Menu

Mode Gelap
Jejak Ki Pasek Badeg, Keturunan Pasek dan Prasanak Puseh Pelajaran Bahasa Bali, Menggali Kuburan Kata-kata Nyoman Weda Kusuma: Dari Tukang Sapu Pasar ke Guru Besar Usai Ngeroras, Desa Adat Kusamba Nuntun ke Goa Lawah dan Besakih Upacarai 223 Puspa, Ngeroras di Kusamba Dihadiri Ribuan Krama

Bali Jani · 8 Feb 2020 14:15 WITA ·

Bila Generasi Milenial Melawak Menggunakan Bahasa Bali


					Bila Generasi Milenial Melawak Menggunakan Bahasa Bali Perbesar

Salah satu kelompok siswa peserta lomba satua banyol serangkaian Pekan Generasi Sadar Aksara (Parasara) yang digelar Yayasan Penggak Men Mersi, Sabtu (8/2). 

Salah satu hambatan penguasaan bahasa Bali di kalangan anak-anak dan remaja Bali, yakni kesan serius dan kuno. Di mata generasi milenial, bahasa Bali tidak hanya dirasakan sulit karena banyak kosa kata yang tak segera bisa dipahami maknanya, melainkan juga identik dengan hal-hal yang berbau spiritual dan tua.
Padahal, bahasa Bali bisa digunakan untuk suasana santai dan bahkan menghibur. Jika dalam tradisi sastra Indonesia dikenal genre cerita jenaka, sastra Bali juga memiliki satua banyol. Ini cerita-cerita lucu khas Bali dengan tokoh-tokoh yang karakternya unik.
Penggak Men Mersi, sebuah yayasan kebudayaan yang bermarkas di Jalan WR Supratman 169 Denpasar, mencoba memanfaatkan potensi satua banyol dalam sastra Bali untuk mengenalkan dan mendekatkan bahasa Bali di kalangan generasi milenial dengan menggelar pawimba(lomba) satua banyol. Lomba digelar bekerja sama dengan Dinas Pendidikan dan Pemuda dan Olah Raga Kota Denpasar dengan tema “Malajah Mabasa Bali Mapiranti Masatua Bali, Belajar Berbahasa Bali Melalui Mendongeng Bali”.
Peserta lomba masatua banyol diwajibkan menyajikan sebuah garapan pertunjukan drama lucu yang sumber ceritanya dapat digali dari cerita atau satua Bali yang telah ada atau pun dengan membuat cerita barfu. “Masing-masing peserta menyajikan garapan dengan durasi 5 sampai 10 menit. Personel dibatasi antara 3—5 orang dengan iringan musik live atau playback.
Lomba dirangkai dalam kegiatan Pekan Generasi Sadar Aksara itu pun direspons baik oleh sekolah-sekolah menengah pertama (SMP) di wilayah Kota Denpasar. Tiga belas kelompok siswa dari 13 SMP di Kota Denpasar pun tampil dengan kreativitas mereka masing-masing.
Sejumlah satua yang dipilih para peserta antara lain, “Cupak Grantang”, “Pan Balang Tamak”, “I Lutung lan I Kakua” hingga “Lomba Desa”. Berbagai kisah lucu itu disajikan dalam bentuk dramatisasi yang menarik dengan iringan gamelan dan musik. Mereka berhasil menyajikan kisah-kisah lucu itu menjadi lebih segar hingga membuat penonton yang hadir terpingkal-pingkal.
Memang, penampilan para pelawak cilik itu belum sempurna betul. Namun, setidaknya mereka mulai menyenangi bahasa Bali sebagai medium berkomunikasi. Melalui dialog-dialog yang mengundang gelak tawa, para siswa SMP itu bakal terbiasa berbahasa Bali dalam suasana yang santai dan penuh tawa.  
Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olah Raga Kota Denpasar, I Wayan Gunawan,  usai membuka secara resmi mengungkapkan apresiasi terhadap ajang Parasara, terutama lomba satua banyol.  “Kegiatan ini untuk memperkenalkan bahasa Bali di kalangan milenial, sehingga tidak lupa dengan bahasa ibu,” kata Gunawan.
Salah seorang anggota dewan juri, Adi Siput mengatakan penampilan anak-anak dalam lomba sudah baik. Para peserta berhasil membangun kesan awal dan kesan akhir, sehingga membuat petunjukan itu menarik. Jika mau jujur, semua peserta itu akan menjadi generasi pelawak Bali. 
“Ajang ini sebagai cara untuk mengajak generasi muda mulai memakai bahasa Bali dalam komunikasi sehari-hari,” ungkapnya.
Kelian Penggak Men Mersi, Kedek Wahyudita mengatakan bahasa Bali menjadi unsur kebudayaan yang sangat penting untuk dilestarikan, namun belakangan ini, di sekolah bahasa Bali mulai dianggap sebagai mata pelajaran yang sulit, bahkan lebih sulit dari Bahasa Inggris. Itu sebabnya, pihaknya mengajak generasi muda untuk terbiasa menggunakan bahasa Bali lewat acara ini.
Dewan juri memutuskan SMP Wisata Sanur sebagai juara I, disusul SMP Negeri 1 Denpasar sebagai juara II, dan Juara III  diraih SMP Negeri 3 Denpasar.
___________________________________________  
Teks dan Foto: Made Radheya

http://feeds.feedburner.com/balisaja/pHqI
Artikel ini telah dibaca 23 kali

badge-check

Redaksi

Baca Lainnya

Jejak Ki Pasek Badeg, Keturunan Pasek dan Prasanak Puseh

1 Oktober 2022 - 07:27 WITA

Usai Ngeroras, Desa Adat Kusamba Nuntun ke Goa Lawah dan Besakih

4 September 2022 - 09:52 WITA

Upacarai 223 Puspa, Ngeroras di Kusamba Dihadiri Ribuan Krama

31 Agustus 2022 - 12:40 WITA

Upacarai 185 Sawa, 48 Patulangan Diarak Menuju Setra

19 Agustus 2022 - 08:50 WITA

Patung Angsa Terbesar di Indonesia Jadi Ikon Bendungan Tamblang

8 Agustus 2022 - 18:20 WITA

Pascapandemi, LPD Kedonganan Mantapkan Transformasi Tata kelola dan Kaderisasi

6 Agustus 2022 - 16:40 WITA

Trending di Bali Jani