Menu

Mode Gelap
Tumpek Landep: Mengasah Senjata Paling Tajam dalam Hidup Siapkan “BMW” untuk Siswa, SMA Paris Gelar Ujian Kepariwisataan Mategepan, Wimbakara Bulan Bahasa Bali ring SMA Paris Klungkung Isyarat Regenerasi dari Lomba Musikalisasi Puisi Bali Ketika Suara Remaja Membuat Juri Lagu Pop Bali Menangis di Ksirarnawa

Bali Jani · 19 Mei 2021 13:40 WITA ·

Tahun 2013, Dua Kasus Anak Bunuh Ayah Kandung Juga Pernah Guncang Bali


					Tahun 2013, Dua Kasus Anak Bunuh Ayah Kandung Juga Pernah Guncang Bali Perbesar

Ilustrasi kasus pembunuhan (balisaja.com/www.pixabay.com)


Oleh: I MADE SUJAYA

Kabar pilu datang dari utara Bali awal pekan ini. Koran-koran dan media-media daring memberitakan seorang anak membunuh ayah kandungnya sendiri. Semua orang tentu tersentak. Tak hanya orang-orang Bali yang bertanya-tanya apa gerangan yang menyebabkan peristiwa tragis itu terjadi. Karena peristiwa ini juga diberikan media-media nasional, keprihatinan juga datang dari orang-orang di luar Bali. 

Gede Darmika (50), warga Banjar Dinas Kayuputih, Desa Sanggalangit, Kecamatan Gerokgak, Buleleng dikabarkan membunuh ayah kandungnya sendiri, I Wayan Purna (72), pada Senin, 17 Mei 2021, sore, menggunakan senjata tajam. Ironisnya, peristiwa itu terjadi seusai keduanya melayat ke rumah tetangga yang meninggal dunia. Dari hasil penyelidikan sementara pihak kepolisian terungkap, tersangka membunuh ayahnya setelah sempat terjadi percekcokan di rumah. Darmika juga diduga berada di bawah pengaruh minuman beralkohol saat menghabisi nyawa ayahnya. 

Meski penjelasan polisi soal motif itu sudah menyebar, toh banyak orang tetap tak habis pikir, seorang anak tega membunuh ayah kandungnya sendiri. Menurut cerita sang adik, Darmika termasuk anak kesayangan ayahnya. Tentu, nanti pengadilan akan mengungkap terang kasus ini, apa sesungguhnya yang menjadi penyebab tragedi ini. 

Namun, kasus anak membunuh ayah kandung di Bali sejatinya bukan baru kali ini terjadi. Pada tahun 2013, kasus serupa juga pernah mengguncang Bali. Bahkan, pada tahun itu, muncul dua kasus sekaligus. Berikut cuplikan kasusnya yang dihimpun balisaja.com dari berbagai sumber. 

Anak Membunuh Ayah Kandung di Karangasem 

Minggu, 27 Oktober 2013, warga Banjar Lebuh, Desa Tri Buana, Kecamatan Abang, Karangasem geger dengan jazad seorang kakek berusia 70 tahun, I Gede Dita alias Klendit,  ditemukan tergantung di rumahnya. Kasus itu dilaporkan ke Polsek Abang. Awalnya orang-orang menduga Dita bunuh diri. Namun, polisi melihat sejumlah kejanggalan, terutama kepala korban yang bonyok. Pengusutan polisi mengungkap fakta mengejutkan. Klendit bukan tewas gantung diri, tapi dibunuh. Lebih mengejutkan lagi, yang diduga membunuh adalah anaknya sendiri, I Made Putu Aryawan. Aryawan yang saat itu berusia 19 tahun, akhirnya mengakui perbuatannya. Polisi pun meringkus Aryawan dan menjatuhkan pasal pembunuhan. 

Dari hasil penyelidikan polisi terungkap, korban kerap minum tuak hingga mabuk. Ketika tengah mabuk, korban seringkali mengumpat orang-orang. Saat kejadian, korban sempat menantang Aryawan. Karena emosi dan rasa malu, Aryawan menghantam kepala belakang korban dengan talenan. Korban pun langsung tewas. Untuk menutupi perbuatannya, Aryawan menggantung jazad ayahnya sehingga orang mengira sang ayah tewas karena bunuh diri. 

“Sulinggih” Dibunuh Anak Kandung di Badung 

Selang dua bulan kemudian, kasus serupa kembali mencuat di Badung. Kali ini kasusnya lebih menghebohkan lagi. Seorang sulinggih (pemimpin agama Hindu) di Badung, Ida Pedanda Putu Kemenuh (58) dibunuh anak kandungnya sendiri, IB Gede Radiana yang saat itu berusia 25 tahun. Selain membunuh sang ayah, Radiana juga melukai sang ibu, Ida Pedanda Istri Rai Kemenuh, dengan sejumlah tusukan. 

Pembunuhan itu terjadi di rumah korban di Dusun Batulumbang, Desa Gulingan, Kecamatan Mengwi, Kabupaten Badung, pada 18 Desember 2013. Seperti diberitakan berbagai media saat itu, Hasil penyelidikan polisi mengungkap motif pelaku karena jengkel tidak diberi uang. Polisi saat itu menduga Radiana sebagai pengguna narkoba dan uang yang diminta untuk dibelikan narkoba. Karena permintaannya tidak dipenuhi, korban dan pelaku terlibat percekcokan. Karena kalap, Radiana pun menikam ayahnya dengan pisau hingga tewas. 

Dua peristiwa itu terjadi akhir tahun 2013. Hampir delapan tahun kemudian, kasus anak membunuh ayah kandungnya kembali terjadi. Kali ini datang dari Buleleng. Banyak orang Bali mengelus dada, prihatin karena kasus semacam itu terulang lagi. Sebagian mencoba mengusut-usut mengapa seorang anak sampai tega membunuh ayah kandungnya sendiri. Pertanyaan yang tak mudah dijawab, memang. Tapi, tentu banyak yang berdoa agar di masa depan tak ada lagi kasus percekcokan antara orang tua dan anak yang berujung pembunuhan. Kabar peristiwa semacam ini benar-benar memilukan hati siapa pun yang membacanya. (b.)

_________________________________ 

Penyunting: KETUT JAGRA

http://feeds.feedburner.com/balisaja/pHqI
Artikel ini telah dibaca 96 kali

badge-check

Redaksi

Baca Lainnya

Mategepan, Wimbakara Bulan Bahasa Bali ring SMA Paris Klungkung

27 Februari 2026 - 15:12 WITA

Isyarat Regenerasi dari Lomba Musikalisasi Puisi Bali

17 Februari 2026 - 22:31 WITA

Ketika Suara Remaja Membuat Juri Lagu Pop Bali Menangis di Ksirarnawa

16 Februari 2026 - 22:37 WITA

Janggal dan Tengal: Ketika AI Masuk ke Cerpen Bali

15 Februari 2026 - 21:45 WITA

Ketika Presiden Soroti Sampah Pantai Kuta, Jangan Lupakan Amanat UU Pengelolaan Pesisir

5 Februari 2026 - 06:02 WITA

Aksara Bali Naik Kelas, Dari Panggung Budaya ke Etalase Produk

1 Februari 2026 - 22:32 WITA

Trending di Bali Jani