Menu

Mode Gelap
Tumpek Landep: Mengasah Senjata Paling Tajam dalam Hidup Siapkan “BMW” untuk Siswa, SMA Paris Gelar Ujian Kepariwisataan Mategepan, Wimbakara Bulan Bahasa Bali ring SMA Paris Klungkung Isyarat Regenerasi dari Lomba Musikalisasi Puisi Bali Ketika Suara Remaja Membuat Juri Lagu Pop Bali Menangis di Ksirarnawa

Bali Jani · 8 Jan 2020 08:49 WITA ·

Sejahterakan Pengarang Bali, Pemerintah Perlu Lakukan Ini


					Sejahterakan Pengarang Bali, Pemerintah Perlu Lakukan Ini Perbesar

Program pemuliaan bahasa, aksara, dan sastra Bali yang digencarkan Gubernur Bali, I Wayan Koster cukup membahagiakan I Made Suarsa. Pengarang sastra Bali modern ini menilai program Gubernur Koster itu tepat karena merawat akar kebudayaan Bali. Menurut Suarsa, bahasa, aksara, dan sastra Bali merupakan mata air kebudayaan Bali.
“Bahasa, aksara, dan sastra Bali itulah yang membentuk wajah kebudayaan Bali yang kita warisi hingga kini. Jadi, kunci pemertahanan kebudayaan Bali, ya, bahasa, aksara, dan sastra Bali,” kata pensiunan dosen Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Unud ini.

Kesadaran mengenai bahasa, aksara, dan sastra Bali sebagai akar kebudayaan Bali itulah yang membuat Suarsa setia berkarya dalam bidang sastra Bali modern maupun sastra Bali purwa. Meskipun berlatar belakang pendidikan sastra Indonesia, Suarsa lebih banyak berkarya dalam bidang sastra Bali modern dan sastra Bali purwa.

“Bapak saya (Made Sanggra) dulu selalu berpesan agar selalu sutindih terhadap bahasa, aksara, dan sastra Bali. Hal itu juga yang memotivasi saya terus menulis sastra Bali modern dan sastra Bali purwa,” kata Suarsa.
Bahasa, aksara, dan sastra Bali, kata Suarsa, seperti memberinya kekuatan untuk terus kreatif. Di bawah lindungan bahasa, aksara, dan sastra Bali, Suarsa merasakan hidup menjadi lebih hidup.
Betapa tidak, pria kelahiran 15 Mei 1954 ini kini sudah menghasilkan sedikitnya 33 karya sastra, baik berupa buku sastra Bali purwa, sastra Bali modern, esai dan sejarah. Beberapa karya terakhirnya, Car Free Daay lan Car Everyday (kumpulan puisi Bali anyar/modern), Kakawin Aji Palayon, Pupulan Palawakya, dan Buah di Tangkah Padidi (kumpulen cerpen Bali anyar/modern). Bahkan kini, Suarsa juga sedang menyelesaikan buku baru.
Karena itu, wajar saja jika Suarsa dua kali diganjar hadiah sastra Rancage, yakni tahun 2005 untuk kumpulan puisi Bali modern, Ang Ah lan Ah Ang serta tahun 2007 untuk buku kumpulan cerpen Bali modern, Gede Ombak Gede Angin. Keistimewaan karya-karya Suarsa terletak pada kemampuannya memasukkan unsur-unsur modernisme dalam sastra Bali modern maupun sastra Bali purwa. Sepintas terkesan seperti bermain-main, tetapi sarat dengan makna.
Suarsa dikenal sebagai sastrawan yang menjadi pelopor dalam kreativitas. Ia mengoptimalkan dasanama dalam mengungkapkan kosakata bahasa Bali dengan memperhatikan bunyi akhir sebuah kata. Hal ini kini kerap dijadikan acuan banyak penulis muda sastra Bali modern.
Pengabdian Suarsa yang tak kenal henti di bidang sastra Bali modern itu kemudian membuatnya dianugerahi penghargaan seni paling bergengsi di Bali, yakni Dharma Kusuma. Penghargaan ini diserahkan langsung Gubernur Bali, I Wayan Koster saat peringatan hari jadi ke-61 Pemerintah Provinsi Bali, 14 Agustus 2019. Selain piagam, Suarsa menerima medali emas dan uang senilai Rp 11 juta.
Suarsa tentu bersyukur atas penghargaan yang diberikan Gubernur Bali itu. Bagi Suarsa, penghargaan itu merupakan wujud perhatian yang tiada putus dari Pemprov Bali terhadap upaya merawat dan mengembangkan sastra Bali modern.
Suarsa berharap perhatian Pemprov Bali terhadap sastra Bali modern maupun sastra Bali purwa bisa terus ditingkatkan. Selain memberikan penghargaan, perlu juga gerakan yang terstruktur dan sistematis untuk menggairahkan produksi buku-buku sastra Bali modern maupun sastra Bali purwa dengan cara membeli buku-buku karya sastrawan Bali.
“Banyak sastrawan Bali yang berjuang sendiri menerbitkan bukunya. Mungkin pemerintah bisa membantu dengan membeli buku-buku itu lalu menyebarluaskannya ke perpustakaan-perpustakaan sekolah,” usul Suarsa.

Jika buku-buku karya pengarang Bali itu dibeli, tentu pengarang bisa lebih sejahtera karena menikmati hasil penjualan buku-buku karyanya. “Selama ini pengarang sastra Bali modern mencetak bukunya dengan biaya sendiri, dengan oplah terbatas karena menggunakan dana pribadi yang terbatas,” kata Suarsa. 

________________________
Teks: Ketut Jagra
Foto: Istimewa

http://feeds.feedburner.com/balisaja/pHqI
Artikel ini telah dibaca 60 kali

badge-check

Redaksi

Baca Lainnya

Mategepan, Wimbakara Bulan Bahasa Bali ring SMA Paris Klungkung

27 Februari 2026 - 15:12 WITA

Isyarat Regenerasi dari Lomba Musikalisasi Puisi Bali

17 Februari 2026 - 22:31 WITA

Ketika Suara Remaja Membuat Juri Lagu Pop Bali Menangis di Ksirarnawa

16 Februari 2026 - 22:37 WITA

Janggal dan Tengal: Ketika AI Masuk ke Cerpen Bali

15 Februari 2026 - 21:45 WITA

Ketika Presiden Soroti Sampah Pantai Kuta, Jangan Lupakan Amanat UU Pengelolaan Pesisir

5 Februari 2026 - 06:02 WITA

Aksara Bali Naik Kelas, Dari Panggung Budaya ke Etalase Produk

1 Februari 2026 - 22:32 WITA

Trending di Bali Jani