Menu

Mode Gelap
Tumpek Landep: Mengasah Senjata Paling Tajam dalam Hidup Siapkan “BMW” untuk Siswa, SMA Paris Gelar Ujian Kepariwisataan Mategepan, Wimbakara Bulan Bahasa Bali ring SMA Paris Klungkung Isyarat Regenerasi dari Lomba Musikalisasi Puisi Bali Ketika Suara Remaja Membuat Juri Lagu Pop Bali Menangis di Ksirarnawa

Bali Jani · 2 Sep 2018 15:18 WITA ·

Mendengar Kegelisahan Ibu


					Mendengar Kegelisahan Ibu Perbesar

Dari Ajang Pentas 11 Ibu 11 Panggung 11 Kisah


Jumat (31/8) malam, “Pentas 11 Ibu 11 Panggung 11 Kisah” yang digagas Komunitas Mahima Singaraja kembali mengadakan pementasan ketiga. Pentas ketiga ini menampilkan seorang ibu bernama Hermawati yang membawakan lakon berjudul “Kawitanku Langit Luas Tak Terbatas”. Sedikit berbeda dengan pementasan sebelumnya, pentas ketiga ini digelar di sebuah panggung pemakanan keluarga China.
Pemakaman itu milik keluarga keturunan Liem Liang An yang menjadi salah satu kapitan China pertama yang hidup di Buleleng. Pemakaman ini menjadi bagian dari rumah utama.
Kawitanku adalah Langit Luas Tak Terbatas” berbicara tentang kegelisahan mencari dan menemukan rumah menjadi isu sentral pementasan ini. Isu lain adalah identitas diri, spiritualitas dan soal-soal eksistensialisme manusia.


“Jika kamu bertanya padaku, aku orang apa, aku akan membutuhkan beberapa saat untuk menjawab. Aku orang apa. Kulitku kuning, namun aku bukan China, bukan Jawa, juga bukan Bali sepenuhnya. Aku lahir di Jawa, dari keturunan China, menikah dengan orang Bali. Intinya, aku orang Indonesia. Jika kamu bertanya, apa agamaku, aku tak bisa langsung menjawab. Aku beragama ketulusan hati. Tuhanku adalah keikhlasan dan kejujuran pada diri sendiri.” Demikian kata pembuka dalam pentas ini.
Hermawati aktor yang lahir dalam dua budaya, dan dalam pencarian jati dirinya ia menemukan “rumah” sesungguhnya, rumah yang ia yakini, bukan rumah fisik namun rumah jiwanya. Pencarian ini sungguh panjang dan hampir sia-sia, namun ia tetap berjuang. Perjuangannya masih berlanjut dan belum berakhir.
Tujuan utama proyek “Pentas 11 Ibu 11 Panggung 11 Kisah” belajar mendengar ibu. Dalam ajang ini, para ibu berbagi pada audiens tentang isu dan kegelisahan mereka. Siapa pun, terutama seorang ibu barangkali punya kerinduan tentang mendengarkan dan didengarkan. Namun, realitas kadang berkata lain, ibu kadang jarang mendengarkan, atau jarang didengarkan. Seorang ibu sangat kompleks. Teater tumbuh di antara proses mendengarkan.
Kadek Sonia Piscayanti, sang sutradara menyatakan seorang ibu memiliki terlalu banyak isu yang menggantung di pundak mereka, sehingga seringkali mereka abai pada suara sendiri karena menganggap isunya tidak penting padahal sering menjadi beban pikiran.  Teater adalah ruang alternatif untuk bertemu dan saling mendengarkan. Pementasan bukanlah sebuah tujuan utama, namun berbagi cerita. Jika pada akhirnya pementasan menjadi sebuah sarana berbagi inspirasi, maka itulah dampak yang diharapkan, bahwa nilai-nilai yang selama ini diyakini sendiri, bisa menjadi perspektif baru bagi orang lain. Disini teater hadir sebagai media alternatif ‘pertemuan’ ide, persemaian cerita, dan pembentukan nilai baru. Menurut Sonia, teater sejatinya sebuah dokumentasi gagasan, pikiran dan visi, juga perspektif.
Seorang aktor dan aktivis teater dari Jakarta, Roy Julian, akhirnya mengakui bahwa proyek ini sangat organik dan orisinal serta menjadi sebuah tawaran ide baru dalam konteks teater Indonesia. Teater menjadi media berbagi dan media penyembuhan trauma atau healing. Roy yang menonton pentas kedua di rumah Mahima menambahkan, subjek ibu yang digarap dalam proyek ini merupakan simbol yang sangat dekat dengan kita. Siapa pun memiliki momen romantik dan mengharukan bersama ibu. Bahkan Ibu lekat menjadi simbol perjuangan. Memori kolektif terhadap ibu menjadi kesadaran bersama yang dibangun dalam pementasan. 
Pentas pertama dilaksanakan 24 Juli 2018 dengan aktor Erna Dewi di rumahnya sendiri dan pentas kedua dilaksanakan 12 Agustus 2018 dengan aktor Watik di rumah Belajar Komunitas Mahima. Proyek Pentas 11 Ibu 11 Panggung 11 Kisah merupakan salah satu proyek yang lolos sebagai hibah dari Ford Foundation melalui Cipta Media Ekspresi.
Adapun 11 ibu yang dilibatkan berasal dari berbagai kalangan, yaitu buruh bangunan, pembantu rumah tangga, PNS, guru, bidan, desainer, dokter yang seniman, penulis puisi, pembaca tarot, ahli tata rias, hingga profesor di perguruan tinggi. Mereka adalah Watik, Sukarmi, Erna Dewi, Cening Liadi, Ketut Simpen, Sumarni Astuti Dirgha, dr. Tini Wahyuni, Desak Putu Astini, Yanti Pusparini, Hermawati, dan Prof. Dr. Putu Kerti Nitiasih. (b.)

http://feeds.feedburner.com/balisaja/pHqI
Artikel ini telah dibaca 74 kali

badge-check

Redaksi

Baca Lainnya

Mategepan, Wimbakara Bulan Bahasa Bali ring SMA Paris Klungkung

27 Februari 2026 - 15:12 WITA

Isyarat Regenerasi dari Lomba Musikalisasi Puisi Bali

17 Februari 2026 - 22:31 WITA

Ketika Suara Remaja Membuat Juri Lagu Pop Bali Menangis di Ksirarnawa

16 Februari 2026 - 22:37 WITA

Janggal dan Tengal: Ketika AI Masuk ke Cerpen Bali

15 Februari 2026 - 21:45 WITA

Ketika Presiden Soroti Sampah Pantai Kuta, Jangan Lupakan Amanat UU Pengelolaan Pesisir

5 Februari 2026 - 06:02 WITA

Aksara Bali Naik Kelas, Dari Panggung Budaya ke Etalase Produk

1 Februari 2026 - 22:32 WITA

Trending di Bali Jani