Menu

Mode Gelap
Integrasi Literasi dalam Pembelajaran dan Digital Kultur: Workshop Literasi-Numerasi SMPN 1 Selemadeg Timur Tunduk Pada Pararem, LPD Kedonganan Terapkan Laporan Keuangan Adat Bebantenan, Cara Manusia Bali Menjaga Alam Semesta SMAN 1 Ubud dan SMAN 2 Semarapura Juarai Lomba Bulan Bahasa Bali di UPMI Bali Bulan Bahasa Bali VI Jalan Terus, Tapi di Hari Coblosan “Prai” Sejenak

BALI FIGUR · 26 Mar 2017 00:09 WITA ·

Rasta Sindhu, Pengarang Bali dengan Kisah Menggetarkan


					Rasta Sindhu, Pengarang Bali dengan Kisah Menggetarkan Perbesar

Kepengarangan Nyoman Rasta Sindhu tentu tidak bisa dibandingkan dengan pencapaian Chairil Anwar, sang pelopor Angkatan 45. Namun, kedua sastrawan Indonesia berbeda latar belakang etnis ini memiliki kemiripan kisah hidup: keduanya sama-sama mati muda saat prestasi kepengarangannya mulai diapresiasi. Chairil meningga pada usia belum genap 27 tahun, sedangkan Rasta Sindhu meninggal dalam usia belum genap 29 tahun.
Rasta Sindhu dilahirkan pada 31 Agustus 1943 di Denpasar dan merupakan pengarang yang berasal dari Desa Belok, Badung. Dia meninggal dunia pada 14 Agustus 1972, serta di-aben 17 Agustus 1972. Rasta Sindhu meninggalkan seorang istri bernama Wienarti dan tiga orang anak.

Nyoman Rasta Sindhu (Repro: Bentara Budaya Bali)
Sebagai sastrawan muda, Rasta Sindhu terbilang produktif pada masanya. Karya-karyanya berupa puisi dan cerpen tersebar di berbagai media massa nasional, seperti Mimbar Indonesia, Horison, Sinar Harapan, Basis, dan majalah Sastra. Namanya melambung di kancah sastra Indonesia manakala cerpennya “Ketika Kentongan Dipukul di Bale Banjar” yang dimuat di majalah Horison No.1 Th. IV Januari 1969 terpilih sebagai cerpen terbaik. Rasta Sindhu pun menerima Hadiah Sastra Horison. Di Bali, Rasta Sindhu juga meneria penghargaan Dharma Kusuma Madya dari Gubernur Bali, Ida Bagus Mantra.
“Penghargaan dari Horison menjadi momentum penting bagi kepengarangan Rasta Sindhu. Tak hanya namanya makin dikenal, karya-karyanya juga diperhitungkan dalam peta sastra Indonesia modern,” kata peneliti sastra dari Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Unud, Dewa Gde Windu Sancaya saat menjadi pembicara dalam kegiatan “Sandyakala Sastra” bertajuk “Rasta Sindhu dan Cerita Kita Kini”, di Bentara Budaya Bali, Gianyar, Jumat (24/3) malam.
Cerpen “Ketika Kentongan Dipukul di Bale Banjar” memang kisah menggetarkan yang menunjukkan pandangan dunia Rasta Sindhu tentang semangat humanisme yang harus dirawat setiap manusia. Melalui tokoh Gung Gde Lila, Rasta Sindhu mengajak pembacanya merenungkan makna kemanusiaan dan memuliakannya di atas segala perbedaan status sosial. Namun, Rasta Sindhu tampaknya menyadari relasi keluarga dan hubungan darah dalam tradisi Bali yang tak bisa diputus, seperti ditunjukkan melalui tokoh Sulastri yang bersama anaknya tetap menghadiri upacara pengabenan mertuanya, tanpa ditemani sang suami. Kendati begitu, relasi itu tetap tak boleh menodai nilai-nilai kemanusiaan.
“Dalam cerpen-cerpennya Rasta Sindhu selalu berpihak kepada kemanusiaan. Ini yang menyebabkan karya-karyanya menjadi kuat,” kata dosen sastra Indonesia Unud yang juga pengarang novel, Maria Matildis Banda dalam suatu kesempatan.
Kuatnya problematika kemanusiaan dalam “Ketika Kentongan Dipukul di Bale Banjar” tak pelak membetot perhatian para penikmat sastra Indonesia, terutama di Bali. Itu sebabnya, tak ada sastrawan dan penikmat sastra Indonesia di Bali yang tak membaca cerpen ini. Apalagi, cerpen ini berkali-kali juga digubah dan dipentaskan ke dalam pertunjukan drama modern. Akhir Oktober tahun lalu, Sanggar Tepi Siring pimpinan I Wayan Selat Wirata mementaskan cerpen ini di wantilan DPRD Badung.
Sayangnya, meski Rasta Sindhu diakui sebagai salah satu sastrawan penting dari Bali setelah I Gusti Nyoman Panji Tisna, hingga kini tak ada buku yang menghimpun puisi dan cerpennya. Kisah hidupnya pun belum banyak diungkap. Terlalu banyak pertanyaan yang belum terjawab tentang sosok Rasta Sindhu.
Sastrawan Gde Aryantha Soethama menilai cerpen-cerpen Rasta Sindhu umumnya tidak memiliki ending (akhir) cerita yang kuat. Tapi, cerpen-cerpennya begitu menggetarkan sehingga berkesan dan diingat orang. “Itu kekuatan Rasta Sindhu yang tidak banyak dimiliki pengarang Bali sekarang,” kata peraih Khatulistiwa Award tahun 2006 ini. (b.)

Teks: Sujaya
http://feeds.feedburner.com/balisaja/pHqI
Artikel ini telah dibaca 97 kali

badge-check

Redaksi

Baca Lainnya

Tunduk Pada Pararem, LPD Kedonganan Terapkan Laporan Keuangan Adat

26 Februari 2024 - 15:18 WITA

Bebantenan, Cara Manusia Bali Menjaga Alam Semesta

23 Februari 2024 - 23:22 WITA

SMAN 1 Ubud dan SMAN 2 Semarapura Juarai Lomba Bulan Bahasa Bali di UPMI Bali

17 Februari 2024 - 18:57 WITA

Bulan Bahasa Bali VI Jalan Terus, Tapi di Hari Coblosan “Prai” Sejenak

2 Januari 2024 - 22:14 WITA

Lewat Film “Home”, Sinematografer Bali Raih Nominasi Emmy Awards

15 Desember 2023 - 22:14 WITA

Gairah Berbahasa Bali Mesti Diikuti Pemahaman Mengenai “Anggah-ungguh Basa”

10 Desember 2023 - 22:32 WITA

Trending di Bali Jani