemerintah yang hanya Rp 2.600.000 hingga bisa seperti sekarang,” kata Giriarta.

Kini, aset LPD Pecatu sudah mencapai Rp 340 milyar. LPD Pecatu berdiri tahun 1988 dan kini sudah memasuki usia 27 tahun.

Giriarta menjelaskan nilai-nilai kebersamaan dan kekeluargaan (manyama braya dan pasikian pasobayan), keikhlasan dan kejujuran (lascarya) dalam mengabdi untuk kepentingan desa adat sangat kuat di kalangan masyarakat Bali. Nilai-nilai ini juga menjadi penopang eksistensi dan perkembangan LPD.

Menurut Giriarta, meski sepintas dalam praktiknya menyerupai bank atau koperasi, sesungguhnya LPD jauh berbeda dengan bank dan koperasi. Jika bank berdasarkan pada kepemilikan saham dan koperasi berdasarkan simpanan wajib dan simpanan sukarela, permodalan LPD berasal dari desa adat dengan didukung bantuan pemerintah sebagai bentuk fungsi pengayoman dan perlindungan.

“Secara pribadi-pribadi, krama (warga) desa adat tidak ada mengeluarkan dana untuk modal LPD, tapi sebagai krama desa, mereka ikut memiliki LPD,” kata Giriarta.

Karena struktur permodalan yang unik, keuntungan LPD tidak dibagi rata kepada seluruh warga desa adat. Keuntungan LPD dikembalikan untuk memperkuat adat dan budaya Bali dengan basis utama desa adat. Itu sebabnya, LPD di Bali bukanlah lembaga keuangan murni, tetapi lembaga adat yang mengemban fungsi keuangan komunitas adat berbasis desa adat.

Dosen FE Universitas Jember yang mendampingi kunjungan mahasiswa Herman Cahyo menyatakan apa yang dilakukan LPD Pecatu menjadi ilmu baru bagi pihaknya karena sebuah lembaga keuangan bisa sukses dengan modal sosial. Hal ini, menurut Herman Cahyo, cukup unik dan menarik. Pasalnya, di daerah lain, lembaga sejenis tidak sesukses LPD di Bali. Herman Cahyo sepakat modal sosial menjadi salah satu kunci kesuksesan LPD di Bali.

“Itu sebabnya kami datang kemari untuk melihat dari dekat bagaimana cara mengelola LPD sehingga bisa berkembang dan sukses seperti ini,” kata Herman. (b.)

  • Laporan: Yoga Puniantara
Artikel ini telah dibaca 256 kali

badge-check

Redaksi

Baca Lainnya

Mategepan, Wimbakara Bulan Bahasa Bali ring SMA Paris Klungkung

27 Februari 2026 - 15:12 WITA

Isyarat Regenerasi dari Lomba Musikalisasi Puisi Bali

17 Februari 2026 - 22:31 WITA

Ketika Suara Remaja Membuat Juri Lagu Pop Bali Menangis di Ksirarnawa

16 Februari 2026 - 22:37 WITA

Janggal dan Tengal: Ketika AI Masuk ke Cerpen Bali

15 Februari 2026 - 21:45 WITA

Ketika Presiden Soroti Sampah Pantai Kuta, Jangan Lupakan Amanat UU Pengelolaan Pesisir

5 Februari 2026 - 06:02 WITA

Aksara Bali Naik Kelas, Dari Panggung Budaya ke Etalase Produk

1 Februari 2026 - 22:32 WITA

Trending di Bali Jani