Menu

Mode Gelap
Tumpek Landep: Mengasah Senjata Paling Tajam dalam Hidup Siapkan “BMW” untuk Siswa, SMA Paris Gelar Ujian Kepariwisataan Mategepan, Wimbakara Bulan Bahasa Bali ring SMA Paris Klungkung Isyarat Regenerasi dari Lomba Musikalisasi Puisi Bali Ketika Suara Remaja Membuat Juri Lagu Pop Bali Menangis di Ksirarnawa

Bali Jani · 27 Okt 2018 14:55 WITA ·

“Nyastra” di Bulan Sepuluh, Menepi Mencari Suluh


					“Nyastra” di Bulan Sepuluh, Menepi Mencari Suluh Perbesar

Teater Taksu Komunitas Sastra Lentera SMAN 2 Semarapura mengisi peringatan Bulan Bahasa dengan kegiatan nyastra, Jumat (26/10). Melalui aneka pertunjukan teater, musikalisasi puisi, serta diskusi sastra, mereka memaknai sastra sebagai refleksi kehidupan. Melalui jalan nyastra, mereka menepi mencari suluh di bulan sepuluh (Oktober) yang dijadikan sebagai tema kegiatan. Acara “Nyastra di Bulan Sepuluh, Menepi Mencari Suluh” turut dihadiri para pegiat sastra di Klungkung, di antaranya Dewa Gede Anom, Wayan Suarta, IB Pawanasuta, serta IB Widiasa Keniten.

Penampilan musikalisasi puisi Teater Taksu Komunitas Sastra Lentera SMAN 2 Semarapura (balisaja.com/pawanasuta)
Penyair Wayan Suarta memberikan tips bersastra yang dikutip dari puisi Umbu Landu Paranggi “cinta yang membuat sesekali untuk tetap bertahan”. “Bertahan di jalan sastra itu butuh kesetiaan yang penuh seluruh,” kata Suarta.
Dewa Anom mengungkapkan makna “menepi” sebagai wujud adanya tujuan. Namun tujuan yang harus tetap dijaga supaya tidak terus-menerus menepi. “Harus dijaga asa dan motivasi dalam nyastra yang memang tidak mudah,” kata Dewa Anom.
IB Widiasa Keniten menyatakan nyastra adalah ruh kehidupan. Mereka yang sudah memilih jalan nyastra akan menyambut kehidupan dengan penuh kehangatan. “sastra memang sebagai suluh, penerang kehidupan,” kata Widiasa Keniten.
Pembina Teater Taksu Komunitas Sastra Lentera, IB Pawanasuta menegaskan, sekolah berkewajiban memberikan ruang bagi anak anak yang memilih ekstra, termasuk nyastra. Siswa yang memilih jalan nyastra sebagai ruang ekplorasi diri mesti difasilitasi. “Pembina hanya mewadahi, mengarahkan dan memberikan ruang apresiasi,” kata Pawanasuta.
Acara nyastra dimeriahkan dengan pembacaan puisi oleh Risa dan Gustu, pembacaan cerpen oleh Echy dan Shyndi. Masatua Bali oleh Mirah dan story telling oleh Gung Ngurah. Anggota Komunitas Sastra Lentera memainkan puisi “Matinya Seorang Penyair” karya Subagio Sastrowardoyo dan puisi Bali modern, “Yen Padine Kuning” karya Wayan Jendra. Apresiasi diakhiri oleh penampilan anak-anak Teater Taksu Komunitas Sastra Lentera yang memainkan naskah “Aku Bukan Perempuan Lagi” karya Cok Sawitri yang disutradarai oleh Suryani dan Risa. (b.)

http://feeds.feedburner.com/balisaja/pHqI
Artikel ini telah dibaca 127 kali

badge-check

Redaksi

Baca Lainnya

Mategepan, Wimbakara Bulan Bahasa Bali ring SMA Paris Klungkung

27 Februari 2026 - 15:12 WITA

Isyarat Regenerasi dari Lomba Musikalisasi Puisi Bali

17 Februari 2026 - 22:31 WITA

Ketika Suara Remaja Membuat Juri Lagu Pop Bali Menangis di Ksirarnawa

16 Februari 2026 - 22:37 WITA

Janggal dan Tengal: Ketika AI Masuk ke Cerpen Bali

15 Februari 2026 - 21:45 WITA

Ketika Presiden Soroti Sampah Pantai Kuta, Jangan Lupakan Amanat UU Pengelolaan Pesisir

5 Februari 2026 - 06:02 WITA

Aksara Bali Naik Kelas, Dari Panggung Budaya ke Etalase Produk

1 Februari 2026 - 22:32 WITA

Trending di Bali Jani