Menu

Mode Gelap
Tumpek Landep: Mengasah Senjata Paling Tajam dalam Hidup Siapkan “BMW” untuk Siswa, SMA Paris Gelar Ujian Kepariwisataan Mategepan, Wimbakara Bulan Bahasa Bali ring SMA Paris Klungkung Isyarat Regenerasi dari Lomba Musikalisasi Puisi Bali Ketika Suara Remaja Membuat Juri Lagu Pop Bali Menangis di Ksirarnawa

Bali Jani · 3 Jan 2018 03:27 WITA ·

Bali, Sabarlah Menghadapi Mahamisteri Gunung Agung


					Bali, Sabarlah Menghadapi Mahamisteri Gunung Agung Perbesar

Mahamisteri Bali itu kini bernama Gunung Agung. Semua orang kini terendam dalam tanda tanya besar menerka-nerka apa yang sedang terjadi dengan gunung mahatinggi di pulau alit ini. Dua setengah bulan sejak ditetapkan sebagai gunung api dengan status “Awas”, Gunung Agung tidak pernah tuntas menjawab setiap tanya yang berkecamuk di benak orang-orang, tak hanya di Bali, namun juga sejagat. Bahkan, segala teori berkesadaran ilmiah tinggi pun tak lagi mampu menjelaskan perilaku Gunung Agung kini.
Di hadapan Gunung Agung, ilmu pengetahuan dan teknologi harus takluk. Kecenderungan perilaku gunung api yang berujung pada terbentuknya teori tentang letusan gunung api praktis tak berlaku untuk Gunung Agung. Tanda-tanda umum, semisal gempa tremor menerus yang biasanya dalam hitungan jam akan diikuti letusan besar, ternyata Gunung Agung menunjukkan perilaku berbeda. Meski sudah mengeluarkan asap tebal, abu vulkanik, bahkan lahar hujan atau lahar dingin, Gunung Agung masih adem-adem saja.


Tatkala rasio tak mampu menjelaskan sebuah fenomena alam, orang pun mencoba mencari jawaban melalui jalan lain. Berbagai penampakan awan di atas Gunung Agung yang menyerupai aneka bentuk lantas dicoba diraba-raba, mencari makna di baliknya. Segelintir lain mencoba memberi “hiburan gratis” dengan menampilkan diri sebagai “pengendali” Gunung Agung karena menyebut diri bisa mengatur kapan gunung ini akan meletus atau tidak.
Laku Gunung Agung menyadarkan kita betapa misteri terbesar dalam hidup tiada lain adalah alam. Manusia begitu kecil dan tak berdaya di hadapan alam. Betapa pun hebatnya manusia, bahkan kala merasa mampu menaklukkan alam, sejatinya tidak ada apa-apanya di hadapan alam.
Kesadaran itu pula yang melandasi agama alam orang Bali, agama yang mendidik manusia Bali senantiasa hidup selaras dengan alam. Manusia hanyalah penumpang di kapal besar Ibu Alam. Betapa congkaknya manusia, sang penumpang, ketika berlagak hebat dan ingin melawan sang pemilik kapal: Ibu Alam.
Gunung Agung sebagai representasi kekuatan alam, kini tengah menjalankan tugasnya menyelaraskan jagat Bali. Ini tugas mulia yang sudah tercatat dalam sejarah panjang peradaban Bali. Gunung Agung tak pernah ingkar janji menjalankan tugas suci menjaga keseimbangan jagat Bali. Dalam teks-teks tradisional Bali, begitu banyak disebut Gunung Agung tak hanya sebagai hulu tetapi juga penjaga kestabilan Pulau Bali.
Itu sebabnya, rakyat Bali amat menyucikan Gunung Agung. Di pundak Gunung Agunglah berdiri pura terbesar dan amat disucikan manusia Bali: Pura Besakih. Orang Bali percaya dan merasakan betapa Gunung Agung tiada henti menganugerahkan kesejahteraan untuk seluruh rakyat Bali.
Cara berpikir inilah yang bisa menjelaskan laku kultural orang Bali menghadapi sang Mahamisteri Gunung Agung. Ketika warga Desa Geriana menjemput lahar hujan atau lahar dingin Gunung Agung baru-baru ini dengan mempersembahkan sesaji dan tetabuhan baleganjur, itu cerminan ketaqwaan khas Bali yang dilandasi kesadaran dan penghormatan kepada sang Mahamisteri Gunung Agung. Tradisi ini juga dijemput dengan berbagai pantang larang yang bisa dijelaskan dengan rasio seperti pantangan mengambil atau membawa pulang segala yang dibawa dalam aliran lahar hujan atau lahar dingin Gunung Agung.
Memang, perilaku Mahamisteri Gunung Agung tentu menerbitkan kegalauan, baik di kalangan orang Bali yang mesti mengungsi berbulan-bulan dengan ketidakpastian hingga para pelaku pariwisata yang dikejar mimpi buruk ambruknya bisnis turisme mereka karena wisatawan batal ke Bali.

Kesabaran dan ketaqwaan yang teguh memang menjadi kata kunci menghadapi sang Mahamisteri Gunung Agung. Toh, selama ini Gunung Agung juga begitu sabar dan dengan ketulusan yang utuh menjaga dan memberikan kesejahteraan bagi Bali beserta seluruh rakyatnya. Sayangnya, kesabaran inilah yang acapkali lebih dulu redup dalam diri kita, manusia, sang penumpang di kapal besar Ibu Alam. (b.)
http://feeds.feedburner.com/balisaja/pHqI
Artikel ini telah dibaca 66 kali

badge-check

Redaksi

Baca Lainnya

Mategepan, Wimbakara Bulan Bahasa Bali ring SMA Paris Klungkung

27 Februari 2026 - 15:12 WITA

Isyarat Regenerasi dari Lomba Musikalisasi Puisi Bali

17 Februari 2026 - 22:31 WITA

Ketika Suara Remaja Membuat Juri Lagu Pop Bali Menangis di Ksirarnawa

16 Februari 2026 - 22:37 WITA

Janggal dan Tengal: Ketika AI Masuk ke Cerpen Bali

15 Februari 2026 - 21:45 WITA

Ketika Presiden Soroti Sampah Pantai Kuta, Jangan Lupakan Amanat UU Pengelolaan Pesisir

5 Februari 2026 - 06:02 WITA

Aksara Bali Naik Kelas, Dari Panggung Budaya ke Etalase Produk

1 Februari 2026 - 22:32 WITA

Trending di Bali Jani