Menu

Mode Gelap
Tumpek Landep: Mengasah Senjata Paling Tajam dalam Hidup Siapkan “BMW” untuk Siswa, SMA Paris Gelar Ujian Kepariwisataan Mategepan, Wimbakara Bulan Bahasa Bali ring SMA Paris Klungkung Isyarat Regenerasi dari Lomba Musikalisasi Puisi Bali Ketika Suara Remaja Membuat Juri Lagu Pop Bali Menangis di Ksirarnawa

Bali Jani · 9 Feb 2018 23:15 WITA ·

Desa Pakraman Kusamba Gelar “Karya Mamungkah” Pura Puseh lan Bale Agung


					Desa Pakraman Kusamba Gelar “Karya Mamungkah” Pura Puseh lan Bale Agung Perbesar

Krama Desa Pakraman Kusamba, Kecamatan Dawan, Klungkung kini sedang mayasa kirtimenyongsong karya mamungkah, tawur lebuh gentah, pedanan lan ngenteg linggih di Pura Puseh lan Bale Agung. Puncak karyadilaksanakan bertepatan dengan pujawalipada Buda Wage Ukir, 4 April 2018. Namun, rangkaian upacara sudah dimuai 1 Januari 2018 lalu.
Ketua Panitia, I Nengah Sumarnaya menjelaskan karyaini digelar karena upacara serupa terakhir di Pura Puseh-Bale Agung sudah dilaksanakan tahun 1992 atau 25 tahun lalu. Menurut petunjuk sulinggih dan berdasarkan lontar-lontar yang menjadi rujukan upacara keagamaan di Bali, dalam rentang waktu 25 tahun mesti dilaksanakan kembali karya mamungkah ngenteg linggih.


“Secara spiritual, upacara ini tentu bertujuan memohon karahayuan dan kasukertan jagat, khususnya di Desa Pakraman Kusamba. Secara sosiokultural, upacara ini memupuk dan mengukuhkan kembali ikatan kebersamaan dan kegotong-royongan krama,” kata Sumarnaya.
Hal senada diungkapkan Ida Pandita Mpu Jaya Acaryananda saat memberikan dharma wacana bagi panitia dan krama Desa Pakraman Kusamba, Minggu (28/1) lalu. Menurut Ida Pandita, karya sejenis ngenteg linggih secara simbolik merupakan upaya membangun kembali tatanan hidup yang lebih baik di desa pakraman. Penataan dilakukan dalam rentang waktu satu generasi. “Menurut sastra agama, ngenteg linggih dilaksanakan setidak-tidaknya dalam waktu 30 atau 33 tahun sekali. Desa Pakraman Kusamba terakhir melaksanakan karyaini tahun 1992, baru 25 tahun. Jadi sudah lebih awal sehingga suatu hal yang sangat baik,” kata Ida Pandita.
Ida Pandita menegaskan karya ngenteg linggihsebagai investasi menata kehidupan yang lebih baik membutuhkan partisipasi dan kontribusi positif semua krama sesuai kemampuan dan kompetensinya masing-masing. Karena melibatkan semua potensi yang ada di desa, dalam karya ngenteg linggih, krama mesti mengendalikan diri. Melaksanakan yadnya harus dilandasi sradha, tattwa, dan susila.
“Melaksanakan yadnya memang tidak boleh pamerih. Tapi, setelah yadnya, mesti ada perubahan,” ujar sulinggih yang juga dosen di Institut Hindu Dharma Negeri (IHDN) Denpasar.
Bendesa Desa Pakraman Kusamba, AA Gede Raka Swastika juga mengajak krama Desa Pakrama Kusamba mensukseskan karya melalui yasa kerti, baik dalam bentuk perilaku dengan jalan mulat sarira, maupun melalui upacara. “Seluruh krama Desa Pakraman Kusamba mesti bersama-sama ngastitiang agar karya ini berupa pikiran, perkataan dan tindakan yang baik dan suci agar tujuan utama karya untuk mewujudkan karahayuan dan karahajengan bisa tercapai,” kata Raka Swastika.
Sumarnaya menjelaskan karya mamungkah di Pura Puseh lan Bale Agung ini diperkirakan menelan biaya sekitar Rp 1,5 miliar. Hingga kini sudah banyak krama yang mempersembahkan punia berupa uang maupun sarana upakara, termasuk wewalungan.
Rangkaian upacara sudah dimulai 1 Januari 2018 lalu ditandai dengan mlaspas alit palinggih dan majaya-jayapanitia karya. Pada 16 Januari 2018 dilaksanakan matur piuning ring kahyangan tiga desa dan ngaturang pemiyut ringPura Basukihan lan Pura Penataran Agung Besakih. Nyukat genah nyuci pada 17 Januari 2018, nanceb taring dan wewangunan lainnya pada 19 Januari 2018, nuur tirtha sidakarya dan tirtha empul pada 31 Januari 2018 serta ngawit nyuci, mlaspas genah penyucian lan wewangunan serta macaru manca sata ring genah penyucian  pada 2 Februari 2018.

Berikutnya, pada 28 Maret 2018 akan dilaksanakan prosesi nedunang Ida Batara dan mapapada tawur labuh gentuh. Sehari kemudian, 29 Maret 2018 digelar tawur lebuh gentuh ring utama mandala, mendem padagingan, mlaspas agung, masupati pralingga, caru manca sanak madurga ring Bale Agung serta caru manca sata ring nista mandala. Sabtu, 30 Maret 2018 dilaksanakan nuur tirtha kahyangan jagat dan nuur tirtha Gunung Semeru. Minggu, 1 April 2018 digelar melasti ke segara dan prosesi Ida Batara mamasar. Selasa, 3 April 2018 dilaksanakan mapepada karya. Puncak karya pada Rabu, 4 April 2018. Pada 13 April 2018 digelar upacara penyenuk, makebat daun dan nangun ayu. Upacara panyineb dilaksanakan Minggu, 15 April 2018. Rangkaian upacara karyadiakhiri dengan maajar-ajar di Pura Goa Lawah pada 18 April 2018. (b.)
http://feeds.feedburner.com/balisaja/pHqI
Artikel ini telah dibaca 73 kali

badge-check

Redaksi

Baca Lainnya

Mategepan, Wimbakara Bulan Bahasa Bali ring SMA Paris Klungkung

27 Februari 2026 - 15:12 WITA

Isyarat Regenerasi dari Lomba Musikalisasi Puisi Bali

17 Februari 2026 - 22:31 WITA

Ketika Suara Remaja Membuat Juri Lagu Pop Bali Menangis di Ksirarnawa

16 Februari 2026 - 22:37 WITA

Janggal dan Tengal: Ketika AI Masuk ke Cerpen Bali

15 Februari 2026 - 21:45 WITA

Ketika Presiden Soroti Sampah Pantai Kuta, Jangan Lupakan Amanat UU Pengelolaan Pesisir

5 Februari 2026 - 06:02 WITA

Aksara Bali Naik Kelas, Dari Panggung Budaya ke Etalase Produk

1 Februari 2026 - 22:32 WITA

Trending di Bali Jani