Menu

Mode Gelap
Jadikan Semangat Perang Kusamba Inspirasi Menjaga Warisan Budaya Nyepi Segara Habis PKB, Terbitlah FSBJ: Merajut Kesinambungan Seni Tradisional dan Modern Fleksibel dan Adaptif, Arja Takkan Pernah Mati PKB 2025 Siap Menyala, Membawa Bali Bersinar “Masayut Tipat”, Sucikan Diri Songsong Era Baru

Sima Bali · 28 Mar 2025 18:12 WITA ·

Cegah Bhuta Kala, Warga Pupuan Pasang “Empegan” di Gerbang Rumah


					Cegah Bhuta Kala, Warga Pupuan Pasang “Empegan” di Gerbang Rumah Perbesar

Tradisi Unik Hari Suci Nyepi

Ritual pacaruan Tilem Kasanga, sehari menjelang hari raya Nyepi, tampak berbeda di wilayah Kecamatan Pupuan, Tabanan. Di setiap pintu gerbang rumah warga di desa-desa di Pupuan terlihat dipasangi bambu melintang yang digantungi berbagai jenis buah-buahan, sayur-sayuran, kopi, hingga ketupat. Warga setempat menyebutnya sebagai tegen-tegenan. Ada juga yang menyebutnya empegan. Warga meyakini tegen-tegenan atau empegan itu sebagai persembahan ke hadapan Ida Sang Hyang Widi Wasa agar melindungi seisi rumah dan terhindar dari para bhuta kala yang mengacau.

Sebutan tegen-tegenan digunakan warga Batungsel, Sanda serta Pujungan. Sementara di Pupuan, tradisi ini dikenal sebagai empegan. Di sejumlah desa, tegen-tegenan atau empegan itu disertai dengan hiasan janur, beberapa desa lain tanpa disertai hiasan janur.

Tegen-tegenan atau empegan ini dipasang di depan gerbang pekarangan rumah dengan cara melintang. Tegen-tegenan atau empegan ini dipasang bersamaan dengan pelaksanaan pacaruan sasih kasanga.

Menurut sejumlah Batungsel, tegen-tegenan itu memang diisi dengan aneka jenis hasil bumi warga setempat. Ada yang menggantung buah nenas, buah pisang, jambu, kopi, dan lainnya. Tegen-tegenan tak hanya berisi buah kopi yang masih mentah, juga kopi yang sudah diseduh lalu dibungkus plastik. Ada juga ketupat yang tidak berisi beras, ada juga ketupat yang diisi beras. “Isinya ada yang lebeng (sudah dimasak), ada yang matah (masih mentah),” kata salah seorang warga Batungsel, I Nyoman Suartana.

Seorang warga Pupuan, Pak Yogi,  juga mengungkapkan hal serupa. Menurutnya, tegen-tegenan atau gantungan buah-buahan itu sebagai sarana yang menyertai upacara pacaruan sasih kasanga. “Tegen-tegenan juga berisi daun dapdap, daun pandan. Pokoknya segala hasil bumi,” kata Pak Yogi.

Pak Yogi menyebut pemasangan tegen-tegenan di Pupuan itu merupakan sima (tradisi) yang ditetapkan sebagai awig-awig desa. Setiap warga yang gerbang rumahnya menghadap ke jalan, wajib memasang tegen-tegenan.

Ketut Dana, warga Pupuan, menuturkan empegan dipasang setiap kali Tilem Kasanga. Dana menyebut empegan itu, selain sebagai persembahan bagi penguasa alam niskala, juga sebagai garis batas bagi warga untuk tidak keluar rumah saat Nyepi. Dana menuturkan tradisi ini sudah diwarisi sejak lama. Dia dan warga Pupuan lainnya hanya nami (mewarisi) dan melanjutkan tradisi ini secara turun-temurun.

  • Laporan: I Made Sujaya
  • Foto: I Made Sujaya
  • Penyunting: I Ketut Jagra
Artikel ini telah dibaca 155 kali

badge-check

Redaksi

Baca Lainnya

Jadikan Semangat Perang Kusamba Inspirasi Menjaga Warisan Budaya Nyepi Segara

5 November 2025 - 20:53 WITA

“Masayut Tipat”, Sucikan Diri Songsong Era Baru

28 Maret 2025 - 21:08 WITA

Nyepi untuk Semua

28 Maret 2025 - 14:47 WITA

Ogoh-Ogoh dan Persatuan Gerak Generasi Muda

28 Maret 2025 - 14:23 WITA

Siap-siap Tangkil, Usabha Pitra di Pura Dalem Puri Besakih Dimulai Hari Ini

28 Januari 2025 - 11:06 WITA

Hari Ini Nyepi Segara di Kusamba, Begini Sejarah, Makna, dan Fungsinya

9 November 2022 - 08:17 WITA

Trending di Bali Jani