Menu

Mode Gelap
Ketika Suara Remaja Membuat Juri Lagu Pop Bali Menangis di Ksirarnawa Janggal dan Tengal: Ketika AI Masuk ke Cerpen Bali Aksara Bali Naik Kelas, Dari Panggung Budaya ke Etalase Produk Jadikan Semangat Perang Kusamba Inspirasi Menjaga Warisan Budaya Nyepi Segara HARSA: Harmoni Paris Berkarya Warnai HUT ke-41 SMA Paris Klungkung

Desa Mawacara · 16 Mei 2021 21:18 WITA ·

Gong Beri, Gamelan Perang dari Renon


					Gong Beri, Gamelan Perang dari Renon Perbesar

Oleh: I MADE SUJAYA

Gong Beri dalam suatu upacara. (balisaja.com/repro:baliwww.com)

Desa Pakraman Renon, Denpasar, memiliki dua situs bernilai historis tinggi: Tari Baris Cina dan Gong Beri. Tari Baris Cina diiringi dengan gamelan Gong Beri. Karena itu, kedua situs ini tak bisa dipisahkan.

Tari Baris Cina dan Gong Beri merupakan kesenian yang disakralkan. Tari Baris Cina diiringi Gong Beri hanya dipentaskan saat-saat tertentu, pun di tempat-tempat tertentu. Misalnya, saat piodalan di pura atau pun saat ada krama yang masesangimementaskan Tari Baris Cina dan Gong Beri.

Sejumlah pura yang biasanya menjadi tempat pelaksanaan pementasan tari Baris Cina yakni Pura Dalem Renon, Pura Desa Renon, Pura Puseh Renon, Pura Kahyangan, Pura Bale Agung, Pura Maospahit Renon serta di Pura Baris Cina. Selain sejumlah pura di wilayah Desa Pakraman Renon, tari Baris Cina juga dipentaskan di Pura Blanjong Sanur, Pura Besakih (saat ada bawos), Pura Petitenget (Badung), Pura Mertasari Sanur, Pantai Sagara Sanur serta Geria Delod Peken Sanur.

Hendra Santosa dalam tesisnya di Program Studi Seni Pertunjukan dan Seni Rupa Jurusan Ilmu-ilmu Humaniora Universitas Gadjah Mada (2002) berjudul “Gamelan Gong Beri di Renon: Sebuah Kajian Historis dan Musikologis” memaparkan instrumen gamelan Gong Beri dapat dikelompokkan ke dalam instrumen aeropon, idiopon dan membranopon. Kelompok instrumen aeropon adalah sungu. Yang termasuk kelompok idiopon yakni gong beri dua buah yaitu ber dan bor/bar, tawa-tawa ageng, tawa-tawa alit, kempli atau pu, kajar, bebende, klenang dan cengceng. Instrumen beduk termasuk kelompok membranopon.

Sebagai gamelan pengiring Tari Baris Cina, Gong Beri memiliki sejarah yang panjang. Awalnya, Gong Beri diyakini sebagai gamelan perang yang biasanya dibawa raja saat berperang. Dalam Kidung Ranggalawe disebutkan Raja Majapahit Raden Wijaya keluar, bheri dan cangka dibunyikan. Data ini, menurut Hendra Santosa, menunjukkan gamelan Gong Beri adalah sebagai gamelan yang dibunyikan pada saat akan berperang juga dalam peperangan itu sendiri.

Tari Baris Cina sendiri secara nyata menggambarkan peperangan antara penari Baris Selem dan Baris Putih. Tari Baris memang merupakan personifikasi prajurit yang bakal berangkat berperang. Pada zaman kerajaan Majapahit, Tari Baris disebut-sebut telah ada, hanya belum jelas bentuk tari itu. Saat pemakaman Raja Hayam Wuruk dipertunjukkan tujuh macam tari bebarisan.

Hendra menduga perubahan fungsi gamelan Gong Beri dari gamelan perang ke gamelang pengiring tarian terjadi saat pemerintahan Dhalem Waturenggong. Memang, masa pemerintahan Dhalem Waturenggong disebut-sebut sebagai zaman keemasan Bali terutama di bidang kesenian dan kebudayaan.

Ihwal adanya Gong Beri di Renon sendiri masih belum jelas benar. Hanya cerita para panglingsiryang diwarisi generasi Renon kini. Yang paling populer tentu saja legenda I Regan dan I Regin yang juga berkaitan dengan asal-usul Desa Renon.

I Regan yang berasal dari Jawa diperintahkan oleh rajanya untuk membujuk agar Raja Bali yang memeluk agama Budha mau memeluk agama Siwa. I Regan berangkat ke Bali menaiki perahu dengan membawa tentara sebanyak 74 orang dengan segala perlengkapan termasuk Gong Beri.

I Regan dan pasukannya itu mengalami musibah dalam perjalanan hingga mereka terdampar di Belah Jung (Belanjong kini) dengan hanya 14 orang yang tersisa. Di Belanjong kemudian mereka tinggal. Namun, musibah kembali menerpa tempat tinggal mereka hingga akhirnya mereka pindah ke sebuah tempat yang kemudian diberi nama Rena yang lama-kelamaan menjadi Renon. Gong Beri yang mereka bisa selamatkan pun ikut dibawa ke tempat tinggalnya yang baru.

Namun, musibah ternyata tiada surut menghantam. Mereka jatuh miskin. Segala yang dimiliki pun dijual termasuk Gong Beri. Gong Beri itu dijual ke Sesetan. Perkampungan Renon sendiri tidak lagi ditinggali, sebagian pindah ke Cemenggon, sebagian ke Cerancam dan sebagian lagi ke Yang Batu.

Sementara masyarakat Sesetan yang membeli Gong Beri mengalami kejadian buruk. Saat pertunjukan Gong Beri, ternyata ada yang meninggal. Kejadian ini berulang kali muncul. Dari kejadian ini, diputuskan untuk menyimpan Gong Beri di Abian Kapas.

Di Abian Kapas, Gong beri dipakai mengiringi upacara perkawinan. Ternyata, usai upacara itu, pengantin meninggal atau pun bercerai. Selalu terjadi seperti itu.

Para tetua Renon sendiri mendengar kejadian-kejadian aneh itu. Akhirnya, mereka datang ke Abian Kapas untuk meminta kembali Gong Beri itu. Gong beri itu kemudian disucikan masyarakat Renon dan dibuatkan tarian berupa Tari Baris Cina. (b.)

_________________________________ 

Penyunting: KETUT JAGRA

http://feeds.feedburner.com/balisaja/pHqI
Artikel ini telah dibaca 596 kali

badge-check

Redaksi

Baca Lainnya

Jadikan Semangat Perang Kusamba Inspirasi Menjaga Warisan Budaya Nyepi Segara

5 November 2025 - 20:53 WITA

“Masayut Tipat”, Sucikan Diri Songsong Era Baru

28 Maret 2025 - 21:08 WITA

Cegah Bhuta Kala, Warga Pupuan Pasang “Empegan” di Gerbang Rumah

28 Maret 2025 - 18:12 WITA

Nyepi untuk Semua

28 Maret 2025 - 14:47 WITA

Ogoh-Ogoh dan Persatuan Gerak Generasi Muda

28 Maret 2025 - 14:23 WITA

Siap-siap Tangkil, Usabha Pitra di Pura Dalem Puri Besakih Dimulai Hari Ini

28 Januari 2025 - 11:06 WITA

Trending di Segara Giri