Menu

Mode Gelap
Pelajaran Bahasa Bali, Menggali Kuburan Kata-kata Nyoman Weda Kusuma: Dari Tukang Sapu Pasar ke Guru Besar Usai Ngeroras, Desa Adat Kusamba Nuntun ke Goa Lawah dan Besakih Upacarai 223 Puspa, Ngeroras di Kusamba Dihadiri Ribuan Krama Benarkah Modal LPD dari Pemerintah?

Bali Tradisi · 23 Feb 2018 22:49 WITA ·

Tumpek Wayang: Pembelajaran Demokrasi ala Bali


					Pementasan wayang di televisi. Perbesar

Pementasan wayang di televisi.

Di tengah suasana hiruk-pikuk pemilihan kepala daerah (pilkada), pekan ini, orang Bali merayakan hari Tumpek Wayang. Ini hari istimewa, memang. Wuku Wayang ditandai orang Bali dengan laku penyucian diri melalui ritual bayuh oton. Di ujung wuku, pada Saniscara Kliwon, Sabtu (24/2), dilaksanakan ritual Tumpek Wayang.

Secara tradisional, Tumpek Wayang dimaknai sebagai hari pemuliaan kesenian. Perayaan Tumpek Wayang menunjukkan bagaimana Bali amat memuliakan kesenian.

Bali memang amat lekat dengan kesenian. Ketaqwaan orang Bali ditunjukkan dengan laku berkesenian. Nyaris tidak ada ritual keagamaan orang Bali yang tidak mendapat sentuhan kesenian. Bagi orang Bali, kesenian ibarat nafas, sesuatu yang tak terpisahkan dalam diri mereka.

Perihal Tumpek Wayang sebagai hari pemuliaan kesenian dapat dilacak dari nama lainnya sebagai Tumpek Ringgit. Hal ini berkaitan erat dengan pemahaan masyarakat Bali mengenai Tumpek Wayang sebagai upacara terhadap segala jenis reringgitan (dalam bahasa Jawa Kuna, ringgit berarti ‘wayang’).

Dalam lontar Sundarigama disebutkan, Tumpek Wayang sebagai pemujaan terhadap Sang Hyang Widhi Wasa dalam manifestasi sebagai Sang Hyang Iswara, penguasa dalam bidang kesenian. Dari sinilah muncul pemahaman mengenai Tumpek Landep sebagai hari kesenian ala Bali.

“Yang diupacarai saat Tumpek Wayang bukan hanya wayang, tapi juga gong, gender, angklung, saron, kentongan, dan benda-benda seni lain,” kata dosen Institut Hindu Dharma Negeri (IHDN) Denpasar, I Made Wiradnyana.

Barangkali karena berkaitan dengan upacara terhadap segala jenis benda-benda seni tabuh itulah lantas muncul pemaknaan baru terhadap Tumpek Wayang sebagai pembelajaran demokrasi ala Bali. Seni tabuh atau gamelan Bali yang melibatkan banyak unsur mencerminkan semangat keharmonisan dalam keberagaman. Keharmonisan melahirkan keindahan sehingga menghadirkan kepuasan di hati penonton.

Keharmonisan dalam gamelan Bali lahir dari perpaduan berbagai unsur yang beragam, berbeda-beda. Setiap unsur berperan sesuai porsi dan proporsinya (swadharma). Tidak ada yang lebih dominan karena semua berperan, semua berkontribusi. Manakala salah satu mendominasi yang lain, keharmonisan terganggu. Keindahan gamelan pun rusak. Renungan yang amat tepat di tengah masa-masa pilkada kini. (b.)

  • Penulis: I Ketut Jagra
Artikel ini telah dibaca 31 kali

badge-check

Redaksi

Baca Lainnya

“Nyaagang” di Klungkung, “Masuryak” di Tabanan: Tradisi Unik Hari Kuningan

18 Juni 2022 - 14:29 WITA

Magalung di Kampung: Sembahyang Subuh, Munjung ke Kuburan, Malali ke Pesisi

8 Juni 2022 - 16:31 WITA

Tiga Jenis Otonan dalam Tradisi Bali

26 Mei 2022 - 00:57 WITA

Tari Rejang: Warisan Bali Kuno, Simbol Keindahan dan Kesucian

4 Juni 2021 - 22:50 WITA

“Bahan Roras”, Pelaksana Harian Pemerintahan Adat di Tenganan Pagringsingan

2 Juni 2021 - 21:23 WITA

Makare-kare Tenganan Pagringsingan

Kancan Roras, Kepemimpinan Ulu Apad di Penglipuran

31 Mei 2021 - 21:53 WITA

Angkul-angkul Penglipuran
Trending di Desa Mawacara